Jepara, Krajan.id – Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam Tim I Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 38 berhasil membuktikan bahwa tanaman kangkung dapat tumbuh dengan baik di lahan pesisir Desa Teluk Awur, Kabupaten Jepara. Uji coba budidaya ini menjadi upaya awal untuk membuka peluang ketahanan pangan lokal di wilayah pesisir yang selama ini kerap dianggap kurang produktif untuk sayuran.
Desa Teluk Awur dikenal sebagai kawasan pesisir dengan karakteristik lahan yang cukup menantang. Struktur tanahnya cenderung berpasir, mengandung residu garam, serta dipenuhi batuan karang. Kondisi tersebut membuat sebagian besar aktivitas pertanian di desa ini masih terfokus pada tanaman padi atau komoditas skala besar, sementara budidaya sayuran harian belum banyak dikembangkan.

Melihat potensi sekaligus keterbatasan tersebut, mahasiswa KKN-T Undip memilih kangkung sebagai komoditas uji coba. Tanaman ini dinilai adaptif, memiliki masa panen singkat, serta merupakan sayuran yang akrab dengan konsumsi harian masyarakat. Selain itu, kangkung relatif mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan kompleks.
“Kami melihat adanya peluang diversifikasi pangan di wilayah pesisir. Selama ini lahan pantai sering dianggap tidak cocok untuk sayuran darat, padahal dengan memilih komoditas yang tepat seperti kangkung, potensi itu tetap ada,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKN-T Undip di sela kegiatan.
Proses budidaya dilakukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Tahapan dimulai dari pengolahan lahan sederhana, pembuatan bedengan, hingga penanaman benih kangkung. Menariknya, dalam uji coba ini mahasiswa tidak menggunakan pupuk tambahan. Langkah tersebut dilakukan untuk menguji daya adaptasi alami kangkung terhadap tanah pesisir yang relatif asam dan berkarang.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Tanaman kangkung mampu tumbuh merata dengan daun dan batang yang sehat serta layak konsumsi. Temuan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa lahan pesisir tidak memungkinkan untuk ditanami sayuran hijau.
Selain itu, metode budidaya tanpa pupuk tambahan dinilai memiliki keunggulan dari sisi biaya produksi yang rendah. Dengan demikian, pola tanam ini dinilai mudah diterapkan oleh masyarakat, termasuk warga non-petani yang ingin memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah.
Meski demikian, mahasiswa juga mencatat sejumlah kendala selama proses budidaya. Tantangan utama berasal dari pertumbuhan gulma atau rumput liar yang tergolong cepat. Jika tidak dilakukan penyiangan secara rutin, gulma berpotensi menghambat pertumbuhan kangkung karena terjadi persaingan nutrisi.

Respons masyarakat, khususnya petani lokal, terhadap program ini terbilang positif. Sejumlah petani menunjukkan ketertarikan untuk mencoba menanam kangkung sebagai tanaman selingan. Namun, mereka menegaskan bahwa komoditas tersebut lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, bukan sebagai pengganti padi yang tetap menjadi tanaman utama.
Keberhasilan uji coba ini menjadi indikasi awal bahwa diversifikasi tanaman di wilayah pesisir Teluk Awur memiliki peluang untuk dikembangkan. Meski masih berskala terbatas, budidaya kangkung dinilai mampu membuka ruang inovasi pertanian pesisir yang lebih berkelanjutan.
Mahasiswa KKN-T Undip berharap, inisiatif ini dapat mendorong masyarakat memanfaatkan lahan tidur secara lebih optimal sebagai sumber pangan mandiri, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





