Akhir-akhir ini, kegiatan study tour dan perpisahan sekolah kembali menjadi sorotan hangat di dunia pendidikan. Banyak orang tua mengungkapkan pendapat yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, mereka mendukung kegiatan ini karena dianggap mampu menambah pengalaman dan wawasan anak.
Namun di sisi lain, sebagian menolaknya karena biaya yang dianggap memberatkan serta tujuan yang dinilai kurang relevan secara edukatif.
Dahulu, kegiatan study tour merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran yang sangat dinanti oleh peserta didik. Momentum ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara langsung di luar kelas.
Kunjungan ke tempat-tempat seperti museum, situs sejarah, pusat penelitian, atau tempat kebudayaan lainnya dirancang untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan pemahaman tentang dunia nyata.
Namun seiring berjalannya waktu, esensi dari kegiatan tersebut mulai bergeser. Study tour kini lebih sering dikaitkan dengan gaya hidup dan gengsi sosial dibandingkan dengan tujuan edukatif yang seharusnya menjadi prioritas. Banyak sekolah justru memilih destinasi ke tempat-tempat hiburan seperti taman bermain, pusat perbelanjaan, atau objek wisata populer yang lebih bersifat rekreatif ketimbang edukatif.
Bukan berarti tempat-tempat seperti Dufan, Trans Studio, atau Jatim Park sama sekali tidak memiliki nilai pembelajaran. Namun, dominasi tempat-tempat tersebut dalam agenda study tour mencerminkan pergeseran nilai yang terjadi.
Kunjungan ke museum, lembaga riset, atau situs sejarah kini kerap hanya dijadikan pelengkap, bukan prioritas. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak lokasi edukatif yang tak kalah menarik dan sarat makna.
Lebih mengkhawatirkan lagi, beban finansial yang harus ditanggung orang tua terus meningkat. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena harus mengeluarkan biaya besar demi anaknya bisa ikut serta. Bahkan, ada yang rela memaksakan diri agar sang anak tidak merasa tersisih karena tidak ikut. Dalam kondisi inilah gengsi mulai mengalahkan substansi.
Fenomena ini tak bisa dipandang sebelah mata. Anak-anak didorong oleh tekanan sosial untuk tampil sebaik mungkin dalam kegiatan study tour. Mereka berlomba-lomba meminta uang kepada orang tua untuk membeli pakaian baru, perlengkapan perjalanan, makanan, hingga uang saku yang jumlahnya tidak sedikit. Hal ini tentu menimbulkan ketimpangan dan tekanan psikologis, baik bagi siswa maupun orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Sudah saatnya sekolah dan komite pendidikan mengevaluasi kembali arah dan tujuan kegiatan study tour. Setiap kegiatan yang melibatkan siswa seharusnya dirancang berdasarkan prinsip kebermanfaatan, inklusi sosial, dan relevansi pendidikan. Kegiatan ini seharusnya tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengandung nilai-nilai pembelajaran yang mendalam.
Solusinya bukan dengan menghapus kegiatan study tour, melainkan mengembalikannya pada jalur yang tepat. Sekolah perlu merancang perjalanan edukatif yang lebih bermakna dengan melibatkan pihak-pihak seperti lembaga pendidikan lokal, komunitas budaya, atau pusat riset. Dengan begitu, study tour bisa tetap menyenangkan, namun tidak kehilangan nilai edukatifnya.
Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat penting. Sekolah harus membuka ruang diskusi terbuka mengenai perencanaan kegiatan, termasuk tujuan dan pembiayaannya. Transparansi akan membantu membangun kepercayaan serta mencegah kesalahpahaman antara pihak sekolah dan wali murid.
Pendidikan sejatinya bukanlah tentang siapa yang paling jauh bepergian, melainkan siapa yang paling banyak belajar dari setiap pengalaman yang dijalani. Mari kita jaga agar study tour kembali menjadi sarana yang membentuk karakter, memperluas wawasan, dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik, bukan sekadar ajang prestise yang penuh tekanan sosial tanpa makna yang jelas.





