Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Rocket Stove, Solusi Pengelolaan Sampah Minim Asap di Pantai Watukarung

Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 106 Desa Watukarung bersama pemilik warung kawasan pesisir Pantai Pasir Putih berfoto usai kegiatan pengenalan alat rocket stove sebagai alternatif pengelolaan sampah rumah tangga, Selasa (3/2/2026). (doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 106 Desa Watukarung bersama pemilik warung kawasan pesisir Pantai Pasir Putih berfoto usai kegiatan pengenalan alat rocket stove sebagai alternatif pengelolaan sampah rumah tangga, Selasa (3/2/2026). (doc. Pribadi)

Watukarung, Krajan.id – Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 106 menghadirkan inovasi pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Pasir Putih, Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Mereka membangun Rocket Stove, alat pembakar sampah yang dirancang untuk mengurangi timbunan limbah secara lebih efisien dan minim asap.

Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya volume sampah dari aktivitas wisata, termasuk limbah sabut kelapa yang kerap menumpuk di sekitar pantai. Selama ini, sebagian sampah dibakar secara terbuka sehingga menimbulkan asap dan mengganggu kenyamanan pengunjung.

Bacaan Lainnya

Melalui pembangunan Rocket Stove, mahasiswa KKN UNS berupaya menawarkan solusi yang lebih terkontrol. Alat ini bekerja dengan prinsip aliran udara vertikal yang memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna. Udara masuk dari bagian bawah dan tersirkulasi optimal di ruang bakar internal.

Secara teknis, suhu pembakaran dalam alat ini dapat mencapai 800 hingga 1.200 derajat Celsius. Pada temperatur tersebut, sampah lebih cepat terurai menjadi abu dibandingkan metode pembakaran konvensional. Sistem cerobong internal juga membantu mengurangi emisi asap sehingga tidak menimbulkan kepulan hitam yang mengganggu pemandangan kawasan pantai.

Pembangunan Rocket Stove dilakukan secara permanen di area pantai dan disosialisasikan kepada masyarakat pada Selasa, (3/2/2026). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan dan perawatan alat agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Watukarung, Sriyono, mengapresiasi program tersebut. Menurut dia, keberadaan alat pembakar sampah ini relevan dengan kebutuhan pengelolaan kawasan wisata yang terus berkembang.

Pemilik warung kawasan pesisir Pantai Pasir Putih Desa Watukarung mengikuti kegiatan sosialisasi dan pendemonstrasian langsung penggunaan rocket stove sebagai alat pembakar sampah minim asap bersama Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 106, Selasa (3/2/2026). (doc. pribadi)
Pemilik warung kawasan pesisir Pantai Pasir Putih Desa Watukarung mengikuti kegiatan sosialisasi dan pendemonstrasian langsung penggunaan rocket stove sebagai alat pembakar sampah minim asap bersama Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 106, Selasa (3/2/2026). (doc. pribadi)

Mahasiswa KKN juga menekankan bahwa sisa pembakaran tidak sepenuhnya menjadi limbah.
“Sisa abu hasil pembakaran dari Rocket Stove ini tidak dibuang begitu saja karena berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman warga,” ujar Ardiva, salah satu penanggung jawab kegiatan. Hal ini sejalan dengan visi mahasiswa KKN UNS Kelompok 106 yang ingin menciptakan sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir yang ramah lingkungan.

Pemanfaatan abu sebagai pupuk dinilai dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus mengurangi residu yang terbuang. Dengan demikian, pengelolaan limbah tidak berhenti pada proses pembakaran, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKN UNS Kelompok 106 di Desa Watukarung. Selain pembangunan Rocket Stove, mahasiswa juga melakukan edukasi kepada pedagang dan warga sekitar mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang tertata dan ramah lingkungan.

Mahasiswa berharap alat tersebut dapat dirawat dan digunakan secara konsisten oleh masyarakat. Keberadaan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu mendukung kebersihan kawasan wisata sekaligus menjaga kualitas udara di sekitar pantai.

Dengan langkah tersebut, Desa Watukarung berpotensi menjadi contoh desa wisata yang mampu mengelola limbah secara mandiri dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *