KKN UNS Kelompok 46 Dorong Digitalisasi dan Penguatan Fasilitas untuk Optimalisasi Ekowisata Desa Sewurejo

Foto bersama setelah peresmian penambahan fasilitas pendukung di kawasan Gazebo Sawah nGlarangan dan inovasi berbasis digitalisasi pada (5/2/2026) memperluas promosi wisata sekaligus memperkuat daya saing desa di tengah arus transformasi digital. (doc. pribadi)
Foto bersama setelah peresmian penambahan fasilitas pendukung di kawasan Gazebo Sawah nGlarangan dan inovasi berbasis digitalisasi pada (5/2/2026) memperluas promosi wisata sekaligus memperkuat daya saing desa di tengah arus transformasi digital. (doc. pribadi)

Sewurejo, Krajan.id – Upaya pengembangan ekowisata Desa Sewurejo memasuki babak baru setelah mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 46 menghadirkan inovasi berbasis digitalisasi dan penambahan fasilitas pendukung di kawasan Gazebo Sawah nGlarangan. Program yang diresmikan pada (5/2/2026) ini menjadi langkah strategis dalam memperluas promosi wisata sekaligus memperkuat daya saing desa di tengah arus transformasi digital.

Di bawah bimbingan dosen Dwi Priyo Ariyanto, S.P., M.Sc., Ph.D., tim mahasiswa lintas disiplin ini merancang pendekatan terintegrasi yang tidak hanya menyentuh aspek promosi, tetapi juga pengalaman wisata dan keberlanjutan pengelolaan. Ketua KKN, Zakka Al-Fajri dari Program Studi Pengelolaan Hutan, menegaskan bahwa potensi alam Desa Sewurejo memiliki daya tarik kuat yang perlu dikemas secara adaptif.

Bacaan Lainnya

“Bentang sawah yang masih asri dengan latar perbukitan adalah kekuatan utama desa ini. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikenal luas dan mudah diakses wisatawan,” ujar Zakka saat ditemui usai peresmian program.

Destinasi Gazebo Sawah nGlarangan selama ini dikenal sebagai ruang relaksasi alami dengan nuansa pedesaan yang autentik. Hamparan padi hijau, udara segar, dan desain gazebo yang menyatu dengan lanskap persawahan menjadi magnet bagi pengunjung yang ingin melepas penat dari rutinitas kota. Menurut Zakka, konsep ini sejalan dengan prinsip ekowisata berkelanjutan yang menekankan pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Program unggulan yang diinisiasi tim KKN adalah digitalisasi ekowisata melalui pembaruan data lokasi di Google Maps dan pemasangan kode QR pada papan petunjuk menuju area wisata. Pembaruan tersebut mencakup deskripsi destinasi yang lebih rinci, jalur akses, dokumentasi visual, serta informasi fasilitas pendukung.

Ghefira Nur Fatimah dan Ayesha Ghayda Wibowo dari Pendidikan Dokter yang menjadi penanggung jawab program menjelaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar memperbarui informasi daring. “Kami ingin menghadirkan sistem informasi yang memudahkan wisatawan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pengelola agar mampu mengelola promosi secara mandiri,” kata Ghefira.

Kode QR yang dipasang di beberapa titik strategis memungkinkan pengunjung mengakses profil wisata, keunikan atraksi, hingga dokumentasi kegiatan hanya dengan memindai melalui ponsel. Menurut Ayesha, inovasi ini mencerminkan kesiapan desa dalam beradaptasi dengan teknologi.

“Di era serba digital, kemudahan akses informasi sangat menentukan keputusan wisatawan,” ujarnya.

Selain digitalisasi, tim KKN 46 juga membangun fasilitas Rest & Reflect Point (Mirror Selfie) sebagai elemen pendukung daya tarik visual. Fasilitas ini dirancang sebagai titik istirahat sekaligus spot foto yang menyatu dengan panorama alam. Cermin berdesain minimalis ditempatkan menghadap hamparan sawah, menciptakan refleksi visual yang unik tanpa merusak estetika lingkungan.

Mahasiswa seperti Fauzan Hilmi, Ghazwan Habiburrahman, Naurah Luqyana Athaya, Nikita Laura Putriaisyah A., Rizqika Vidya Shavira, Yovita Arum Dwi Sartika, dan Yus Yabin Nun terlibat aktif dalam proses perencanaan hingga pembangunan fasilitas tersebut bersama warga. Mereka memastikan material dan desain tetap selaras dengan karakter alam sekitar.

“Mirror Selfie ini bukan hanya tempat berfoto, tetapi bagian dari strategi promosi tidak langsung. Foto-foto yang diunggah pengunjung di media sosial akan memperluas jangkauan promosi desa secara organik,” jelas Zakka.

Konsep tersebut terbukti efektif. Sejak pemasangan fasilitas, sejumlah pengunjung mulai membagikan pengalaman mereka melalui media sosial, memperkenalkan Gazebo Sawah nGlarangan kepada khalayak yang lebih luas. Pendekatan ini dinilai relevan dengan pola promosi wisata modern yang bertumpu pada konten visual dan pengalaman personal.

Lebih jauh, mahasiswa KKN juga mendorong pengembangan wisata edukasi pertanian. Wisatawan didorong untuk tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar mengenai proses tanam dan panen padi serta memahami pola hidup agraris masyarakat. Menurut Zakka, integrasi antara rekreasi dan edukasi akan memperkuat identitas desa sebagai destinasi ekowisata berbasis komunitas.

“Jika dikelola konsisten, desa ini bisa menjadi contoh wisata yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memberi nilai pembelajaran,” tuturnya.

Pasca pelaksanaan KKN, mahasiswa merekomendasikan penguatan keberlanjutan melalui tiga pilar utama. Pertama, aspek lingkungan dengan menjaga konservasi sawah dan sumber air, pengelolaan sampah terpilah, serta penggunaan bahan ramah lingkungan.

Kedua, aspek ekonomi melalui penguatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengembangan produk turunan seperti kuliner khas, tur edukasi, homestay, dan UMKM, disertai pelatihan pelayanan serta literasi digital dan keuangan. Ketiga, aspek kelembagaan melalui regulasi desa yang jelas terkait pembagian tugas dan manfaat, serta kemitraan dengan pemerintah, sekolah, komunitas, dan sektor swasta.

Pendekatan partisipatif ini, menurut Ghefira, menjadi kunci agar program tidak berhenti setelah masa KKN selesai. “Kami ingin masyarakat merasa memiliki dan mampu mengembangkan potensi wisata secara mandiri,” katanya.

Peresmian program pada 5 Februari 2026 menjadi simbol komitmen bersama antara mahasiswa dan masyarakat Desa Sewurejo untuk membawa ekowisata ke arah yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sinergi perguruan tinggi dan desa dapat melahirkan inovasi konkret yang berdampak langsung.

Dengan digitalisasi informasi, pembaruan akses lokasi, pemasangan kode QR, serta pembangunan Rest & Reflect Point, KKN UNS Kelompok 46 telah menorehkan langkah nyata dalam mengoptimalkan pengembangan ekowisata Desa Sewurejo. Tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi pengelolaan agar potensi yang telah dibangun dapat terus tumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *