Tegalweru, Krajan.id – Selama 45 hari pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), sejak 6 Januari hingga 19 Februari 2026, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tergabung dalam KKN UNS Kelompok 94 menghadirkan sebuah konsep pengembangan desa terpadu bertajuk “Sustainable Smart Agro-Health Tourism Village: Sinergi Pertanian, Pariwisata, Ekonomi Digital, dan Kesehatan untuk Mewujudkan Desa Sehat dan Mandiri”.
Program ini dilaksanakan di Desa Tegalweru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan melibatkan perangkat desa, pelaku UMKM, kader kesehatan, pemuda, serta siswa sekolah.
Di bawah bimbingan dosen Andri Prasetyo, S.E., M.E. Kelompok yang diketuai oleh Marcelina Kusumaningtyas Ari Widyastuti (Teknik Sipil) tersebut beranggotakan mahasiswa lintas fakultas, yakni Angelica Wijaya (Ilmu Hukum ), Janu Narendra (Ilmu Hukum ), Frannanda Raydhika Lyfanni (Kedokteran), Shintya Dita Afrina (Ilmu Tanah), Yuliada Pawestri (Ilmu Tanah), Muhammad Rifa’i (Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian), Bintang Alif Ramadhan (Teknik Sipil), Muhammad Rakha Mahaputra (Teknik Sipil), dan Febrianto Anung Anindito (Pendidikan Geografi)
Kolaborasi multidisipliner ini menghasilkan rangkaian program yang menyasar perangkat desa, pelaku UMKM, pemuda, kader kesehatan, hingga siswa sekolah dasar dan menengah pertama.
Kepala Desa Tegalweru, Budi Santoso, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa.
“Program yang dijalankan mahasiswa KKN sangat membantu desa kami. Mulai dari digitalisasi UMKM, edukasi kesehatan, sampai pemetaan wilayah berbasis teknologi. Ini bukan hanya kegiatan sementara, tetapi pondasi yang bisa kami lanjutkan,” ujarnya.

Salah satu program yang menarik perhatian warga adalah Menyulut Cahaya dari Sisa: Mengubah Limbah Rumah Tangga Menjadi Lilin Aromaterapi. Kegiatan ini menjadi representasi konsep Sustainable Economy karena mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomis sekaligus bermanfaat bagi kesehatan.
Dalam workshop bersama ibu-ibu rumah tangga, mahasiswa mengajarkan proses penyaringan minyak jelantah, pencampuran bahan, hingga teknik pengemasan agar produk memiliki daya jual.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa minyak jelantah bukan sekadar limbah, tetapi bisa diolah menjadi peluang usaha kreatif,” jelas Marcelina Kusumaningtyas Ari Widyastuti.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan aktif dalam praktik pembuatan lilin sekaligus diskusi mengenai peluang pemasaran sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa.

Kesadaran lingkungan juga diperkuat melalui program GreenCycle: Ubah Limbah Dapur Jadi Pupuk Cair Bernilai. Program ini mengusung filosofi Sustainable Agro dengan menerapkan konsep zero waste untuk mendukung pertanian organik desa yang murah dan ramah lingkungan.
Muhammad Rifa’i yang memimpin kegiatan tersebut menjelaskan, “Kami ingin mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi sampah rumah tangga.”
Setelah proses fermentasi dua minggu, pupuk organik cair dibagikan kepada warga untuk diaplikasikan di kebun masing-masing.
Di sektor ekonomi, program Transformasi Bisnis Mikro: Pemberdayaan UMKM Melalui Peningkatan Keterampilan Digital memperkuat konsep Smart Economy. Pendampingan aktivasi QRIS dan literasi e-commerce dilakukan agar pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan sistem pembayaran non-tunai.
“Masih ada pelaku usaha yang belum terbiasa dengan sistem digital. Kami mendampingi dari proses pendaftaran hingga QRIS siap dipakai,” ungkap Janu Narendra.
Pada aspek kesehatan, program SAHABAT TUMBUH SEHAT: Kenali Kesehatan Reproduksi Sejak Dini dipimpin oleh Frannanda Raydhika Lyfanni yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan Health Village. Edukasi kepada pemuda dan remaja mengenai perlindungan diri, kesehatan reproduksi, serta kesadaran gizi dilakukan secara interaktif.
“Kami ingin anak-anak berani berkata tidak dan tahu kepada siapa harus melapor jika menghadapi situasi yang tidak aman,” tutur Frannanda Raydhika Lyfanni.
Upaya preventif juga diwujudkan melalui program SAMBATE – Sampah Jadi Berkah, Lingkungan Bebas DBD yang dipimpin oleh Muhammad Rakha Mahaputra. Sosialisasi mengenai siklus nyamuk Aedes aegypti dan praktik 3M Plus dilakukan untuk membangun kebiasaan hidup bersih.
“Pencegahan DBD membutuhkan perubahan perilaku, bukan hanya tindakan sesaat seperti fogging,” tegas Muhammad Rakha Mahaputra.
Sementara itu, tata kelola desa diperkuat melalui Peta Optimalisasi Tata Kelola Administrasi Desa Tegalweru Melalui Pemetaan Partisipatif Berbasis SIG. Program yang dipimpin oleh Febrianto Anung Anindito ini menjadi wujud implementasi Smart Village melalui pemetaan aset desa secara presisi sebagai dasar perencanaan pembangunan.
“Pemetaan ini diharapkan membantu desa membuat kebijakan yang lebih presisi dan berbasis data,” jelas Febrianto Anung Anindito.
Selain program-program tersebut, KKN UNS Kelompok 94 juga melaksanakan Generasi Cerdas Digital: Edukasi Literasi Digital bagi pemuda desa sebagai fondasi masyarakat yang bijak teknologi; Mini Farm Hidroponik: Serunya Bertani dari Botol untuk mengenalkan inovasi pertanian lahan sempit kepada siswa SMP; EcoFun: Seru Berkreasi dengan Ecoprint sebagai sarana kreativitas berbasis potensi hayati desa; serta program pendampingan belajar OASIS (Optimal Assistance for Students in Initial School): Belajar Bersama yang dilaksanakan secara rutin guna menjaga kualitas pendidikan dasar anak-anak Desa Tegalweru.
Rangkaian program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pemberdayaan UMKM dan inovasi produk berbasis limbah mendukung SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan ekonomi kreatif desa. Edukasi kesehatan reproduksi serta gerakan lingkungan bersih berkontribusi pada SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.
Pendampingan belajar, literasi digital, hidroponik, dan ecoprint memperkuat SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pendekatan edukatif yang aplikatif. Pengelolaan lingkungan berbasis zero waste dan perencanaan desa berbasis pemetaan partisipatif mendukung SDGs 11 tentang permukiman berkelanjutan.
Melalui integrasi konsep Sustainable Economy, Smart Village, Health Village, dan Agro-Education, mahasiswa bersama masyarakat berhasil membangun fondasi transformasi desa yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berkelanjutan. Dengan fondasi tersebut, Desa Tegalweru kini melangkah lebih percaya diri menuju masa depan sebagai desa yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





