Inovasi Biopori Bambu, Upaya Mahasiswa KKN UNDIP Atasi Kekeringan di Desa Tlogotirto

Mahasiswa KKN melakukan pemasangan biopori bambu di lahan salah satu petani Desa TLogotirto. (doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN melakukan pemasangan biopori bambu di lahan salah satu petani Desa TLogotirto. (doc. Pribadi)

Sragen, Krajan.id – Menghadapi persoalan kekeringan dan pengelolaan sampah organik, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim 103 Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan solusi sederhana namun inovatif melalui program bertajuk Menabung Air dengan Biopori Bambu. Program tersebut dilaksanakan di Desa Tlogotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

Program ini dirancang untuk membantu masyarakat menjaga ketersediaan air tanah sekaligus mengelola limbah organik rumah tangga secara berkelanjutan. Inovasi tersebut memadukan konsep konservasi air dengan teknologi tepat guna yang mudah diterapkan di lingkungan perdesaan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini diinisiasi oleh Muhammad Henri Jahtanto, mahasiswa Program Studi Teknik Infrastruktur Sipil dan Perancangan Arsitektur, Sekolah Vokasi UNDIP, bersama tim KKN Desa Tlogotirto. Berbekal latar belakang keilmuannya, Henri memperkenalkan pemanfaatan bambu sebagai casing atau kerah pelindung lubang resapan biopori.

Menurut Henri, bambu dipilih karena mudah diperoleh di sekitar desa, berbiaya rendah, serta ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan bambu dinilai mampu menjaga stabilitas struktur lubang resapan agar tidak mudah runtuh.

“Konsep biopori bambu ini kami rancang agar bisa diterapkan secara mandiri oleh warga, tanpa ketergantungan pada material mahal,” jelasnya.

Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) dilakukan dengan spesifikasi teknis yang disesuaikan dengan kondisi tanah di Desa Tlogotirto. Tahapan pelaksanaannya meliputi pemotongan bambu sebagai pelindung mulut lubang, pembuatan lubang-lubang kecil pada batang bambu untuk jalur infiltrasi air, serta penggalian tanah secara vertikal menggunakan alat sederhana seperti cangkul dan linggis.

Bambu kemudian ditanam sebagai pelindung struktur lubang agar tidak mudah longsor. Tahap akhir dilakukan dengan mengisi lubang menggunakan sampah organik, seperti sisa daun dan limbah dapur rumah tangga. Sampah ini berfungsi sebagai pemicu aktivitas mikroorganisme tanah yang akan membentuk pori-pori alami sehingga daya resap air meningkat.

Penerapan biopori bambu tidak hanya bertujuan meningkatkan cadangan air tanah dangkal, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi sektor pertanian. Sampah organik yang terurai di dalam lubang akan menghasilkan kompos alami yang dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan lahan di sekitar pekarangan maupun kebun warga.

Wawancara bersama dengan Pak Suyono sebagai salah satu petani di Desa Tlogotirto. (doc. Pribadi)
Wawancara bersama dengan Pak Suyono sebagai salah satu petani di Desa Tlogotirto. (doc. Pribadi)

Salah satu warga Desa Tlogotirto, Suyono, menyambut positif program tersebut. Ia menilai inovasi biopori bambu mudah dipraktikkan dan sesuai dengan kondisi desa.

“Alhamdulillah, biopori bambu dari mahasiswa KKN ini sangat membantu. Bahannya mudah dicari karena bambu banyak di sekitar desa. Sekarang kami jadi tahu cara ‘menabung air’ supaya pekarangan dan tanaman jagung tidak cepat kering saat musim kemarau,” ujarnya.

Program kerja mahasiswa KKN UNDIP ini diharapkan dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat, baik di lingkungan rumah tangga maupun area pertanian. Dengan konsep yang sederhana, ekonomis, dan berkelanjutan, biopori bambu dinilai menjadi solusi lokal yang efektif untuk menghadapi ancaman kekeringan di wilayah pedesaan.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *