Arus globalisasi melaju semakin cepat. Modernisasi, industrialisasi, serta budaya instan mendorong perubahan besar dalam pola hidup masyarakat. Dalam pusaran perubahan tersebut, warisan budaya lokal kerap menempati posisi rentan.
Tradisi yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keterampilan tangan sering digeser oleh produksi massal yang serba cepat. Namun, di Kabupaten Lamongan, khususnya Desa Parengan, terdapat warisan budaya yang tetap bertahan sekaligus membuka ruang harapan, yaitu tenun ikat. Produk ini bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya, sumber penghidupan, serta simbol solidaritas sosial.
Tenun ikat telah lama menjadi ciri khas Desa Parengan. Meski demikian, keberlanjutan tradisi ini tidak berjalan mulus. Jumlah pengrajin menyusut. Banyak penenun berhenti karena faktor usia, keterbatasan pasar, serta pandangan bahwa menenun tidak lagi menjanjikan kesejahteraan ekonomi.
Dalam situasi semacam itu, kehadiran H. Miftahul Khoiri melalui pendirian Rumah Tenun Paradila menjadi titik balik penting. Ia menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama kepentingan ekonomi. Tradisi bukan hanya kenangan masa lalu, tetapi dapat dikelola sebagai aktivitas produktif yang memberi nilai tambah.

Rumah Tenun Paradila berfungsi lebih dari sekadar tempat produksi kain. Ia menjadi pusat penggerak sosial dan ekonomi desa. Paradila menghasilkan tiga jenis kain, yakni tenun ikat, dobi, dan songket. Tenun ikat menjadi produk unggulan karena lebih terjangkau dan prosesnya relatif sederhana, sedangkan dobi dan songket menyasar segmen pasar khusus.
Diversifikasi ini memperlihatkan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Pengelolaan yang visioner membuat kerajinan tradisional tidak terperangkap pada romantisme masa lalu, tetapi mampu bersaing dalam ekonomi modern.
Proses pembuatan tenun ikat menunjukkan bahwa sehelai kain menyimpan perjalanan panjang. Tidak seperti kain pabrikan, tenun ikat menuntut ketelitian sejak tahap awal. Proses pengikatan dan pewarnaan benang, yang dikenal sebagai ngebat dan medhèl, memerlukan ketepatan tinggi.
Motif tidak digambar di atas kain melainkan dibangun melalui susunan benang yang telah diikat. Kesalahan kecil dapat mengubah seluruh motif. Karena itu, keterampilan, pengalaman, dan kesabaran menjadi syarat utama. Nilai utama kain tidak hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada proses panjang yang melibatkannya.
Tahap penenunan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin menghadirkan pemandangan khas Desa Parengan. Bunyi kayu beradu di rumah-rumah warga menjadi irama kehidupan sehari-hari. Di sini, nilai estetika berpadu dengan nilai filosofis. Tenun ikat mengajarkan bahwa keindahan lahir dari ketekunan, kedisiplinan, dan kesabaran. Nilai-nilai tersebut kian langka dalam budaya serba cepat, namun tetap hidup dalam tradisi pengrajin.
Model kerja yang diterapkan Rumah Tenun Paradila juga patut dicatat. Para pengrajin tidak diposisikan sebagai buruh pabrik. Mereka merupakan warga desa yang bekerja dari rumah masing-masing. Setiap rumah menjadi unit produksi kecil.
Pola ini memberi fleksibilitas bagi ibu rumah tangga sekaligus memperkuat ikatan sosial. Kegiatan ekonomi menyatu dengan kehidupan keluarga, sedangkan gotong royong hadir sebagai praktik konkret, bukan sekadar slogan.
Nilai tenun ikat Parengan terbukti tidak berhenti pada tingkat lokal. Kain ini pernah diperkenalkan oleh para pelajar SMP Negeri 1 Maduran, Lamongan dalam program pertukaran pelajar ke Hiroshima, Jepang. Respons positif yang diterima menunjukkan bahwa produk budaya Indonesia memiliki daya tarik global. Cerita di balik sebuah kain menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki produk massal. Dunia menghargai otentisitas, proses, dan makna yang menyertai karya tradisional.
Peran generasi muda dalam konteks ini menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya penikmat, tetapi juga penghubung antara tradisi dan modernitas. Melalui kreativitas, tenun ikat dapat dihadirkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan gaya hidup masa kini, misalnya sebagai syal, aksesori, atau busana kasual. Tradisi tetap terjaga, sementara inovasi memberi napas baru agar produk budaya tidak terpinggirkan.
Tantangan yang paling mendesak adalah regenerasi pengrajin. Sebagian besar penenun kini berasal dari generasi tua. Anak muda cenderung mencari pekerjaan yang dianggap lebih modern. Jika hal ini dibiarkan, tenun ikat berisiko berhenti pada satu generasi.
Karena itu, diperlukan sinergi antara pengrajin, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri kreatif. Program pelatihan menenun dapat dikemas lebih menarik. Penguasaan teknik tradisional perlu dipadukan dengan pemahaman desain kontemporer, manajemen usaha, dan pemasaran digital.
Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi kunci. Platform daring membuka akses pasar yang lebih luas. Cerita mengenai proses pembuatan, sosok pengrajin, serta nilai budaya di balik tenun ikat dapat dikemas dalam narasi yang kuat. Pasar kini tidak hanya membeli produk, tetapi juga pengalaman dan identitas. Di sinilah peluang bagi desa-desa penghasil kerajinan tradisional untuk naik kelas.
Tenun ikat Parengan mengingatkan kita bahwa budaya bukan beban, melainkan modal sosial yang bernilai. Kain yang ditenun dari benang-benang tradisi itu menyatukan aspek ekonomi, identitas, dan solidaritas masyarakat. Melestarikannya berarti merawat memori kolektif bangsa. Tradisi tidak menutup pintu bagi inovasi, sebaliknya justru menemukan bentuk baru ketika bertemu kreativitas.
Pelestarian budaya membutuhkan tindakan nyata. Dukungan terhadap pengrajin lokal, pembukaan akses pasar, serta penanaman kebanggaan pada generasi muda merupakan langkah strategis. Tenun ikat Desa Parengan layak diposisikan sebagai warisan dan sekaligus harapan. Selama masyarakat, negara, dan generasi muda terlibat aktif, benang tradisi itu akan terus menenun masa depan Indonesia.





