Kacangan, Krajan.id – Inovasi pemetaan digital berbasis teknologi geospasial mulai diterapkan di Desa Kacangan, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkenalkan peta digitasi lahan jagung berbasis penitikan Avenza Maps sebagai solusi atas persoalan pengelolaan limbah pertanian yang selama ini belum tertata.
Inovasi tersebut digagas oleh Martha Silitonga, mahasiswa KKN dari Jurusan Teknik Geodesi UNDIP, di bawah bimbingan Dr. Amni Zarkasyi Rahman, ahli governansi publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNDIP. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan desa akan data spasial yang akurat, khususnya terkait persebaran dan luasan lahan jagung produktif.
Desa Kacangan dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di wilayah Sragen. Namun, tingginya hasil panen menyisakan persoalan lingkungan berupa limbah bonggol jagung yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, bonggol jagung kerap dibakar atau dibiarkan membusuk, meski memiliki potensi ekonomi sebagai bahan baku briket arang ramah lingkungan.
Persoalan utama terletak pada ketiadaan data yang memadai mengenai lokasi dan luasan lahan panen. Kondisi tersebut menyebabkan rantai pasok bahan baku briket tidak stabil dan sulit diprediksi. Melihat celah tersebut, Martha menyusun Peta serta Modul Digitasi Lahan Jagung Berbasis Avenza yang berfungsi sebagai basis data spasial desa.
Peta ini memuat titik-titik lahan jagung produktif yang telah dipetakan secara presisi melalui survei lapangan. Proses penyusunan dilakukan dengan memadukan citra satelit dan verifikasi langsung di lapangan (ground check). Melalui aplikasi Avenza Maps, setiap lahan ditandai menggunakan fitur geotagging sehingga dapat diakses melalui ponsel pintar.
Hasilnya adalah peta interaktif yang memungkinkan perangkat desa dan warga untuk mengetahui sebaran lahan jagung secara detail. Selain itu, peta ini juga dapat digunakan untuk memperkirakan potensi volume limbah bonggol jagung dari tiap petak lahan, bahkan sebelum masa panen tiba. Informasi tersebut dinilai penting untuk mendukung perencanaan pengelolaan limbah yang lebih terukur.
Keberadaan peta digitasi ini menjadi fondasi bagi program lanjutan KKN, yakni pengolahan bonggol jagung menjadi briket. Dengan data spasial yang tersedia, pengumpulan bahan baku dapat dilakukan secara lebih efisien. Jalur pengambilan limbah dapat difokuskan pada lahan dengan produksi tinggi, sehingga menekan biaya transportasi dan waktu operasional.
Pemerintah Desa Kacangan menyambut positif inovasi tersebut. Taryono, selaku Kebayanan Desa Kacangan, menilai pemetaan digital ini memberikan kejelasan alur pemanfaatan limbah pertanian yang sebelumnya terabaikan. Menurut dia, selama ini petani hanya berfokus pada biji jagung, sementara bonggolnya tidak memiliki nilai guna yang jelas.
“Dengan adanya peta ini, kami jadi memiliki gambaran yang lebih pasti terkait potensi bonggol jagung. Ini bisa menjadi awal pengembangan usaha baru berbasis desa,” ujar Taryono.
Penyerahan peta dan modul digitasi lahan jagung pada (8/2/2026) ini dinilai sebagai kontribusi strategis bagi Desa Kacangan. Tidak hanya sebagai alat informasi, peta tersebut juga berfungsi sebagai dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih berbasis data. Ke depan, pemerintah desa diharapkan dapat memanfaatkan peta ini untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta mendorong ekonomi sirkular berbasis pertanian.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





