Kehidupan nelayan di pesisir Gresik bukan sekadar aktivitas mencari ikan. Ia mencerminkan hubungan panjang antara manusia, alam, dan tradisi yang membentuk cara pandang masyarakat pesisir terhadap lingkungan hidupnya.
Melalui kisah Tyo dan ayahnya, Pak Hario, terlihat bagaimana laut diperlakukan bukan hanya sebagai sumber nafkah, tetapi juga ruang yang dihormati, dijaga, dan disyukuri. Nilai semacam ini kian jarang ditemukan di tengah laju modernisasi yang sering menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi.
Tradisi sederhana seperti melempar bunga ke laut sebelum berlayar kerap dinilai tidak relevan oleh generasi modern. Jika dibaca secara sosiokultural, ritual itu bukan praktik kosong. Ia merupakan simbol kesadaran bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas alam.
Nelayan memahami bahwa laut memiliki ritme, hukum, dan risiko yang harus dihormati. Mereka belajar membaca arah angin, arus, serta tanda alam lain dengan kehati-hatian. Di situlah kearifan lokal bekerja sebagai panduan etis sekaligus ekologis.
Kegelisahan Pak Hario ketika hasil tangkapan menurun merefleksikan situasi nyata laut hari ini. Perubahan iklim, eksploitasi sumber daya secara berlebihan, dan pencemaran membuat hasil tangkapan makin tidak menentu.
Nelayan tradisional justru menjadi kelompok paling terdampak, padahal mereka memiliki relasi paling harmonis dengan laut. Pertanyaannya menjadi relevan: apakah arah pembangunan yang ditempuh telah sungguh memperhitungkan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir?
Kisah Tyo memperlihatkan pentingnya pewarisan nilai lintas generasi. Ia tidak sekadar membantu menarik jala. Ia menyerap makna kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat terhadap alam. Di tengah arus globalisasi yang mendorong anak muda menjauh dari tradisi, figur seperti Pak Hario menunjukkan bahwa budaya lokal akan bertahan bila ditanamkan melalui teladan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui slogan pelestarian budaya.
Menjaga laut tidak cukup dengan regulasi formal atau program sesaat. Fondasi ekologinya terletak pada kesadaran budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut. Ketika laut dihormati dan diperlakukan dengan tanggung jawab, keseimbangan antara manusia dan alam memperoleh peluang lebih besar untuk bertahan. Sebaliknya, ketika laut dipandang semata sebagai komoditas, krisis ekologis akan segera berujung pada krisis sosial.
Kisah nelayan Gresik mengingatkan bahwa laut bukan hanya urusan ekonomi. Ia bagian dari identitas, memori kolektif, dan martabat masyarakat pesisir. Hilangnya tradisi, rasa syukur, dan kepedulian ekologis tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga menggerus jati diri komunitas yang selama ini menjadikan laut sebagai rumah, sekolah, dan ruang pengabdian hidup mereka.





