Cerpen Sumur Kembar

Sumber : AI GENERATED CHAT GPT
Sumber : AI GENERATED CHAT GPT

Hening malam mulai menyapa mata yang nampak redup. Bintang-bintang mulai berkeluaran seolah berlomba menampakkan cahaya yang paling terang. Cahaya bulan kian menyeimbangkan cahaya bintang.

Di langit bak pentas orkes tiada tanding. Gemerlap cahaya silih ganti menerangi semesta. Angin malam berhembus menusuk raga seorang pemuda bernama Bone. Laki-laki dengan tampang wajah yang kusam menandai kehidupan yang kelam dan rambut yang di kuncir menyerupai tiang bendera.

Bacaan Lainnya

Kaos oblong yang ia kenakan sebagai ciri khas dirinya sosok yang santai namun serius. Usianya yang menginjak lima belas tahun sudah cukup pantas mendengarkan huru-hara di desanya. Ia tinggal di sebuah pelosok desa yang bernama desa Timbun Tulang.

Desa tersebut berada di kaki bukit Getih Mili tepatnya diantara jurang-jurang yang membentang sekujur kaki-kaki bukit tersebut. Kehidupan di desa Timbun Tulang terkenal sangat aneh. Dengan kebiasaan penduduk yang sering memakan hewan-hewan liar tanpa dimasak seperti orang kesurupan. Lalu mereka membuang sisa-sisa tulang belulang sembarangan sesuka hati mereka.

Lama kelamaan tulang belulang itu menimbun semakin banyak sehingga desa tersebut dinamakan desa Timbun Tulang. Bone tinggal bersama neneknya. Kijah, namanya. Diumur yang hampir mencium bau kuburan, Kijah seperti remaja-remaja yang masih kuat.

Kesehariannya Kijah melalukan aktivitas seperti remaja pada umumnya. Seperti berlari, bersepeda, berkebun bahkan Kijah tak sungkan untuk angkat beban sekalipun. Meskipun badannya sudah reyot, semangat Kijah tidak pernah pupus. Suami Kijah telah meninggal dunia saat Kijah sedang berburu hewan liar untuk makan malam.

Saat itu Bone belum lahir, dan kedua orang tuanya Bone belum bercerai. Hingga pada akhirnya Bone lebih memilih tinggal bersama neneknya daripada harus memilih tinggal diantara kedua orang tuanya. Katmo, nama suami Kijah yang dulunya diduga meninggalnya sangat tragis. Katmo meninggal di sebuah sumur peninggalan zaman penjajahan belanda. Dengan mayat yang menyisakan tulang belulang membuat Kijah meneteskan air mata di sisa-sisa tulang suaminya.

Kematian Katmo membuat geger penduduk Timbun Tulang. Berduyun-duyun penduduk mendatangi lokasi sumur kembar yang berada di seberang sungai Banyu Abang. Walaupun sangat jauh dari penduduk, sumur kembar memantik perhatian penduduk setempat untuk tidak mengambil air di sumur tersebut.

Pagi telah menyapa di pelosok desa yang masih terlelap oleh embun.  Matahari perlahan merayap dari balik pohon mahoni untuk menggantikan gelap malam dengan cahaya keemasan. Bone merapikan tempat tidurnya dan bergegas sarapan lalu berangkat sekolah.

Sekolah Bone lumayan jauh dari rumahnya. Ia harus naik turun bukit sesekali dibuat takjub dengan penampakan sumur kembar yang berada di seberang sungai. Pemuda dengan rambut dikuncir seperti tiang bendera itu pun berangkat dengan ketiga temannya.

Siti, Rais dan Rois si kembar yang selalu keren di tengah masyarakat desa yang hidup sederhana. Mereka duduk di bangku 3 SMP. Sepulang sekolah Bone dan ketiga temannya diisukan dengan sumur kembar yang berada di seberang sungai Banyu Abang. Rais dan Rois seorang pemuda rantauan dari kota bersikeras ingin melihat sumur kembar tersebut.

“Bon, sepulang sekolah antarkan aku ke sumur kembar di seberang sungai ya”, ucap Rais dengan ekspresi penuh semangat.

“Apa kamu sudah siap bertemu dengan hantu penghuni sumur kembar itu?”, ketus bone dengan ekspresi senyum sembari melirik ke arah Rois yang sedikit ketakutan.

“Kamu masih percaya juga dengan mitos hantu penunggu sumur kembar Bon?”, tanya Rais dengan meledek.

“Aku tidak percaya, karena menurutku itu hanya cerita orang-orang tua supaya anak-anaknya tidak bermain di tepi sumur.”, sahut Bone seolah penasaran dengan tawaran Rais untuk pergi ke sumur kembar.

Konon katanya penunggu sumur kembar di seberang sungai Banyu Abang sering membuat onar. Saat malam tiba suara geligik tawa seorang perempuan terdengar dari dalam sumur tersebut disaat orang-orang desa tengah melintasi jalan.

Selain itu juga ketukan pintu di malam hari yang membuat bulu kuduk berdiri saat mendengarkannya. Pernah desa Timbun Tulang mengalami kekeringan berbulan-bulan hingga tak ada air sedikitpun di sumur mereka. Lain lagi di sumur kembar tersebut, airnya tidak pernah surut dan jarang dilanda kekeringan.

Mitosnya jika penduduk mengambil air dari sumur kembar tersebut maka anak-anaknya akan mati mengenaskan seperti Katmo suami Kijah. Hingga penduduk memutuskan untuk tidak mengambil air di sumur tersebut dan menjadi larangan keras bagi penduduk desa Timbun Tulang.

Sepulang sekolah akhirnya Bone, Siti, Rais dan Rois menuju sumur kembar tersebut. Sebenarnya hati Siti menolak keras karena hal tersebut pantangan keras bagi anak-anak untuk tidak bermain di sekitar sumur kembar tersebut.

Merek menuruni menaiki bukit dengan sepeda diselingi geligik tawa sambil bercanda gurau, memecah ketakutan yang menjadi-jadi. Mereka sampai di sumur kembar tersebut, sekitar 100 meter sumur tersebut berada di depan mereka dengan tumbuhan yang menjalar di bibir sumur menambah kesan mistis. Seketika wajah Rais berubah menjadi ketakutan, sebab baru pertama kali ia melihat sumur kembar tersebut.

“Eh Rais, bukankah kamu yang bersikeras meliat sumur itu. Mengapa sekarang wajahmu malah menciut”, Bone meledek Rais sambil tertawa terbahak-bahak.

“Iya Rais, mengapa sekarang kamu seperti orang tengah melihat hantu sungguhan.”, siti menimpalinya dengan senyum penuh ekspresi.

“Ayo kita pergi dari sini sekarang”, Ucap Rais dan Rois seraya menaiki sepedanya tanpa menoleh kebelakang sedikit pun disusul Bone dan teman-temannya yang penuh keheranan dengan pemuda kota itu.

Mereka berhenti di sebuah gubuk tua yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari sumur tersebut. Bone dibuat keheranan dengan sikap laki-laki kembar itu. Keluar keringat bercucuran dari wajah mereka, seperti melihat sesuatu yang menyeramkan.

“Aku dan Rois baru saja melihat hantu perempuan kembar itu sumur itu. Wajahnya rusak parah, dan tangannya hilang sebelah. Badannya juga berlumuran darah seperti bekas pukulan.”, jelas Rais dengan napas tersengal-sengal.

“Iya benar yang dikatakan Rais. Aku juga melihatnya”, sahut Rois dengan napas tersengal-sengal pula.

Bone dan Siti dibuat keheranan dengan cerita Rais dan Rois. Seumur-umur tinggal di desa Bone belum pernah melihat hantu penunggu sumur kembar. Dan anehnya mengapa hanya Rais dan Rois saja yang mengetahui hantu tersebut.

Padahal mereka baru saja tinggal di desa belum ada satu tahun. Hal tersebut sontak membuat Bone bertanya-tanya dengan kejadian yang dialami teman kembarnya itu. Bone memutuskan untuk pulang menanyakan kejadian tersebut ke neneknya. Sebab kakeknya dulu adalah juru kunci sumur kembar tersebut.

Siapa tahu neneknya juga mengetahui seluk beluk sumur kembar itu. Siti, Rais dan Rois mengikuti Bone pulang, mereka juga penasaran dengan hantu penunggu sumur kembar tersebut. Sesampainya di rumah Bone melihat Kijah sedang napeni beras (membersihkan beras dari kotoran) dengan alunan kidung Jawa.

Tanpa basa basi Bone menanyakan hal ganjil itu kepada neneknya. Kijah dibuat cemas dengan cerita Bone dan temannya yang bermain di tepi sumur kembar.

Padahal pantangan bagi anak-anak untuk bermain di tepi sumur tersebut. Walaupun umur mereka sudah berumur lima belas tahun, penduduk menganggap bahwa umur kesekian masih anak-anak yang mana belum diperbolehkan bermain di tempat-tempat terlarang

“Di zaman penjajahan belanda, terdapat sepasang suami istri yang dikaruniai anak kembar. Namanya Yoan Roxanne Meichard dan Yoana Roxanne Meichard. Kecantikan si kembar mewarisi kecantikan Wening Rahayu istri dari Thomas Roxanne Meichard seorang laki-laki berkebangsaan Belanda.

Dianugerahi anak kembar merupakan kebahagiaan terbesar mereka setalah menikah puluhan tahun berlum dikaruniai seorang anak. Yoan dan Yoana tumbuh menjadi gadis yang cantik. Beberapa tahun setelah si kembar lahir, Thomas mengajak istrinya dan anaknya untuk pindah ke desa dikarenakan gencatan perang yang sangat membahayakan jika mereka terus tinggal di pusat kota.

Mereka tinggal di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk aktivitas penduduk. Rumah mereka terbelalak dengan hutan belantara dan hewan-hewan buas yang kapan saja siap menerkam mereka. Sumber air pun sulit mereka temui, hanya ada sumur tua berada di seberang sungai Banyu Abang.

Awalnya sumur itu tak semenakutkan sekarang, tumbuhan menjalar belum sepenuhnya menghiasi bibir sumur itu. Setiap petang Wening mengambil air di sumur tersebut ditemani oleh si kembar, Yoan dan Yoana. Beberapa bulan tinggal di desa tersebut, tempat tinggal mereka mampu dibobol oleh prajurit Jepang yang sedang distribusi pohon jati di tengah hutan.

Prajurit jepang mengenal dekat dengan Thomas Roxanne Meichard salah satu tawanan perang yang menjadi buronan mereka. Seluruh prajurit jepang mengepung kediaman Thomas dengan senjata senapan yang siap membidik kepala buronan tersebut. Mereka menemukan Thomas sedang bercengkerama dengan istrinya dan si kembar.

Menyisakan suara senapan yang bergantian meeepaskan peluru ke atas atap rumah membuat keluarga itupun histeris ketakutan. Thomas mengetahui siapa mereka, dan terjadilah pertempuran hebat di rumah tua itu. Akhirnya Thomas istrinya tertangkap dengan kepala berlumuran darah sedangkan Yoan dan Yoana melarikan diri menuju sumur.

Prajurit membututi si kembar dan tibalah kematian si kembar, prajurit menembakkan peluru di tangan si kembar sampai putus dan kepalanya berlumuran darah yang mengalir membasahi tubuhnya. Lalu mayat Yoan dan Yoana dibuang ke dalam sumur tersebut dan sumur itu dinamai Sumur Kembar”, jelas Kijah.

“Lalu mengapa hantu kembar itu menampakkan wujudnya padaku dan Rois?”, Ucap Rais dengan penuh keheranan.

“Mungkin karena hantu itu kembar dan hanya berani menampakkan wujudnya pada seseorang kembar atau karena hantu itu menyukaimu”, sahut Bone dengan geligik tawa membuat Rais dan Rois merasa kesal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *