Seni tradisi kerap tumbuh bukan dari pusat kekuasaan atau ruang kebijakan negara. Banyak yang lahir dari kesunyian desa-desa yang jauh dari sorotan media. Di Dusun Kaliwungu, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, hidup sebuah warisan budaya yang tidak berhenti pada gerak tubuh semata: Tari Topeng Kaliwungu.
Tarian ini tumbuh dari tradisi agraris, dari tangan pengukir topeng kayu, dari bunyi gamelan dalam ritual panen, serta dari keyakinan masyarakat terhadap keterhubungan manusia dengan kekuatan yang tak kasatmata.
Kekuatan utama kesenian ini terletak pada bahasa diam yang dipancarkan topeng. Mulut penari tertutup, tetapi simbol dan geraknya berbicara lebih tegas daripada kata-kata. Ketika topeng dikenakan, penari tidak lagi menonjolkan kepribadian dirinya.
Tubuh menjadi medium untuk menghadirkan karakter kolektif yang diwariskan lintas generasi. Di situ tergambar kenyataan bahwa manusia memiliki banyak sisi, dan tiap sisi saling berhadapan dalam batin.
Pertarungan batin tersebut tergambar jelas dalam perbedaan karakter Panji dan Klana. Tokoh Panji dengan wajah putih dan tatapan tertunduk melambangkan ketenangan dan kejernihan. Dalam tradisi Jawa, putih dipahami sebagai lambang kesucian dan kebijaksanaan.
Gerak Panji yang tertata dan tertahan memberi pesan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam ledakan emosi. Pengendalian diri, keheningan batin, serta kemampuan menjaga jarak dari nafsu adalah bentuk daya yang justru paling kokoh. Panji menggambarkan manusia yang telah mencapai kedewasaan moral.
Sebaliknya, Klana tampil dengan warna merah menyala, gerak besar, dan energi yang memancar kuat. Ia mencerminkan ambisi, nafsu, dan dorongan-dorongan manusia yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Filosofi Tari Topeng Kaliwungu tidak menempatkan Klana sebagai musuh yang harus dilenyapkan.
Sosok ini justru menjadi pengingat bahwa nafsu adalah bagian dari kodrat manusia, yang perlu dikelola agar tidak merusak harmoni sosial dan batin. Peran Patih sebagai penuntun arah dan Punakawan sebagai penyampai kritik sosial memperlihatkan bahwa moralitas tidak selalu datang dari pusat kekuasaan. Nilai kebenaran dapat hadir dari figur sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seluruh dinamika tokoh tersebut mendapatkan nyawa melalui gamelan. Musik pengiring di Kaliwungu bukan sekadar latar. Irama berfungsi mengatur tempo emosi, membangun suasana dramatik, dan menuntun alur cerita.
Irama Panji yang tenang menghadirkan rasa teduh, sementara gending Klana yang menghentak menegaskan gelora konflik batin. Bagi masyarakat setempat, tarian tanpa gamelan kehilangan ruh, karena musik itulah yang menghubungkan penonton, penari, dan tradisi spiritual yang melingkupinya.
Kini, ancaman yang dihadapi Tari Topeng Kaliwungu tidak lagi berkaitan dengan kegagalan panen atau berkurangnya bahan baku topeng. Tantangan terbesarnya adalah renggangnya ingatan. Perubahan gaya hidup, arus digital, serta berkurangnya ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisi membuat gamelan jarang dimainkan dan topeng-topeng dibiarkan tergantung dalam ruang penyimpanan. Jika mata rantai pewarisan terputus, maka terputus pula hubungan emosional masyarakat dengan identitas budayanya.
Pelestarian tari ini karenanya tidak cukup berhenti pada slogan. Diperlukan ruang belajar, sanggar aktif, kehadiran guru tradisi, serta keberpihakan kebijakan budaya di tingkat lokal. Pendidikan seni di sekolah, festival budaya, hingga dokumentasi digital dapat menjadi jembatan agar kesenian ini tetap hidup di tengah perubahan zaman. Upaya tersebut bukan romantisasi masa lalu. Pelestarian seni tradisi adalah strategi menjaga keutuhan memori kolektif dan kebanggaan daerah.
Di sisi lain, generasi muda tidak harus memosisikan diri sebagai penonton pasif. Penghayatan baru terhadap Tari Topeng Kaliwungu dapat dilakukan melalui reinterpretasi, kolaborasi lintas disiplin, atau pemanfaatan media digital tanpa merusak nilai filosofinya. Seni tradisi akan bertahan selama ia mampu berdialog dengan konteks sosial zamannya. Yang perlu dijaga ialah ruhnya: hubungan manusia dengan etika, alam, dan sesamanya.
Tari Topeng Kaliwungu pada dasarnya mengajak masyarakat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Tarian ini mengingatkan bahwa manusia selalu hidup di antara ketenangan Panji dan gejolak Klana.
Selama masih ada generasi yang bersedia belajar memukul gamelan, mengukir topeng, dan memahami nilai di balik gerak, seni ini tetap bernapas. Budaya tidak hilang begitu saja. Ia menunggu untuk dipanggil kembali melalui kesadaran dan kepedulian.
Dengan merawat Tari Topeng Kaliwungu, masyarakat Lumajang sejatinya sedang merawat martabat dirinya sendiri. Topeng bukan sekadar benda seni. Ia adalah arsip pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang terhadap dunia. Di balik wajah kayu yang tampak diam, tersimpan cerita panjang tentang manusia, identitas, dan upaya menjaga harmoni kehidupan.





