Tlogotirto, Krajan.id – Sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian warga Desa Tlogotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Namun, dominasi sistem sawah tadah hujan membuat aktivitas pertanian di wilayah ini sangat bergantung pada kondisi cuaca, yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim.
Ketidakpastian musim tanam tersebut kerap berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian, bahkan memicu risiko gagal panen. Menyikapi persoalan tersebut, di bawah bimbingan Dr. Amni Zarkasyi Rahman, S.A.P., M.Si., Ahli Governansi Publik FISIP UNDIP, Dzul Qarnain Widodo, mahasiswa Tim I KKN Universitas Diponegoro (UNDIP), menggagas program edukasi bertajuk Forecasting Curah Hujan atau peramalan hujan berbasis data klimatologi.
Program ini dilaksanakan pada Februari 2026 di Balai Desa Tlogotirto serta area persawahan setempat. Berdasarkan hasil observasi lapangan, Dzul menemukan bahwa sebagian besar petani masih menentukan pola tanam berdasarkan kebiasaan turun-temurun dan intuisi, tanpa dukungan analisis cuaca jangka menengah.
“Dengan kondisi iklim yang semakin tidak menentu, pendekatan tersebut menjadi berisiko. Hujan bisa datang terlambat, atau justru musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya,” ujar Dzul saat memaparkan materi kepada kelompok tani.
Ia menjelaskan, metode peramalan curah hujan yang diperkenalkan tidak dimaksudkan untuk menebak cuaca harian, melainkan memetakan pola hujan bulanan berdasarkan data historis klimatologi. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu petani mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur.
“Jika prediksi menunjukkan curah hujan berada di bawah normal, petani dapat menunda masa tanam padi atau beralih ke komoditas palawija yang lebih tahan kering. Ini penting untuk menekan risiko kerugian,” katanya.
Selain pemaparan teori, mahasiswa Teknik Industri UNDIP tersebut juga membagikan modul panduan praktis berupa kalender prediksi cuaca yang telah disesuaikan dengan karakteristik lokal Desa Tlogotirto. Modul ini dirancang agar mudah dipahami dan dapat digunakan langsung sebagai acuan perencanaan tanam.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya peningkatan literasi data cuaca di tingkat desa, sekaligus mendorong penerapan konsep pertanian adaptif terhadap iklim (climate-smart agriculture).
Ketua Kelompok Tani Wanita Desa Tlogotirto menyambut baik program tersebut. Ia menilai edukasi berbasis data sangat dibutuhkan, mengingat selama ini petani kerap mengalami kerugian akibat bibit yang mati karena kekeringan mendadak.
“Pendampingan seperti ini membuka wawasan kami. Petani jadi tidak hanya pasrah pada cuaca, tetapi bisa lebih siap dan berhitung sebelum menanam,” ujarnya.
Program KKN ini mencerminkan peran nyata kalangan akademisi dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat desa. Melalui pendekatan berbasis data dan kondisi lokal, Tim I KKN UNDIP berharap Desa Tlogotirto dapat berkembang menjadi desa agraris yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, mandiri secara ekonomi, dan adaptif dalam menghadapi tantangan sawah tadah hujan.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





