Kesenian Tutunggulan di Peron Stasiun Tuntang Ambarawa

Foto Karya Shoultan Ananda Bachtijar Mahasiswa Sastra Jepang UNTAG Surabaya
Foto Karya Shoultan Ananda Bachtijar Mahasiswa Sastra Jepang UNTAG Surabaya

Kisah tentang kesenian Tutunggulan yang hadir di peron Stasiun Tuntang, Ambarawa, menawarkan lebih dari sekadar pengalaman personal. Ia menjadi refleksi kebudayaan yang tajam mengenai posisi kesenian rakyat di tengah dunia modern yang bergerak cepat, terjadwal, dan kerap abai terhadap nilai-nilai kultural.

Dengan menjadikan stasiun kereta sebagai latar, cerita ini secara sadar memindahkan kesenian tradisional dari ruang yang lazim dilekatkan padanya seperti panggung festival atau agenda resmi kebudayaan ke ruang keseharian yang fungsional dan profan.

Bacaan Lainnya

Pilihan ruang tersebut bukan keputusan estetis semata, melainkan strategi makna. Stasiun Tuntang digambarkan sebagai simpul mobilitas modern, tempat manusia bernegosiasi dengan waktu, keterlambatan, dan efisiensi. Di ruang yang dikendalikan oleh jadwal dan pengumuman keberangkatan, Tutunggulan hadir sebagai interupsi yang lembut.

Ia tidak memaksa perhatian, tidak menuntut pengakuan, tetapi perlahan mengubah atmosfer. Peron yang semula dipenuhi kegelisahan dan penantian bertransformasi menjadi ruang bersama yang hangat dan reflektif. Ritme penumpang melambat, fokus bergeser, dan waktu seolah mengalami artikulasi yang berbeda.

Kekuatan narasi ini terletak pada keberhasilannya menempatkan Tutunggulan sebagai ekspresi kebudayaan yang hidup, bukan sekadar hiburan atau ornamen nostalgia. Bambu-bambu tua yang dipukul tanpa pretensi, tangan-tangan yang bekerja dalam kesederhanaan, serta irama yang lahir dari pengalaman kolektif menegaskan akar sosial kesenian ini.

Penulis dengan sadar menolak romantisasi. Tutunggulan tidak dihadirkan sebagai tontonan yang megah atau indah menurut standar estetika modern, melainkan sebagai hasil kerja, kebersamaan, dan perjalanan hidup masyarakat pendukungnya. Kesenian rakyat tidak dipoles agar tampak layak jual, tetapi dibiarkan hadir apa adanya, dengan seluruh keterbatasan dan kekuatannya.

Secara tematik, cerita ini memuat kritik sosial yang halus namun mengena. Tutunggulan berfungsi sebagai pengingat akan kemungkinan ritme hidup yang lebih selaras dengan alam dan sesama. Di tengah dunia yang menuntut percepatan tanpa henti, kesenian tradisional muncul sebagai penanda bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan hilangnya jeda dan permenungan.

Kritik tersebut disampaikan tanpa nada menghakimi. Tradisi tidak ditempatkan sebagai entitas yang sepenuhnya luhur, begitu pula modernitas tidak dilabeli sebagai sesuatu yang dangkal. Yang dipersoalkan adalah ketimpangan perhatian manusia dalam merawat keduanya secara seimbang.

Tokoh aku dalam cerita berperan sebagai pengamat, bukan penyelamat. Ia tidak mengintervensi, tidak menggurui, dan tidak mengklaim pemahaman penuh atas Tutunggulan. Pilihan naratif ini memberi ruang bagi pembaca untuk mengalami kesenian tersebut melalui suasana dan deskripsi, bukan melalui penjelasan yang mengikat atau bersifat didaktis. Dalam konteks penulisan reflektif, sikap ini menunjukkan kedewasaan naratif sekaligus penghormatan terhadap subjek budaya yang dihadirkan.

Gagasan sosial paling kuat dalam cerita ini terletak pada kesadaran akan rapuhnya tradisi. Tutunggulan digambarkan bertahan bukan karena sistem, institusi, atau kebijakan kebudayaan yang mapan, melainkan karena kemauan individu-individu yang terus datang dan memainkan bambu mereka. Di titik inilah kritik implisit terhadap cara pelestarian budaya bekerja menjadi jelas.

Selama kesenian rakyat hanya bergantung pada dedikasi personal dan bukan pada kesadaran kolektif yang lebih luas, keberlangsungannya akan selalu berada dalam kondisi rentan. Cerita ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajukan pertanyaan mendasar tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga denyut kebudayaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *