Krajan.id – Menilik laporan Global Cancer Observatory (Globocan) tahun 2022, jumlah pasien kanker baru di Indonesia mencapai 408.661 kasus, dengan total kematian sebanyak 242.099 jiwa atau setara 59,24 persen dari seluruh pengidap kanker di Tanah Air. Angka kematian tertinggi dialami oleh pasien kanker payudara, paru-paru, leher rahim, kolorektal, dan hati. Secara spesifik, kanker payudara menjadi kasus paling dominan pada perempuan, sedangkan kanker paru menempati posisi teratas bagi laki-laki.
Tingginya angka kematian tidak hanya mencerminkan tingkat keganasan penyakit, melainkan juga kompleksitas pengobatan yang harus dijalani pasien. Salah satu metode yang paling umum adalah kemoterapi. Meskipun efektif dalam menekan perkembangan sel kanker, metode pengobatan ini mengandung efek samping yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup pasien.
Berdasarkan buklet edukasi dari RSUP Dr. Kariadi Semarang dan merujuk pada National Cancer Institute (NCI), pasien yang menjalani kemoterapi dapat mengalami berbagai efek samping, seperti mual-muntah, kelelahan, rasa nyeri, penurunan nafsu makan, peningkatan risiko infeksi, hingga gangguan fungsi genitalia. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga berdampak pada kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Kondisi itu sejalan dengan temuan Ayubbana dkk. (2024) dalam Malahayati Nursing Journal yang menerangkan bahwa kemoterapi berdampak terhadap kualitas hidup pasien kanker, baik pada aspek fisik maupun psikososial. Penelitian ini mencatat adanya penurunan fungsi peran pasien dalam menjalani aktivitas harian, disertai munculnya berbagai keluhan, seperti nyeri dan gangguan tidur, serta tekanan emosional yang mencuat selama proses pengobatan.
Temuan ini menegaskan pentingnya pendampingan suportif untuk membantu pasien mempertahankan kondisi fisik dan keseimbangan psikologis agar rangkaian terapi dapat dijalani secara maksimal. Penelitian serupa dilaporkan Lewandowska et al. (2020) dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH). Mereka menguraikan bahwa penyakit kanker beserta efek samping pengobatannya berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien: terutama pada aspek perawatan diri, aktivitas harian, serta kondisi psikologis seperti kecemasan dan depresi selama menjalani kemoterapi.
Kualitas hidup pasien meliputi berbagai aspek yang kompleks. Meski demikian, kondisi fisik tetap menjadi fondasi utama bagi pasien untuk dapat menjalani terapi secara optimal. Ketahanan tubuh yang menurun akibat efek samping pengobatan kerap kali memengaruhi kemampuan pasien dalam mempertahankan aktivitas harian serta keberlanjutan terapi. Oleh karena itu, upaya pendampingan yang berfokus pada pemeliharaan stamina dan daya tahan tubuh menjadi bagian penting dalam pengobatan, tanpa menggantikan peran utama terapi medis yang diberikan tenaga kesehatan.
Sejumlah kajian menyebutkan bahwa perawatan pendukung (supportive care) merupakan bagian integral dalam penanganan pasien kanker. Dalam praktik klinis, pendekatan ini mencakup berbagai aspek, salah satunya dukungan nutrisi yang bertujuan membantu pasien mempertahankan kondisi fisik, toleransi terhadap kemoterapi, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari selama proses pengobatan. Perawatan pendukung ini dijalankan secara berdampingan dengan terapi medis dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti pengobatan onkologi.
Dukungan nutrisi bagi pasien kanker dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pengaturan asupan makanan, pemantauan status gizi, hingga penggunaan herbal sebagai terapi komplementer. Sejumlah penelitian menunjukkan pemanfaatan herbal cukup umum dilakukan di berbagai belahan dunia untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama menjalani terapi medis. Meskipun demikian, penggunaan herbal sebaiknya tetap diawasi oleh dokter.
Dalam kerangka itu, PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos) menempatkan Zymuno sebagai bagian dari perawatan pendukung bagi pasien kanker yang dapat dikonsumsi secara bertanggung jawab.
Produk Herbal sebagai Pendamping Terapi
Sendhi Dhania, Brand Manager Zymuno, menegaskan peran suplemen dan produk herbal hanya sebagai pendamping terapi, tidak sampai menggantikan pengobatan medis. “Oleh karena itu, setiap penggunaan suplemen atau herbal sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan agar tidak mengganggu terapi yang sedang dijalani,” ujarnya.
Ia menambahkan, Zymuno tidak dirancang untuk menyembuhkan kanker, melainkan membantu memelihara kondisi kesehatan pasien dalam menjalani beratnya terapi. “Zymuno memang bukan obat kanker. Produk ini adalah madu herbal tradisional yang sudah mengantongi izin dari BPOM dan halal MUI. Posisinya lebih condong sebagai pendamping bagi pasien kanker,” terang Sendhi.
Formulasi Bahan Herbal dalam Madu Zymuno
Walau bukan obat kanker, kombinasi bahan herbal alami dalam Zymuno telah diketahui memiliki beragam khasiat bagi tubuh, serta menunjukkan potensi antikanker (klaim ini masih memerlukan penelitian lanjutan dan belum bersifat konklusif). Sendhi memaparkan bahwa tiap 15 ml Zymuno diformulasikan dengan bahan-bahan herbal yang takarannya telah disesuaikan, masing-masing memiliki peran spesifik dalam mendukung pasien sebagai bagian dari pendampingan terapi, yakni:
- ekstrak temulawak (25 mg) mengandung kurkuminoid dan xanthorrhizol;
- ekstrak daun kelor (50 mg) kaya akan eugenol, niaziminin, dan senyawa antiinflamasi alami;
- ekstrak meniran hijau (50 mg) mengandung lignan, tanin, flavonoid, metabolit sekunder dan terpenoid;
- madu (15 ml) kaya akan flavonoid, asam fenolat, asam amino, protein, dan enzim;
- ekstrak temu putih (100 mg) mengandung zerumbone.
Kombinasi bahan ini diformulasikan untuk mendukung pemeliharaan tubuh sebagai pendamping terapi, selaras dengan prinsip bahwa produk herbal tidak menggantikan pengobatan medis. Dengan pengawasan dokter, penggunaan Zymuno bagi pasien kanker akan lebih aman dan terkontrol tanpa mengganggu jalannya terapi utama.
Sumber:
- Ayubbana, S., Ludiana, L., Chrisanto, E. Y., Fitri, N. L., & Sari, S. A. (2024). Kualitas Hidup Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit Umum Daerah Jend. Ahmad Yani Metro. Malahayati Nursing Journal, 6(8), 3419–3432.
- DOI: https://doi.org/10.33024/mnj.v6i8.14080. Diakses pada 17 Januari 2026.
- Global Cancer Observatory (GCO). (2022). Cancer Today: Indonesia. International Agency for Research on Cancer (IARC).
- https://gco.iarc.who.int/media/globocan/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheet.pdf. Diakses pada 16 Januari 2026.
- Lewandowska, A., Rudzki, G., Lewandowski, T., Próchnicki, M., Rudzki, S., Laskowska, B., & Brudniak, J. (2020). Quality of Life of Cancer Patients Treated with Chemotherapy. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17, 6938.
- DOI: https://doi.org/10.3390/ijerph17196938. Diakses pada 17 Januari 2026.
- National Cancer Institute (NCI). Side Effects of Cancer Treatment. https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/side-effects. Diakses pada 18 Januari 2026.
- RSUP Dr. Kariadi Semarang. (2021). Efek Samping Kemoterapi: Cara Mencegah dan Mengatasi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- https://kms.kemkes.go.id/pengetahuan/detail/66b47ef7108c3c91f3882bc3. Diakses pada 17 Januari 2026.





