Magelang, Krajan.id – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Muhammad Arrasit, berhasil merancang sekaligus mengimplementasikan identitas visual resmi bagi destinasi wisata Air Terjun Kedung Kayang di Kabupaten Magelang. Perancangan tersebut menjadi bagian dari tugas akhir skripsinya yang disusun di bawah bimbingan Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom. Karya ini bertujuan memperkuat citra destinasi wisata alam agar tampil lebih profesional, konsisten, dan mudah dikenali oleh masyarakat luas.
Air Terjun Kedung Kayang terletak di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Destinasi wisata ini dikenal memiliki lanskap pegunungan yang khas serta karakter aliran air terjun alami yang relatif stabil sepanjang tahun. Potensi keindahan alam tersebut menjadikan Kedung Kayang sebagai salah satu daya tarik wisata di wilayah Magelang.
Namun, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan Arrasit dengan pihak pengelola, destinasi ini sebelumnya belum memiliki logo maupun sistem identitas visual resmi sebagai fondasi komunikasi dan promosi wisata.
Dalam penelitiannya, Arrasit menegaskan bahwa ketiadaan identitas visual berdampak pada lemahnya pembentukan destination image di benak wisatawan. Ia menilai bahwa pada era pariwisata digital saat ini, identitas visual memegang peran strategis dalam membangun profesionalisme, kredibilitas, sekaligus diferensiasi sebuah destinasi.
“Logo dan sistem identitas visual bukan sekadar elemen estetika, tetapi merupakan alat komunikasi visual yang merepresentasikan karakter, nilai, dan keunikan destinasi,” ujar Arrasit dalam penjelasannya.
Perancangan identitas visual Kedung Kayang mengangkat potensi lokal kawasan, khususnya lanskap pegunungan serta karakter aliran air terjun yang menjadi daya tarik utama wisata. Konsep visual juga dikaitkan dengan potensi ekonomi masyarakat Desa Wonolelo. Seluruh elemen tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan logo, sistem warna, tipografi, serta supergrafis yang disusun berdasarkan kaidah dan teori desain komunikasi visual.
Tidak hanya berhenti pada perancangan logo, Arrasit juga menyusun Graphic Standard Manual (GSM) sebagai pedoman penggunaan identitas visual secara resmi. GSM tersebut memuat filosofi logo, panduan sistem warna, tipografi, pengaturan area aman (clear space), konfigurasi logo, hingga contoh implementasi visual pada berbagai media komunikasi, baik cetak maupun digital. Penyusunan GSM dinilai penting guna menjaga konsistensi penggunaan identitas visual dalam jangka panjang.
Sebagai bentuk penguatan aspek legalitas, logo Wisata Air Terjun Kedung Kayang telah memperoleh perlindungan melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang resmi terdaftar pada 28 Januari 2026. Dengan adanya HKI, identitas visual tersebut memiliki perlindungan hukum sekaligus legitimasi sebagai identitas resmi destinasi wisata.
Penanggung jawab Wisata Air Terjun Kedung Kayang, Surono, menyampaikan apresiasi terhadap hasil karya mahasiswa tersebut. Menurutnya, keberadaan identitas visual menjadi langkah penting dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata.
“Selama ini Kedung Kayang belum memiliki identitas visual yang jelas. Dengan adanya logo dan panduan penggunaannya, kami sebagai pengelola merasa lebih percaya diri dalam melakukan promosi dan menjalin kerja sama. Identitas visual ini sangat membantu agar Kedung Kayang terlihat lebih profesional dan mudah dikenali wisatawan,” ungkap Surono.
Dalam tahap implementasi, identitas visual tersebut diaplikasikan pada berbagai media cetak, seperti kop surat, amplop, brosur, banner, buku tamu, hingga kartu nama. Selain itu, penerapan identitas visual juga dilakukan pada media merchandise pendukung, antara lain stiker, kaos, sandal, payung, serta kemasan kopi Arabika khas Desa Wonolelo. Pemanfaatan merchandise tersebut diharapkan dapat menjadi sarana promosi tidak langsung yang mampu memperluas jangkauan pengenalan destinasi wisata.
Melalui perancangan identitas visual yang dilakukan secara akademis serta diperkuat legalitas HKI, karya Arrasit diharapkan mampu menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pengembangan pariwisata lokal yang profesional, berkelanjutan, dan berbasis potensi daerah. Upaya ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan sektor pariwisata dalam memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia.





