Selamat datang di era paling jujur dalam sejarah manusia, di mana nilai seseorang akhirnya dapat dihitung dengan angka yang jelas: jumlah pengikut, jumlah penonton, dan seberapa sering wajahnya muncul di layar orang asing. Peradaban akhirnya berhasil menyederhanakan makna hidup menjadi statistik yang mudah dipahami bahkan oleh mesin.
Dahulu manusia berjuang mencari makna hidup melalui filsafat, agama, dan pengalaman eksistensial. Kini pencarian itu dipercepat. Cukup buka aplikasi, gulir beberapa detik, dan algoritma akan dengan murah hati menunjukkan versi kehidupan yang dianggap pantas untuk diinginkan.
Tidak ada lagi kebingungan tentang bagaimana manusia harus hidup. Semua sudah tersedia dalam format video pendek dengan musik latar yang menyentuh dan pencahayaan yang telah disesuaikan dengan standar kebahagiaan global.
Masyarakat modern menyebut fenomena ini sebagai kebebasan berekspresi. Sebuah istilah yang sangat indah untuk menggambarkan kepatuhan massal yang dikemas secara estetis.
Setiap orang merasa unik, padahal mereka sedang berlomba menjadi variasi paling rapi dari template yang sama. Wajah-wajah dibentuk dengan presisi yang hampir identik. Tubuh dipoles agar menyerupai standar yang telah disetujui secara kolektif. Kehidupan diproduksi seperti katalog furnitur, lengkap dengan pilihan gaya yang sudah ditentukan.
Individualitas kini bukan lagi identitas, melainkan gaya dekorasi.
Pernikahan misalnya, sebagai salah satu ritual paling intim dalam sejarah manusia, berhasil direformasi menjadi industri hiburan yang sangat efisien. Komitmen jangka panjang antara dua individu tidak lagi cukup apabila tidak disertai produksi visual berskala festival.
Cinta tanpa drone dianggap kurang serius. Janji setia tanpa koreografi dianggap kurang niat. Bahkan kebahagiaan harus disusun mengikuti urutan adegan yang telah terbukti menghasilkan keterlibatan audiens maksimal.
Pasangan tidak lagi menikah untuk membangun kehidupan bersama. Mereka menikah untuk membangun dokumentasi kehidupan yang dapat dikonsumsi publik.
Ironisnya, semakin megah perayaan komitmen tersebut, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk memahami makna komitmen itu sendiri.
Algoritma memainkan perannya dengan keanggunan yang kejam. Ia tidak melarang siapa pun menjadi sederhana. Ia hanya memastikan kesederhanaan menjadi tidak terlihat. Ia tidak memaksa siapa pun mengejar kemewahan. Ia hanya memastikan kemewahan terlihat sebagai bentuk kehidupan yang paling wajar.
Dan manusia, dengan rasa percaya diri yang mengharukan, menyebut keputusan mereka sebagai pilihan pribadi.
Teknologi yang diagungkan sebagai pencapaian intelektual terbesar umat manusia ini sebenarnya bekerja dengan metode yang sangat sederhana: memelihara rasa tidak cukup.
Tidak cukup menarik.
Tidak cukup sukses.
Tidak cukup dicintai.
Tidak cukup terlihat.
Perasaan kekurangan ini menjadi bahan bakar ekonomi perhatian. Semakin seseorang merasa dirinya kurang, semakin besar kemungkinan ia akan membeli produk, memperbaiki citra, dan terus memproduksi konten untuk membuktikan bahwa dirinya layak dilihat.
Rasa tidak puas telah berubah dari kelemahan psikologis menjadi model bisnis global.
Dalam ekosistem ini, kehidupan pribadi berubah menjadi proyek pemasaran tanpa akhir. Momen kebahagiaan harus dipoles sebelum boleh dirasakan. Kesedihan harus dikemas sebelum boleh dibagikan. Bahkan keaslian harus dirancang dengan sangat hati-hati agar terlihat spontan.
Manusia tidak lagi hidup untuk mengalami sesuatu. Mereka hidup untuk memastikan pengalaman tersebut dapat dikonsumsi secara visual.
Realitas tidak lagi diukur dari kejujuran pengalaman, melainkan dari kualitas produksi.
Yang paling memikat dari semua ini adalah betapa masyarakat berhasil meyakinkan diri bahwa mereka sedang mengendalikan teknologi, padahal mereka sedang berkompetisi untuk memenuhi preferensi teknologi tersebut.
Algoritma tidak memiliki ambisi. Ia tidak memiliki agenda moral. Ia hanya memaksimalkan keterlibatan pengguna. Namun dalam prosesnya, ia berhasil mengubah manusia menjadi makhluk yang rela mengorbankan privasi, stabilitas finansial, dan kesehatan mental demi mempertahankan relevansi sosial.
Sebuah prestasi luar biasa: manusia akhirnya menemukan cara untuk mengeksploitasi diri sendiri secara sukarela.
Standar kebahagiaan kini tidak lagi ditentukan oleh kedamaian batin, melainkan oleh seberapa menarik kebahagiaan tersebut terlihat dari sudut kamera tertentu. Bahkan hubungan antarmanusia mulai dinilai berdasarkan potensi estetika, bukan kedalaman emosional.
Hubungan yang stabil tetapi membosankan kalah menarik dibanding hubungan dramatis yang fotogenik. Kesederhanaan yang jujur kalah bersaing dengan kemewahan yang penuh utang.
Masyarakat tidak lagi mencari kehidupan yang baik. Mereka mencari kehidupan yang terlihat mahal.
Dan mungkin bagian paling tragis dari semua ini adalah bahwa proses tersebut berlangsung dengan persetujuan massal. Tidak ada tirani yang memaksa. Tidak ada sensor yang membungkam. Hanya ada layar yang terus menyala dan manusia yang terus menatapnya dengan harapan menemukan versi diri yang lebih layak untuk dicintai.
Algoritma tidak perlu menindas manusia. Manusia dengan sukarela menyesuaikan diri agar sesuai dengan standar yang dihasilkannya.
Di masa depan, kemungkinan besar manusia akan terus merayakan kemajuan teknologi yang memungkinkan mereka untuk semakin mudah membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain. Mereka akan menyebutnya konektivitas, transparansi, dan kemajuan sosial.
Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih sederhana.
Manusia sedang belajar mengukur harga dirinya berdasarkan seberapa menarik ia terlihat bagi orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Dan algoritma, dengan kesabaran yang nyaris suci, akan terus mengajarkan pelajaran itu sampai manusia lupa bagaimana rasanya hidup tanpa menjadi tontonan.





