Panohan, Krajan.id – Mahasiswa KKN PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Gumilang Gunem mengenalkan teknologi pembakar sampah minim polusi kepada masyarakat Desa Panohan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah skala desa yang lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan.
Sosialisasi disertai demonstrasi penggunaan insinerator sederhana, yakni alat pembakar sampah yang dirancang untuk menekan asap hasil pembakaran. Insinerator tersebut dibuat dari bahan yang relatif mudah diperoleh, seperti bata ringan, semen, pasir, dan rangka besi. Dengan konstruksi sederhana, alat ini diharapkan dapat direplikasi oleh masyarakat desa sesuai kebutuhan lokal.
Anggota Tim KKN UGM Gumilang Gunem, Hafiz Dika Maulana, mengatakan teknologi insinerator diperkenalkan sebagai alternatif atas praktik pembakaran sampah terbuka yang selama ini masih umum dilakukan warga. Menurut dia, kebiasaan membakar sampah tanpa pengendalian asap berpotensi menimbulkan pencemaran udara dan gangguan kesehatan.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab demi menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” ujar Hafiz dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (3/2/2026).
Kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri Kepala Desa Panohan Amir Fuad, perangkat desa, serta perwakilan warga. Dalam forum itu, mahasiswa menjelaskan fungsi, prinsip kerja, dan manfaat insinerator sebagai solusi pengurangan volume sampah rumah tangga.
“Sosialisasi dan demo penggunaan insinerator oleh mahasiswa UGM bertujuan memberikan pemahaman kepada perangkat desa mengenai cara kerja dan manfaat alat ini, yang selanjutnya dapat disosialisasikan kembali kepada masyarakat luas,” kata Hafiz.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN UGM Muhammad Yassir Faruq Arzamy, Hafiz Dika Maulana, dan Kemal Firdaus Ahmad memberikan penjelasan teknis sekaligus praktik langsung pengoperasian insinerator. Sampah dibakar secara lebih terkendali sehingga proses pembakaran berlangsung lebih sempurna.
“Insinerator ini dirancang untuk mengurangi volume sampah secara signifikan. Selain itu, polusi dari sisa pembakaran dapat ditekan, sehingga mendukung kebersihan dan kesehatan lingkungan desa,” ujar Hafiz.
Kepala Desa Panohan Amir Fuad menyambut baik inovasi teknologi sederhana yang diperkenalkan mahasiswa KKN UGM. Ia menilai kehadiran insinerator dapat menjadi solusi praktis bagi warga dalam mengelola sampah sehari-hari.
“Kami mengapresiasi adik-adik KKN UGM yang tidak hanya mengenalkan, tetapi juga mempraktikkan langsung penggunaan insinerator pembakar sampah minim asap ini. Alat ini memberi alternatif pembakaran sampah yang lebih aman, dengan asap yang terkendali sehingga tidak mengganggu pernapasan warga di sekitarnya,” ujar Amir Fuad.
Selain fokus pada persoalan lingkungan, Tim KKN UGM Gumilang Gunem juga menjalankan program pengabdian di bidang pendidikan melalui Festival Sains di SD Negeri Demaan. Kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan konsep sains secara aplikatif kepada siswa sekolah dasar.
Melalui festival tersebut, siswa tidak hanya belajar teori dari buku, tetapi juga melakukan praktik langsung di lapangan. Sejumlah kegiatan yang dilaksanakan antara lain simulasi reaksi kimia menyerupai letusan gunung berapi, lomba cerdas cermat matematika dan ilmu pengetahuan alam, serta pembuatan roket air dari botol plastik bekas, pipa PVC, dan pompa manual.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak siswa mengaku baru pertama kali menyaksikan dan mencoba praktik sains secara langsung. Mereka mengamati bagaimana roket dapat meluncur lurus atau berbelok, lalu mendiskusikan penyebabnya bersama mahasiswa pendamping.
Mahasiswa KKN UGM memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk bereksperimen. Kesalahan tidak langsung dikoreksi, melainkan dijadikan bahan diskusi untuk memahami konsep sains secara lebih mendalam.
“Dari situ, konsep reaksi kimia sederhana diperkenalkan bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai proses yang bisa diamati secara langsung,” ujar Ananda Shabrina Putri Gunawan, Koordinator Desa Demaan Tim KKN Gumilang Gunem.
Menurut Ananda Shabrina, Festival Sains dirancang untuk mematahkan anggapan bahwa sains merupakan pelajaran yang kaku dan sulit. Mahasiswa ingin siswa merasakan proses belajar yang menyenangkan melalui percobaan langsung.
“Biar saja mereka mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Dari situ, rasa ingin tahu akan tumbuh,” katanya.
Kepala SD Negeri Demaan Shodiq Mulyo mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai metode pembelajaran berbasis eksperimen memberi pengalaman baru bagi siswa dan mendorong mereka lebih aktif dalam proses belajar.
“Pendekatan eksperimen dan kompetisi yang dibawa mahasiswa KKN UGM membuat siswa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat,” ujar Shodiq.
Program pengelolaan sampah melalui insinerator dan Festival Sains SD Demaan merupakan bagian dari program unggulan KKN PPM UGM Gumilang Gunem di Kecamatan Gunem. Dosen Pembimbing Lapangan KKN, Dr. Sailal Arimi, M.Hum, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Ia menjelaskan, sebanyak 24 mahasiswa UGM diterjunkan di Kecamatan Gunem dengan total 120 program kerja, di mana setiap mahasiswa mengusulkan lima program sesuai kebutuhan desa.
Sejumlah program lain yang dilaksanakan meliputi pemetaan potensi UMKM desa, pembuatan konten wisata religi Panohan, sosialisasi bahaya cyberbullying, penyuluhan bahaya narkoba dan rokok, pembuatan tepung mocaf, hingga peningkatan literasi melalui kegiatan menulis surat kepada pemimpin negara.
“Saya bersyukur mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga menerapkan ilmunya secara langsung di tengah masyarakat. Semoga manfaatnya dapat dirasakan warga Desa Panohan dan sekitarnya,” ujar Sailal Arimi.
Ia menambahkan, program yang diusung Tim KKN Gumilang Gunem dirancang untuk menjawab persoalan yang dinilai mendesak. Salah satunya adalah persoalan sampah yang kerap menjadi pemicu banjir, pencemaran udara, dan penurunan kualitas lingkungan.
“Dengan insinerator ini, masyarakat yang terbiasa membakar sampah secara terbuka diharapkan terbantu menggunakan alat yang lebih terkendali. Sementara Festival Sains di SD Demaan diharapkan membawa sains keluar dari buku dan masuk ke pengalaman langsung siswa sekolah dasar,” pungkasnya.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





