Inovasi Tempat Sampah Otomatis Berbasis Mikrokontroler, Upaya KKM 56 UNTIRTA Dorong Kesadaran Lingkungan di Desa Domas

Seorang mahasiswa KKM menyampaikan materi. (doc. pribadi)
Seorang mahasiswa KKM menyampaikan materi. (doc. pribadi)

Domas, Krajan.id – Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) kembali menghadirkan inovasi berbasis teknologi yang menyentuh langsung persoalan masyarakat desa. Melalui KKM 56 yang ditempatkan di Desa Domas, mahasiswa lintas fakultas merancang dan menerapkan tempat sampah otomatis berbasis mikrokontroler sebagai solusi atas rendahnya kesadaran warga dalam mengelola sampah.

Program KKM UNTIRTA dilaksanakan selama kurang lebih 30 hari sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan yang diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sosial dan lingkungan di desa lokasi pengabdian.

Bacaan Lainnya

Kelompok KKM 56 Desa Domas merupakan gabungan mahasiswa dari berbagai fakultas yang ditempatkan untuk mengidentifikasi persoalan desa dan merancang program kerja sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Dari hasil observasi awal, persoalan lingkungan menjadi isu utama yang ditemukan di Desa Domas, terutama kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan.

Sungai yang mengalir di sepanjang permukiman warga kerap dijadikan tempat pembuangan sampah rumah tangga. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan pencemaran lingkungan jangka panjang. Minimnya fasilitas pendukung serta rendahnya kesadaran perilaku hidup bersih menjadi tantangan utama yang dihadapi.

Berdasarkan permasalahan tersebut, KKM 56 Desa Domas menyusun sejumlah program kerja, baik program utama maupun pendukung. Salah satu program pendukung yang dinilai strategis adalah pembuatan tempat sampah otomatis berbasis mikrokontroler, yang menggabungkan pendekatan teknologi dengan edukasi perilaku lingkungan.

Sejumlah siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan sosialisasi edukatif yang diselenggarakan mahasiswa KKM di ruang kelas. (doc. pribadi)
Sejumlah siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan sosialisasi edukatif yang diselenggarakan mahasiswa KKM di ruang kelas. (doc. pribadi)

Program ini dirancang untuk meningkatkan minat masyarakat agar mau membuang sampah pada tempatnya melalui pengalaman baru yang memanfaatkan teknologi. Modernisasi fasilitas publik diharapkan mampu memantik rasa penasaran, ketertarikan, sekaligus kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Pembuatan tempat sampah otomatis berbasis mikrokontroler dikerjakan oleh tim mahasiswa dari Fakultas Teknik UNTIRTA. Tim ini diketuai oleh Ferdinan Kurniawan sebagai penanggung jawab utama, dengan anggota Nova Aldi Prasetyo, Ahmad Roby Surya, Muhamad Afandi, Rifky Fitriadi Putra, dan Marrion Nadeta Putri.

Alat tersebut dirancang menggunakan kombinasi beberapa komponen elektronika, antara lain sensor ultrasonik, servo motor, dan mikrokontroler Arduino yang terintegrasi melalui rangkaian kabel pada Printed Circuit Board (PCB). Seluruh sistem dikendalikan oleh pemrograman berbasis bahasa C++ Arduino yang diolah menggunakan perangkat lunak Arduino IDE.

Cara kerja alat ini relatif sederhana namun fungsional. Sensor ultrasonik berperan mendeteksi keberadaan objek atau orang di depan tempat sampah dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi. Ketika gelombang tersebut memantul kembali ke sensor akibat adanya objek di depannya, sistem akan mengidentifikasi keberadaan pengguna.

Sinyal dari sensor kemudian dikirimkan ke mikrokontroler sebagai pusat kendali sistem. Mikrokontroler yang telah diprogram akan memerintahkan servo motor untuk bergerak membuka tutup tempat sampah secara otomatis.

Dalam kondisi terbuka, tempat sampah siap digunakan oleh masyarakat tanpa harus disentuh secara manual. Setelah sampah dibuang dan tidak ada lagi objek yang terdeteksi, tutup tempat sampah akan menutup kembali secara otomatis.

“Teknologi ini sederhana, tetapi kami berharap mampu memberikan pengalaman baru bagi masyarakat, terutama dalam membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya,” ujar Ferdinan Kurniawan.

Dari hasil perakitan dan pengujian, tim Fakultas Teknik UNTIRTA berhasil memproduksi tiga unit tempat sampah otomatis yang dinyatakan berfungsi dengan baik setelah melalui tahapan quality control. Ketiga unit tersebut kemudian disalurkan kepada pihak-pihak yang dinilai strategis di Desa Domas.

Dua lokasi utama yang menjadi sasaran penyaluran adalah SDN Cerocoh dan Kantor Desa Domas. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Menurut tim KKM 56, edukasi perilaku lingkungan perlu dimulai sejak usia dini agar terbentuk kebiasaan jangka panjang.

Namun, penyerahan alat tidak dilakukan secara simbolis semata. Tim KKM 56 membalut penyerahan tempat sampah tersebut dengan kegiatan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan di SDN Cerocoh pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh siswa, guru, serta perwakilan sekolah.

Ferdinan Kurniawan menjelaskan, pemberian fasilitas tanpa edukasi dinilai kurang efektif. Oleh karena itu, sosialisasi menjadi bagian penting dari program kerja ini.

“Pemberian tempat sampah di SDN Cerocoh kami nilai tepat karena anak-anak merupakan elemen masyarakat yang paling mudah menerima pemahaman baru. Edukasi sejak dini diharapkan mampu membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan,” ujar Ferdinan.

Ia menambahkan, pendekatan teknologi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Dengan melihat secara langsung cara kerja tempat sampah otomatis, siswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya kebersihan, tetapi juga tertarik pada penerapan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan sosialisasi dan demonstrasi alat berlangsung. Anak-anak tampak aktif bertanya dan mencoba langsung cara kerja tempat sampah otomatis berbasis mikrokontroler tersebut. Respons positif ini menjadi indikator awal bahwa pendekatan teknologi mampu menjadi sarana edukasi yang efektif.

Melalui program ini, KKM 56 Desa Domas berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat meningkat secara bertahap. Dimulai dari lingkungan sekolah dan kantor desa, diharapkan kebiasaan positif tersebut dapat menular ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas.

Bagi mahasiswa KKM, program ini juga menjadi sarana penerapan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam konteks nyata di masyarakat. Integrasi antara teknologi, edukasi, dan pengabdian menjadi esensi utama dari pelaksanaan KKM UNTIRTA di Desa Domas.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *