Lebaran Tanpa Jamuan: Belajar Silaturahmi dari Halal Bihalal Dusun Klepu

Halal Bihalal Dusun Klepu. (doc. pribadi)
Halal Bihalal Dusun Klepu. (doc. pribadi)

Lebaran di kampung halaman kerap menghadirkan pengalaman yang tak dijumpai di kota. Bukan semata karena suasananya lebih tenang, melainkan karena tradisi desa dijalani dengan kesungguhan sosial yang nyata. Salah satunya tampak dalam praktik halal bihalal warga Dusun Klepu, Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta.

Dusun ini merupakan tempat tinggal nenek dari pihak ibu saya. Setelah pandemi Covid-19, ia memilih kembali menetap di kampung setelah bertahun-tahun tinggal bersama kami di Surabaya. Keputusan itu terasa logis. Desa menawarkan kedekatan sosial dan ritme hidup yang lebih pelan, sesuatu yang kian langka di ruang perkotaan yang serba cepat dan individualistis.

Bacaan Lainnya

Ibu saya bercerita bahwa pada masa kecilnya, Lebaran di kampung identik dengan tradisi unjung-unjung, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Setiap kunjungan selalu disertai sajian kue dan jajanan. Anak-anak bahkan menyiapkan tas plastik khusus untuk membawa pulang hasil kunjungan tersebut. Tradisi itu kini nyaris menghilang.

Dalam beberapa tahun terakhir, warga Dusun Klepu menggantinya dengan satu kegiatan bersama: halal bihalal seluruh warga dusun yang dipusatkan di balai dusun. Pergeseran ini mencerminkan perubahan cara masyarakat desa merawat silaturahmi. Jika sebelumnya relasi sosial dijalin melalui kunjungan personal yang menyita waktu dan tenaga, kini ia dirawat lewat pertemuan kolektif yang lebih ringkas, tetapi tetap inklusif. Semua warga hadir dalam satu ruang dan satu waktu.

Usai salat Idul Fitri, Kepala Dusun memukul kentongan tiga kali sebagai penanda dimulainya halal bihalal. Warga dari berbagai usia berkumpul dan berbaris melingkar, memenuhi balai dusun hingga halaman sekitarnya. Setelah sambutan singkat, prosesi bersalaman dimulai.

Proses ini berlangsung sekitar dua hingga tiga jam. Tidak tersedia kursi bagi sebagian besar peserta. Tidak ada jamuan. Acara sering berlangsung di bawah terik matahari. Bagi orang luar, praktik ini mungkin terasa melelahkan dan tidak efisien. Namun, tidak satu pun warga meninggalkan barisan sebelum seluruh rangkaian selesai.

Di titik inilah makna sosialnya bekerja. Barisan panjang tersebut memaksa setiap orang untuk hadir sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional. Mereka yang sempat berselisih atau saling menjaga jarak tidak memiliki ruang untuk menghindar. Silaturahmi tidak diposisikan sebagai pilihan personal, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif.

Yang juga mencolok, halal bihalal di Dusun Klepu berlangsung tanpa konsumsi apa pun. Warga datang tanpa membawa makanan, bingkisan, atau sumbangan. Tidak ada pembeda status sosial yang ditampilkan lewat hidangan. Semua berdiri sejajar sebagai sesama warga.

Di tengah budaya Lebaran yang semakin sarat konsumsi, terutama di perkotaan, tradisi ini menghadirkan kontras yang tajam. Silaturahmi dilepaskan dari logika jamuan dan gengsi sosial. Yang hadir hanyalah pertemuan antarwarga, sapaan sederhana, dan saling memaafkan. Nilai perjumpaan ditempatkan di atas simbol-simbol materi.

Setelah halal bihalal usai, warga kembali ke aktivitas masing-masing. Ada yang berkumpul bersama keluarga, ada yang berwisata, dan ada pula yang langsung menuju sawah atau ladang. Bagi warga desa, Lebaran tidak selalu berarti berhenti total dari kerja, terutama bagi mereka yang memiliki ternak atau ladang yang tidak mengenal hari libur.

Warga yang melihat tetangganya bekerja di hari Lebaran kerap menegur dengan ajakan singgah untuk wedangan. Di Dusun Klepu, minum teh panas menjadi kebiasaan yang melampaui waktu dan cuaca. Teh disajikan bersama panganan sederhana seperti singkong rebus, kacang, atau gatot. Kesederhanaan ini justru melahirkan kehangatan yang tidak dibuat-buat.

Tradisi halal bihalal di Dusun Klepu menunjukkan bahwa perubahan sosial di desa tidak selalu berujung pada hilangnya nilai. Bentuknya boleh bergeser, tetapi tujuannya tetap sama, yakni menjaga hubungan antarwarga. Ritual sederhana ini berfungsi sebagai perekat sosial, meredam konflik, mempertemukan kembali relasi yang renggang, dan menegaskan rasa kebersamaan.

Di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi oleh kesibukan dan kepentingan personal, tradisi semacam ini mengingatkan bahwa silaturahmi membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan untuk hadir tanpa pamrih. Lebaran di Dusun Klepu bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang belajar tentang hidup bersama, tanpa jamuan dan tanpa kemewahan, tetapi dengan ketulusan yang berakar kuat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *