Ferry Irwandi dan Ekonomi Empati: Menata Ulang Cara Menolong Warga di Tengah Banjir Sumatra

Empati, Kehadiran Langsung, dan Makna Solidaritas di Tengah Bencana. (tvOneNews)
Empati, Kehadiran Langsung, dan Makna Solidaritas di Tengah Bencana. (tvOneNews)

Banjir besar yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra menegaskan satu kenyataan penting: bencana tidak pernah sekadar soal kerusakan fisik. Ia juga menguji kepekaan sosial, kualitas solidaritas, serta cara negara dan masyarakat memandang warga terdampak. Rumah terendam, jalur transportasi terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh dalam hitungan jam. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran relawan yang turun langsung ke lapangan menjadi penyangga vital bagi warga yang kehilangan banyak hal sekaligus.

Di tengah situasi tersebut, Ferry Irwandi muncul sebagai salah satu sosok yang memilih hadir secara fisik di lokasi banjir. Ia tidak sekadar menyampaikan dukungan dari kejauhan, tetapi terlibat langsung dalam distribusi bantuan, evakuasi warga, serta pemetaan kebutuhan mendesak. Langkah ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa solidaritas sosial memperoleh maknanya justru ketika diwujudkan melalui tindakan konkret, bukan hanya pernyataan moral.

Bacaan Lainnya

Kehadiran langsung di lapangan memungkinkan Ferry menyaksikan kondisi warga tanpa perantara. Ia melihat bagaimana logistik sering kali tidak merata, bagaimana kebutuhan medis tertunda, serta bagaimana kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia kerap terpinggirkan dalam situasi darurat.

Dari pengalaman inilah pendekatan yang ia sebut sebagai ekonomi empati memperoleh relevansinya. Pendekatan ini berangkat dari kenyataan lapangan, bukan dari asumsi atau perhitungan administratif semata.

Ekonomi empati menempatkan kebutuhan riil warga sebagai dasar distribusi bantuan. Dalam banyak penanganan bencana, bantuan menumpuk di titik tertentu karena pertimbangan akses atau sorotan publik, sementara wilayah lain justru luput dari perhatian. Dengan turun langsung, Ferry bersama relawan berupaya memastikan bahwa bantuan bergerak cepat sekaligus tepat sasaran.

Ia berdialog dengan warga terdampak, mendengarkan keluhan mereka, dan menjadikan pengalaman warga sebagai rujukan utama dalam pengambilan keputusan. Pola ini menggeser posisi warga dari penerima pasif menjadi subjek yang suaranya menentukan arah bantuan.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan kritik implisit terhadap pola penanganan bencana yang terlalu birokratis. Ketika kebijakan disusun jauh dari lokasi terdampak, risiko salah sasaran menjadi besar. Ekonomi empati menawarkan koreksi dengan menekankan pentingnya kehadiran, pendengaran, dan respons yang lentur terhadap dinamika di lapangan. Ia tidak menafikan pentingnya sistem, tetapi menuntut agar sistem tetap berpihak pada manusia yang mengalami krisis secara langsung.

Selain kerja lapangan, Ferry memanfaatkan media sosial sebagai sarana pendukung aksi kemanusiaan. Informasi yang ia sampaikan berasal langsung dari lokasi banjir dan berfungsi membuka mata publik mengenai kondisi nyata warga.

Narasi yang dibangun tidak menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian, melainkan menyoroti urgensi kebutuhan warga dan keterbatasan yang mereka hadapi. Dengan cara ini, media sosial berfungsi sebagai perpanjangan tangan kerja kemanusiaan, bukan sebagai ruang pencitraan personal.

Apa yang dilakukan Ferry Irwandi memperlihatkan bahwa penanganan bencana menuntut kombinasi empati, kehadiran langsung, dan komunikasi yang bertanggung jawab. Pendekatan semacam ini tidak seharusnya berhenti pada inisiatif individu atau relawan.

Pemerintah dan pemangku kebijakan perlu menjadikannya refleksi bersama. Respons bencana yang cepat, manusiawi, dan berbasis kebutuhan warga semestinya menjadi standar kebijakan publik, bukan pengecualian yang bergantung pada figur tertentu.

Banjir di Sumatra mengingatkan bahwa efektivitas bantuan sangat ditentukan oleh kedekatan dengan realitas lapangan. Kebijakan yang lahir dari ruang rapat tanpa keterhubungan dengan pengalaman warga berisiko kehilangan relevansinya. Ekonomi empati menawarkan pelajaran penting bahwa mendengar dan hadir bukanlah tindakan simbolik, melainkan fondasi bagi penanganan krisis yang bermartabat.

Dari peristiwa ini, satu hal menjadi terang: empati bukan sekadar sikap moral, tetapi kekuatan sosial yang mampu menggerakkan sumber daya, membangun kepercayaan, dan memulihkan harapan. Ketika empati diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, solidaritas tidak lagi berhenti sebagai wacana, melainkan menjelma sebagai kerja bersama yang benar-benar dirasakan oleh warga terdampak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *