Mahasiswa KKN UNS 110 Dorong Pelestarian Seni Lebon, Tradisi Penyelesaian Sengketa Khas Pangandaran

Mahasiswa KKN UNS 110 berfoto bersama pelaku Seni Lebon dalam acara Ragam Rasa dan Rupa Selasari (14/2/2026). (doc. KKN UNS 110)
Mahasiswa KKN UNS 110 berfoto bersama pelaku Seni Lebon dalam acara Ragam Rasa dan Rupa Selasari (14/2/2026). (doc. KKN UNS 110)

Selasari, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 110 berupaya menghidupkan kembali Seni Lebon, kesenian tradisional yang berasal dari Dusun Pepedan, Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Upaya ini dilakukan melalui berbagai kegiatan dokumentasi, sosialisasi, dan promosi budaya agar kesenian tersebut tetap dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya lokal, sekaligus memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam tradisi tersebut kepada masyarakat luas.

Bacaan Lainnya

Seni Lebon merupakan kesenian tradisional yang pada masa lalu memiliki fungsi khusus dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini dahulu digunakan sebagai sarana penyelesaian sengketa antarwarga atau antarkampung ketika konflik tidak dapat diselesaikan melalui musyawarah.

Tokoh budaya Desa Selasari, Afan Rachmat, menjelaskan bahwa tradisi ini telah dikenal oleh masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Namun, kesenian tersebut mulai dikenal secara lebih luas pada pertengahan abad ke-20.

“Seni Lebon sebenarnya sudah ada sejak sekitar empat abad lalu, tetapi mulai dikenal lebih luas sekitar tahun 1950-an. Perkembangannya mulai terlihat sekitar tahun 1951–1952,” ujar Afan Rachmat, Sabtu (14/2/2026).

Secara etimologis, kata Lebon berasal dari istilah yang berkaitan dengan kata leb atau kubur. Penamaan tersebut berkaitan dengan praktik tradisi pada masa lalu, ketika pertarungan antarjawara benar-benar dilakukan sebagai bentuk penyelesaian konflik.

Afan menuturkan, dalam praktik awalnya, pertarungan antara jawara dari pihak yang bersengketa dilakukan secara serius hingga berpotensi menimbulkan korban jiwa. Bahkan, masing-masing pihak telah mempersiapkan perlengkapan penguburan sebelum pertarungan dimulai.

“Pada masa lalu, jawara yang kalah atau meninggal dalam pertarungan langsung dikuburkan di lokasi. Karena itu, masing-masing pihak biasanya menyiapkan kain kafan, pacul, dan sekop sebagai perlengkapan penguburan,” jelasnya.

Seiring perubahan zaman, praktik tersebut kemudian mengalami transformasi. Seni Lebon tidak lagi digunakan sebagai sarana penyelesaian konflik, melainkan berkembang menjadi pertunjukan seni budaya yang dapat dinikmati masyarakat sebagai hiburan.

Perubahan ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan tradisi tanpa menimbulkan risiko cedera bagi para pemainnya. Dalam pertunjukan modern, unsur pertarungan masih ditampilkan sebagai bagian dari dramatika pertunjukan, namun telah disesuaikan dengan aspek keselamatan.

“Sekarang trennya berubah. Seni Lebon lebih ditampilkan sebagai kesenian hiburan. Untuk menghindari cedera, para pemain menggunakan pelindung di beberapa bagian tubuh,” kata Afan.

Meski demikian, keberadaan kesenian ini masih menghadapi tantangan. Popularitas Seni Lebon saat ini belum sekuat beberapa kesenian tradisional lain di wilayah Pangandaran. Pertunjukan Lebon biasanya hanya digelar pada acara tertentu atau ketika ada permintaan khusus dari wisatawan.

Untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut, Afan bersama sejumlah pelaku seni mendirikan Sanggar Jembar Mustik di Dusun Pepedan, Desa Selasari. Sanggar ini menjadi wadah pelestarian berbagai kesenian tradisional lokal, termasuk Seni Lebon.

Selain menampilkan Lebon, sanggar tersebut juga mengembangkan berbagai kesenian lain yang kerap hadir dalam acara masyarakat, seperti Ronggeng Gunung.

“Kami tidak hanya menampilkan Lebon. Di sanggar ini juga ada berbagai kesenian tradisional yang biasa tampil dalam acara hajatan masyarakat,” ujarnya.

Melihat potensi budaya yang dimiliki Desa Selasari, mahasiswa KKN UNS 110 kemudian berinisiatif turut berkontribusi dalam upaya pelestarian tradisi tersebut. Mahasiswa membantu melakukan dokumentasi kegiatan seni, mengenalkan sejarah Seni Lebon kepada masyarakat, serta mempromosikannya sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga tradisi daerah. Selain itu, promosi budaya juga berpotensi memperkuat identitas desa sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata budaya di wilayah Pangandaran.

Kehadiran mahasiswa KKN menjadi jembatan kolaborasi antara pelaku budaya lokal dengan masyarakat luas. Melalui kegiatan tersebut, Seni Lebon diharapkan tidak hanya bertahan sebagai cerita sejarah, tetapi juga tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, tokoh budaya, dan kalangan akademisi dapat menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal di tengah arus modernisasi.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *