Dari Tolangga ke Keluarga Sakinah, Implementasi Maqashid Syariah di Era Modern Gorontalo

Ilustrasi foto Tolangga dan Keluarga Gorontalo. (doc. pribadi)
Ilustrasi foto Tolangga dan Keluarga Gorontalo. (doc. pribadi)

Tolangga merupakan tradisi khas masyarakat Gorontalo yang hidup dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Wadah besar yang dihiasi aneka kue tradisional seperti kolombengi, cucur, dan wajik ini bukan sekadar ornamen seremonial. Tolangga merepresentasikan rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kolektif kepada Rasulullah ﷺ. Ia diarak, dipamerkan, lalu dinikmati bersama, menciptakan suasana religius yang sekaligus hangat dan meriah.

Dalam dimensi spiritual, Tolangga berfungsi sebagai medium kultural untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Prosesi shalawat, dzikir, serta penuturan kisah-kisah keteladanan Nabi menghadirkan nilai Islam secara konkret dalam ruang sosial.

Bacaan Lainnya

Anak-anak dan orang dewasa tidak hanya mendengar ajaran, tetapi mengalaminya secara langsung. Di tengah kuatnya arus media sosial dan budaya global, keterlibatan dalam tradisi semacam ini menjadi penanda penting bagi penguatan identitas religius dan budaya lokal, terutama bagi generasi muda.

Dari sisi sosial, Tolangga mempererat ikatan antarkeluarga dan antarwarga. Gotong royong dalam menyiapkan kue, menyusun dekorasi, hingga mengarak Tolangga menciptakan ruang perjumpaan yang intens. Proses ini menumbuhkan rasa saling percaya, empati, dan kepedulian.

Bagi keluarga, keterlibatan kolektif tersebut berkontribusi pada penguatan relasi domestik. Ketika kehidupan modern kerap membatasi interaksi pada ruang digital, pengalaman sosial yang nyata seperti ini menjadi fondasi penting bagi terbentuknya keluarga sakinah.

Aspek ekonomi juga tidak terpisahkan dari tradisi Tolangga. Setiap perayaan memerlukan kue, perlengkapan adat, dan dekorasi, yang membuka peluang bagi usaha mikro dan ekonomi keluarga. Banyak perempuan dan keluarga memanfaatkan momentum ini untuk menambah penghasilan.

Dalam konteks modernisasi yang menghadirkan tantangan persaingan pasar dan tuntutan keterampilan baru, Tolangga dapat dikembangkan sebagai ruang inovasi ekonomi berbasis budaya, misalnya melalui pengemasan kue tradisional yang lebih modern atau promosi digital tanpa menghilangkan nilai otentiknya.

Dalam ranah pendidikan anak, Tolangga memiliki daya tarik tersendiri. Bentuknya yang besar, warna-warni hiasan, serta aneka kue menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Anak-anak mengenal Rasulullah ﷺ dan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang akrab dengan dunia mereka, bukan melalui ceramah yang kaku. Di tengah dominasi gawai dan hiburan digital, Tolangga menawarkan alternatif pembelajaran berbasis budaya dan agama yang menumbuhkan kedekatan emosional sekaligus pemahaman nilai.

Lebih jauh, tradisi Tolangga sejalan dengan prinsip maqashid syariah. Ia menjaga agama (hifz ad-din) melalui shalawat dan dzikir, menjaga jiwa (hifz an-nafs) dengan menciptakan suasana damai dan harmonis, menjaga akal (hifz al-‘aql) melalui pendidikan karakter dan kreativitas anak, menjaga keturunan (hifz an-nasl) dengan pewarisan nilai-nilai Islami lintas generasi, serta menjaga harta (hifz al-mal) melalui penguatan ekonomi keluarga. Integrasi nilai-nilai tersebut menjadikan Tolangga bukan sekadar tradisi, melainkan instrumen sosial-religius yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Modernisasi menuntut pembaruan dalam cara menyampaikan nilai agama dan budaya. Dalam konteks ini, Tolangga dapat dikemas secara adaptif, misalnya dengan memadukan kue tradisional dan jajanan masa kini atau memanfaatkan media digital untuk dokumentasi dan edukasi. Inovasi semacam ini tidak mengaburkan substansi, justru memperluas jangkauan dan daya tariknya bagi generasi muda.

Tolangga juga berperan sebagai jembatan antara nilai leluhur dan tantangan kontemporer. Melalui tradisi ini, anak-anak tidak hanya belajar mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi juga mengembangkan kreativitas, keterampilan sosial, serta semangat kewirausahaan yang relevan dengan kehidupan modern. Nilai-nilai tersebut berkontribusi pada pembentukan keluarga yang tangguh secara spiritual, sosial, dan ekonomi.

Melestarikan Tolangga berarti merawat identitas kultural sekaligus memperkuat fondasi keluarga sakinah. Tradisi ini menghadirkan sinergi antara agama, budaya, pendidikan, dan ekonomi dalam satu ruang sosial yang hidup.

Di tengah perubahan zaman, Tolangga menunjukkan bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi, melainkan dapat berjalan beriringan untuk membangun kehidupan keluarga dan masyarakat yang bermakna.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *