Desa Sulek, Krajan.id – Suasana Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, menjadi lebih semarak dari biasanya saat peringatan 17 Muharram 1447 H pada (14/7/2025).
Dalam momen istimewa ini, mahasiswa KKN 153 UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menggelar lomba permainan tradisional “Nyoon Gaddhang”, yang ternyata tak hanya menarik perhatian warga setempat, tetapi juga memikat hati turis asing asal Portugal yang kebetulan sedang berkunjung.
“Nyoon Gaddhang” adalah permainan tradisional khas Desa Sulek yang menguji ketangkasan dan keseimbangan peserta dengan memikul tempeh berisi beban sambil berjalan cepat. Kegiatan ini bukan hanya sekadar hiburan, namun juga sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Suasana semakin hidup ketika para wisatawan asing turut menikmati momen tersebut, mengambil gambar, tertawa bersama warga, bahkan berdialog langsung dengan mahasiswa mengenai makna budaya di balik permainan ini.
“Interesting to learn about different games that we haven’t studied before, with the local people and get to know about them. So it’s very nice and get to know the kids too,” ujar salah satu turis asal Portugal yang tampak antusias menikmati suasana dan kehangatan masyarakat lokal.
Menurut warga, kehadiran turis asing ini bukanlah bagian dari rencana acara, namun menjadi kejutan menyenangkan yang memperkaya pengalaman budaya di desa. Bagi mahasiswa KKN 153 UINSA, momen ini menjadi bukti nyata keberhasilan metode Asset-Based Community Development (ABCD) yang mereka terapkan, yaitu menggali potensi lokal dari dalam masyarakat sendiri.
Koordinator KKN 153 menyampaikan bahwa pendekatan ABCD menjadi kerangka utama dalam menyusun program kerja di Desa Sulek.
“Kami tidak membawa program jadi dari luar. Kami duduk bersama warga, mendengarkan cerita mereka, dan mengidentifikasi kekuatan lokal yang bisa dikembangkan. Lomba Nyoon Gaddhang ini adalah salah satu bentuk pemanfaatan aset budaya yang dimiliki masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan semacam ini memiliki nilai promosi budaya yang sangat besar, terutama ketika disaksikan langsung oleh wisatawan asing. Interaksi seperti ini memperkenalkan kearifan lokal desa ke dunia luar secara alami dan menyenangkan.
Tak hanya dari sisi budaya, kegiatan ini juga memunculkan peluang penguatan ekonomi lokal. Desa Sulek dikenal sebagai penghasil padi organik berkualitas tinggi di wilayah Bondowoso. Dengan meningkatnya eksposur desa melalui kunjungan wisatawan asing, potensi produk pertanian organik lokal pun turut terangkat ke permukaan.
Kolaborasi antara budaya dan potensi alam ini memperkuat posisi Desa Sulek sebagai desa yang siap menjadi bagian dari gerakan ekowisata berkelanjutan. Masyarakat desa pun menunjukkan antusiasme luar biasa.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut aktif dalam lomba dan menyambut para tamu asing dengan ramah. Beberapa warga bahkan mencoba bercakap dalam bahasa Inggris, menandakan semangat keterbukaan dan keingintahuan yang tinggi.
Kehadiran mahasiswa KKN turut menjembatani dialog antarbudaya ini, menjadi katalisator dalam pelestarian tradisi sekaligus penggerak semangat pemberdayaan masyarakat.
“Bagi kami, ini bukan hanya pengabdian. Ini tentang bagaimana budaya bisa menjadi pintu masuk menuju pembangunan yang berakar dan berkelanjutan,” ujar salah satu mahasiswa KKN 153.
Baca Juga: KKN 153 UINSA Kenalkan Kearifan Lokal Lewat Lomba Tradisional Bersama Warga dan Tamu Portugal
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembangunan desa tak harus selalu dimulai dari luar. Ketika potensi lokal dikelola dengan partisipatif dan kreatif, dampaknya dapat menjangkau jauh melampaui batas wilayah.
Desa Sulek, dengan tradisinya yang unik dan masyarakatnya yang terbuka, kini tampil di panggung global bukan sekadar sebagai objek wisata, tapi sebagai subjek yang aktif memperkenalkan identitasnya kepada dunia.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





