Kebangkitan BUMDes Manggala Karya: Desa Cendono Bangkit dari Kegagalan Masa Lalu melalui Internet Desa dan Ketahanan Pangan

BUMDes Manggala Karya punya unit usaha ketahanan pangan berupa pertanian hidroponik. (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)
BUMDes Manggala Karya punya unit usaha ketahanan pangan berupa pertanian hidroponik. (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)

Cendono, Krajan.id – Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berada di jalur strategis menuju kawasan wisata religi Colo, lereng Gunung Muria. Setiap hari, lalu lintas kendaraan yang melintas di desa ini tak pernah sepi. Cendono menjadi pintu gerbang bagi peziarah dan wisatawan yang hendak menuju kompleks makam Sunan Muria maupun destinasi alam di sekitarnya.

Namun, di balik ramainya arus kendaraan dan denyut ekonomi kawasan wisata, Desa Cendono sempat menyimpan kisah pahit dalam pengelolaan ekonomi desa. Upaya membangun usaha bersama melalui aset desa pernah berakhir dengan kegagalan. Peternakan sapi yang dikelola sebelum BUMDes berdiri secara profesional justru meninggalkan kerugian dan trauma kolektif.

Bacaan Lainnya

Situasi itu perlahan berubah sejak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Manggala Karya mulai ditata ulang secara serius. Di bawah kepemimpinan Arif Risdiyanto, direktur yang kini memasuki tahun keempat masa jabatannya, BUMDes Manggala Karya bangkit dengan pendekatan yang lebih profesional, terukur, dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.

“Potensi Desa Cendono ini sebetulnya sangat besar. Jalurnya ramai, lokasinya strategis, dan masyarakatnya terbuka terhadap perubahan. Tantangannya selama ini adalah bagaimana mengelola potensi itu secara profesional dan berkelanjutan,” ujar Arif saat ditemui di kantor BUMDes Manggala Karya.

Belajar dari Kegagalan, Memilih Usaha yang Tepat

Arif tidak menampik bahwa banyak BUMDes di berbagai daerah tumbang pada tahun pertama operasional. Kesalahan paling umum, menurutnya, adalah memilih unit usaha yang tidak sesuai dengan karakter desa dan kemampuan pengelolaan.

Ketika BUMDes Manggala Karya mulai beroperasi penuh pada Agustus 2024, Arif dan tim pengelola mengambil keputusan strategis: membangun unit usaha internet desa. Pilihan ini tidak populer pada awalnya, mengingat persaingan dengan penyedia jasa internet skala besar dan kebutuhan modal yang relatif tinggi.

“Kami sadar betul risikonya. Modal awal besar, infrastrukturnya mahal, dan pesaingnya bukan sedikit. Tapi kami melihat internet sudah menjadi kebutuhan dasar warga. Pasarnya masih terbuka lebar di Cendono,” kata Arif.

BUMDes Manggala Karya memperoleh penyertaan modal desa sekitar Rp 203 juta. Dana tersebut tidak langsung cair sekaligus, melainkan melalui proses administrasi dan birokrasi hingga akhirnya terealisasi penuh pada Juli 2024.

Menurut Arif, keputusan memilih internet sebagai unit usaha pertama didasarkan pada pertimbangan arus kas yang cepat. Setiap bulan ada pemasukan rutin dari pelanggan, sehingga keberlangsungan operasional dan penggajian pengurus bisa lebih terjamin.

“Internet itu cash flow-nya jelas. Setiap bulan ada pemasukan. Itu penting untuk BUMDes yang baru berjalan agar tidak mati di tengah jalan,” ujarnya.

Kolaborasi Wilayah Jadi Kunci

Alih-alih bersaing secara frontal dengan penyedia internet besar, BUMDes Manggala Karya memilih strategi kolaborasi berbasis wilayah. Pengelola menggandeng ketua RT, ketua RW, dan kepala dusun sebagai mitra langsung.

“RT itu yang paling paham wilayahnya. Mereka tahu siapa warganya, tahu kondisi lapangan. Jadi kami libatkan mereka sebagai mitra pemasaran sekaligus penghubung jika ada gangguan,” kata Arif.

Dalam skema ini, RT memperoleh insentif atau reward dari setiap pelanggan internet di wilayahnya. Model bagi hasil tersebut tidak hanya mendorong pemasaran, tetapi juga membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap BUMDes.

Hasilnya cukup signifikan. Dari target awal 80 pelanggan pada masa sosialisasi, jumlah pelanggan internet desa kini telah menembus sekitar 250 rumah.

Secara finansial, unit usaha internet menjadi tulang punggung BUMDes Manggala Karya. Laba bersih per bulan berada di kisaran Rp 6 juta hingga Rp 8 juta.

“Banyak pengurus BUMDes di tempat lain khawatir tidak bisa digaji. Di Cendono, kekhawatiran itu bisa kami jawab sejak awal. Dari unit internet, kami sudah bisa menggaji pengurus dan karyawan,” ujar Arif.

Melangkah ke Ketahanan Pangan

Direktur BUMDes Manggala Karya Arif Risdiyanto menunjukkan tempat budidaya jamur tiram.  (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)
Direktur BUMDes Manggala Karya Arif Risdiyanto menunjukkan tempat budidaya jamur tiram. (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)

Setelah arus kas relatif aman, BUMDes Manggala Karya mulai mengembangkan unit usaha lain yang sejalan dengan program ketahanan pangan desa. Hal ini seiring dengan kebijakan penggunaan Dana Desa sebesar 20 persen untuk sektor pangan.

Pada Juli 2025, BUMDes meluncurkan unit usaha budidaya jamur tiram, disusul dengan pengembangan pertanian hidroponik.

Jamur tiram dipilih karena dinilai memiliki siklus panen cepat, permintaan pasar stabil, dan relatif mudah dibudidayakan. Namun, realitas di lapangan tidak sepenuhnya sesuai harapan.

“Untuk jamur tiram, kami akui masih trial and error. Produksinya belum sesuai ekspektasi. Terutama soal baglog atau media tanam,” kata Arif.

Pada tahap awal, BUMDes sempat membeli baglog jadi. Namun, setelah dihitung secara rinci, margin keuntungannya sangat tipis, bahkan belum memperhitungkan biaya tenaga kerja.

“Kami evaluasi. Kalau terus beli jadi, keuntungannya kecil sekali. Maka sekarang kami fokus mencari formula baglog sendiri yang paling efisien,” ujarnya.

Arif menetapkan satu siklus produksi, sekitar empat bulan, sebagai periode riset. Setiap proses dicatat dan dievaluasi untuk menentukan formula terbaik.

Hidroponik dari Gedung Mangkrak

Direktur BUMDes Manggala Karya Arif Risdiyanto (kanan) bersama Bendahara BUMDes Ahmad Syaifuddin memamerkan selada hasil budidaya hidroponik yang mereka kembangkan. (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)
Direktur BUMDes Manggala Karya Arif Risdiyanto (kanan) bersama Bendahara BUMDes Ahmad Syaifuddin memamerkan selada hasil budidaya hidroponik yang mereka kembangkan. (doc. Ainur Rohman / Kanal Desa)

Berbeda dengan jamur tiram, unit hidroponik justru menunjukkan hasil yang lebih menggembirakan. Menariknya, kebun hidroponik ini dibangun di lantai atas gedung BUMDes yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

“Lantai atas gedung ini dulu kosong. Kami ubah menjadi greenhouse hidroponik,” tutur Arif.

Tanaman yang dibudidayakan adalah selada air. Pada panen perdana, BUMDes berhasil menghasilkan sekitar 47 kilogram selada dengan tingkat serapan pasar yang baik.

“Kami distribusikan ke masyarakat dan komunitas hidroponik. Responsnya positif,” kata Arif.

Lebih dari sekadar bisnis, hidroponik juga membawa misi sosial. Arif ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian.

“Banyak anak muda enggan bertani karena identik dengan kotor dan berat. Lewat hidroponik, kami ingin menunjukkan bahwa bertani bisa bersih, modern, dan menjanjikan,” ujarnya.

Trauma Aset Gagal dan Sikap Hati-hati

BUMDes Manggala Karya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam pengelolaan aset desa sebelumnya. Peternakan sapi yang gagal total menjadi pelajaran penting bagi Arif dan timnya.

“Dulu ada sapi desa, tapi pengelolaannya tidak profesional. Banyak yang mati, desa rugi. Itu trauma yang tidak boleh terulang,” kenang Arif.

Saat ini, pemerintah desa berencana menyerahkan kembali aset-aset bermasalah tersebut kepada BUMDes, termasuk sapi dan sumur bor Pamsimas. Namun, Arif menegaskan bahwa penyerahan aset harus disertai revitalisasi.

“Kami tidak mau BUMDes jadi tempat pembuangan aset mangkrak. Kalau diserahkan, kandangnya harus diperbaiki, sapinya ditambah, infrastrukturnya dibereskan. Harus ada potensi profit yang jelas,” tegasnya.

Transparansi di Tengah Isu Integritas Desa

Desa Cendono sempat menjadi sorotan akibat kasus korupsi yang menjerat kepala desa dan sekretaris desa pada periode sebelumnya. Meski demikian, Arif memastikan BUMDes Manggala Karya tetap berjalan dengan prinsip transparansi.

“BUMDes tidak terdampak langsung karena kami terbuka sejak awal. Semua program disosialisasikan, sistem bagi hasil jelas, dan komunikasi langsung ke wilayah,” kata Arif.

Keterlibatan RT dan masyarakat menjadi benteng kepercayaan. Warga merasa BUMDes adalah milik bersama, bukan sekadar unit usaha milik elite desa.

Menatap Masa Depan Desa

Ke depan, BUMDes Manggala Karya masih menyimpan banyak rencana. Optimalisasi lahan desa seluas sekitar 6.000 meter persegi, penataan pasar desa, hingga pengelolaan kios di sekitar lapangan menjadi agenda berikutnya.

“Kami ingin merapikan potensi yang ada dulu. Kalau dikelola profesional, kontribusi BUMDes ke APBDes akan besar dan kesejahteraan warga ikut naik,” ujar Arif.

Keberlanjutan menjadi kata kunci. Meski gaji pengurus belum setara upah minimum, Arif melihat progres yang nyata dan bertahap.

Bagi Desa Cendono, BUMDes Manggala Karya kini bukan sekadar unit usaha. Ia menjadi simbol kebangkitan, bahwa desa yang pernah gagal masih bisa bangkit dengan pengelolaan yang jujur, profesional, dan berpihak pada kebutuhan warganya.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *