Papringan, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 121 Tahun 2026 menggelar sosialisasi pembuatan yellow trap berbahan botol plastik bekas di Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini menyasar petani dan warga yang memiliki tanaman di pekarangan rumah.
Program tersebut bertujuan mengenalkan alternatif pengendalian hama ramah lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sampah plastik rumah tangga. Yellow trap merupakan perangkap serangga berwarna kuning yang memanfaatkan ketertarikan hama terhadap warna cerah. Perangkap ini dinilai efektif menangkap serangga seperti lalat dan hama kecil lainnya tanpa penggunaan pestisida kimia.
Ketua KKN UNS Kelompok 121, Sahid Yudha, mengatakan kegiatan ini berangkat dari dua persoalan yang kerap ditemui di masyarakat, yakni meningkatnya sampah plastik dan ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
“Melalui sosialisasi ini, kami ingin memperkenalkan solusi sederhana yang bisa dibuat sendiri oleh warga. Botol plastik bekas yang biasanya dibuang ternyata dapat dimanfaatkan menjadi alat pengendali hama yang murah, aman, dan lebih ramah lingkungan,” ujar Sahid.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan konsep dasar kerja yellow trap, yakni memanfaatkan daya tarik visual serangga terhadap warna kuning. Serangga yang mendekat kemudian menempel pada permukaan yang telah diberi lem perekat. Metode ini dinilai lebih aman bagi kesehatan manusia serta tidak mencemari tanah dan air.
Selain teori, mahasiswa juga mempraktikkan langsung tahapan pembuatan perangkap. Bahan yang digunakan relatif sederhana, antara lain botol plastik bekas, pelapis atau cat berwarna kuning, serta lem perekat. Botol dipotong dan dibentuk sedemikian rupa, kemudian dilapisi warna kuning sebelum diberi perekat pada permukaannya.
Mahasiswa turut memberikan penjelasan teknis mengenai pemasangan di lahan pertanian. Yellow trap disarankan dipasang pada ketinggian tertentu dan ditempatkan dengan jarak yang disesuaikan dengan luas lahan. Perawatan juga menjadi perhatian, terutama dalam hal pembersihan dan penggantian lem secara berkala agar perangkap tetap efektif.
Selama kegiatan berlangsung, warga tampak aktif berdiskusi. Sejumlah peserta menanyakan jarak ideal antarperangkap serta waktu yang tepat untuk mengganti lem perekat. Mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan merujuk pada praktik umum pengendalian hama terpadu.
Tokoh masyarakat setempat, Suwarno, mengapresiasi kegiatan yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi warga.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan. Selain membantu mengurangi sampah plastik, yellow trap juga bisa menjadi solusi pengendalian hama yang lebih aman dan hemat biaya,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa membagikan beberapa contoh yellow trap kepada warga agar dapat langsung dipasang di kebun maupun pekarangan. Langkah ini diharapkan mendorong penerapan secara mandiri di tingkat rumah tangga.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKN UNS Kelompok 121 di Desa Papringan. Melalui edukasi ini, mahasiswa berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah plastik dan praktik pertanian berkelanjutan dapat terus meningkat.
Inisiatif sederhana tersebut menunjukkan bahwa inovasi pengendalian hama tidak selalu bergantung pada bahan kimia. Dengan pendekatan yang tepat, limbah rumah tangga pun dapat diolah menjadi solusi yang bermanfaat bagi lingkungan dan produktivitas pertanian warga.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





