Dari Kebun ke Kulit: Mahasiswa KKN UNS 93 Sosialisasikan Inovasi Body Scrub Kopi di Desa Sumberdem

Dokumentasi bersama pasca sosialisasi dan pembuatan body scrub berbahan dasar kopi. (doc. KKN 93 UNS)
Dokumentasi bersama pasca sosialisasi dan pembuatan body scrub berbahan dasar kopi. (doc. KKN 93 UNS)

Sumberdem, Krajan.id – Potensi kopi di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, terus dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas minuman, tetapi juga produk turunan bernilai tambah. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 93 memperkenalkan inovasi body scrub berbahan dasar kopi kepada masyarakat setempat.

Desa Sumberdem dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi karena letaknya di lereng Gunung Kawi dengan ketinggian sekitar 700–1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi tanah yang subur serta iklim yang sejuk menjadikan kawasan ini ideal untuk budidaya kopi. Tidak hanya menjadi komoditas pertanian unggulan, kopi juga mulai diarahkan sebagai basis pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Upaya tersebut sejalan dengan inisiatif pemerintah desa bersama masyarakat yang membentuk sejumlah kampung tematik. Salah satunya adalah Kampoeng Kopi yang berfokus pada pengolahan dan pengembangan produk berbasis kopi. Selain itu, terdapat pula Kampoeng Bunga, Kampoeng Ternak, Kampoeng Rosella, Kampoeng Lemon, Kampoeng Toga, Kampoeng KRPL, dan Kampoeng Deling.

Pembentukan kampung tematik ini bertujuan memperkuat identitas desa sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan partisipatif. Dalam praktiknya, masyarakat Kampoeng Kopi telah menghasilkan berbagai produk olahan seperti kopi bubuk dan pewangi ruangan berbahan dasar kopi.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN UNS mencoba menghadirkan inovasi baru yang dinilai relevan dengan tren pasar, yakni produk perawatan tubuh berupa body scrub kopi. Produk ini memanfaatkan bahan baku lokal yang mudah diperoleh, sekaligus memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan produk mentah.

Penanggung jawab program, Siti Putri Lestari, menjelaskan bahwa inovasi ini diharapkan dapat memperluas diversifikasi produk sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat.

“Inovasi ini diharapkan dapat memperluas diversifikasi produk Kampoeng Kopi serta meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Produk body scrub yang diperkenalkan terdiri atas campuran kopi, gula pasir, madu, dan minyak zaitun. Pemilihan bahan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan, keamanan, serta manfaat bagi kesehatan kulit.

Secara ilmiah, kopi mengandung kafein dan antioksidan yang bermanfaat untuk kulit. Kandungan tersebut dapat membantu mengurangi peradangan, melawan radikal bebas, serta mencerahkan kulit. Selain itu, tekstur butiran kopi berfungsi sebagai eksfoliator alami yang mampu mengangkat sel kulit mati dan membersihkan pori-pori.

Gula pasir juga berperan sebagai agen eksfoliasi yang efektif. Kandungan alami alpha-hydroxy acid (AHA) di dalamnya membantu proses regenerasi kulit sehingga permukaan kulit terasa lebih halus dan lembut. Sementara itu, madu berfungsi sebagai pelembap alami yang mampu mengunci kelembapan kulit serta memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri.

Adapun minyak zaitun berperan menjaga elastisitas kulit karena kaya akan vitamin A, vitamin E, dan asam lemak omega-3. Kombinasi bahan-bahan tersebut menghasilkan produk perawatan kulit yang tidak hanya alami, tetapi juga aman digunakan.

Kegiatan pelatihan pembuatan body scrub ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Februari 2026, di Sekretariat Kampoeng Kopi, Desa Sumberdem. Peserta yang terlibat didominasi perempuan, mulai dari ibu rumah tangga hingga remaja.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung pembuatan produk. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama proses pelatihan, mulai dari pencampuran bahan hingga pengemasan produk.

Program ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economic growth). Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan baru yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.

Selain memberikan nilai tambah secara ekonomi, inovasi ini juga memperkuat citra Kampoeng Kopi sebagai pusat produk kreatif berbasis kopi. Dengan adanya diversifikasi produk, masyarakat tidak lagi bergantung pada penjualan kopi dalam bentuk mentah atau bubuk saja.

Ke depan, mahasiswa KKN berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat. Dukungan dari pemerintah desa dan kolaborasi dengan berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program.

Langkah ini menjadi contoh konkret bagaimana pemanfaatan potensi lokal dapat dioptimalkan melalui pendekatan inovatif. Dari kebun hingga produk perawatan kulit, kopi Sumberdem kini tidak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan alami.

Dengan pengembangan yang berkelanjutan, Desa Sumberdem berpeluang menjadi model desa kreatif berbasis komoditas lokal yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *