Provinsi Bangka Belitung (Babel) telah lama dikenal sebagai penghasil utama timah di Indonesia. Komoditas ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga telah menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Selama puluhan tahun, timah memberikan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, serta menopang kehidupan ribuan keluarga. Namun, kejayaan itu perlahan mulai memudar. Harga timah yang terus merosot, cadangan yang semakin menipis, serta regulasi yang makin ketat telah mengguncang fondasi ekonomi Babel. Dampaknya begitu terasa: tingkat pengangguran meningkat, daya beli masyarakat menurun, dan pelaku usaha kecil makin tertekan.
Dalam menghadapi situasi ini, berdiam diri bukanlah solusi. Masa krisis justru harus menjadi momentum untuk membangkitkan semangat kolektif dalam menciptakan perubahan. Di sinilah peran strategis mahasiswa menjadi penting sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi.
Mahasiswa bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga aktor yang mampu menjadi pionir dalam merancang dan mengimplementasikan arah pembangunan yang baru, tangguh, dan berkelanjutan.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengeksplorasi potensi alternatif yang selama ini belum tergarap optimal. Babel memiliki kekayaan laut, potensi wisata, dan warisan budaya yang luar biasa.
Mahasiswa dapat mendorong riset pengembangan produk olahan hasil laut, menciptakan paket wisata berbasis kearifan lokal yang ramah lingkungan, hingga mengembangkan pertanian modern berbasis teknologi. Inisiatif semacam ini akan membuka peluang baru sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan.
Selanjutnya, penguatan UMKM dan sektor ekonomi kreatif perlu menjadi fokus gerakan mahasiswa. Banyak pelaku usaha lokal yang masih tertinggal dalam hal digitalisasi. Mahasiswa dapat berperan dengan menginisiasi pelatihan pemasaran digital, membuat konten kreatif, dan membantu proses branding produk lokal agar mampu bersaing di pasar nasional maupun global. Dengan pendekatan kolaboratif antarjurusan dan komunitas, upaya ini akan berdampak lebih luas dan cepat.
Tak kalah penting, mahasiswa juga harus aktif dalam ranah advokasi kebijakan. Melalui diskusi publik, seminar, maupun kajian ilmiah, mahasiswa dapat menyuarakan pentingnya kebijakan diversifikasi ekonomi yang adil, inklusif, dan berwawasan lingkungan.
Suara kritis dari kampus menjadi kontrol sosial agar transisi ekonomi tidak lagi mengulang kesalahan masa lalu yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial.
Di sisi lain, gerakan sosial dan pelestarian lingkungan juga harus digalakkan. Mahasiswa bisa menjadi pelopor dalam rehabilitasi lahan bekas tambang, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, serta kampanye pelestarian laut dan hutan. Melalui tindakan nyata, mahasiswa membuktikan bahwa ekonomi hijau dan keberlanjutan bukan utopia, melainkan keniscayaan yang bisa dicapai dengan kerja kolektif.
Krisis timah memang menjadi pukulan telak bagi Babel. Namun, seperti halnya krisis-krisis besar dalam sejarah, selalu ada peluang bagi lahirnya generasi pembaru. Mahasiswa Bangka Belitung memiliki bekal ide segar, semangat muda, serta keberanian untuk menciptakan perubahan. Dengan berpikir kreatif, bertindak inovatif, dan bergerak bersama, mahasiswa dapat membawa Babel menuju masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera.
Karena pada akhirnya, setiap krisis bukan hanya tentang keruntuhan, tetapi juga tentang kelahiran. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?





