Neurosains dan Kesehatan Mental dalam Dakwah dr. Aisyah Dahlan

Tangkapan layar dr Aisyah Dahlan. (YouTube/@curhatbang)
Tangkapan layar dr Aisyah Dahlan. (YouTube/@curhatbang)

Pada era modern saat ini, dakwah tidak lagi terbatas pada persoalan ibadah atau nasihat keagamaan yang kaku. Para dai kini menggunakan pendekatan-pendekatan baru untuk menyentuh hati umat, salah satunya adalah pendekatan berbasis kesehatan mental dan spiritualitas.

Di antara sosok yang menonjol dengan pendekatan ini adalah dr. Aisyah Dahlan, seorang dokter, pakar neurosains, sekaligus dai perempuan yang aktif membagikan pemikirannya melalui media sosial.

Bacaan Lainnya

Melalui ceramah-ceramahnya yang menggabungkan ilmu kedokteran, psikologi, dan nilai-nilai Islam, dr. Aisyah berhasil menjembatani antara sains dan agama. Ia tidak hanya mengajak umat untuk memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual yakni dengan pendekatan yang menyentuh realitas hidup modern, khususnya terkait emosi, keluarga, dan kesehatan jiwa.

Mengenal Lebih Dekat Sosok dr. Aisyah Dahlan

Dr. Aisyah Dahlan, atau yang akrab disapa dr. Aisyah, lahir di Jakarta pada 17 Desember 1968. Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin, Makassar, dan menempuh program profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selain itu, ia juga merupakan seorang Certified Hypnotherapist dan Master Practitioner Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Minatnya terhadap isu adiksi dan rehabilitasi narkoba bermula dari pengalaman pribadi, ketika adiknya sendiri dinyatakan positif mengonsumsi morfin dan heroin. Kejadian tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya dan mendorongnya untuk mendalami dunia penyembuhan adiksi.

Ia pernah menjabat sebagai Kepala Unit Narkoba di RS Harum Sisma Medika Jakarta, serta mendirikan Yayasan Sahabat Rekan Sebaya (SRS) yang fokus pada pendampingan korban penyalahgunaan narkoba. Kiprahnya juga terlihat dalam berbagai lembaga penanggulangan narkoba, di mana ia aktif sebagai konsultan.

Dedikasinya dalam dunia dakwah menjadikannya figur yang tidak hanya berbicara di ruang-ruang seminar, tetapi juga hadir di kanal-kanal digital yang dekat dengan masyarakat luas. Melalui media sosial, dr. Aisyah membagikan pemahaman keislaman yang diintegrasikan dengan neurosains, parenting, dan pengelolaan emosi. Ia menggunakan pendekatan dakwah berbasis penyuluhan dan analisis sintesis yang membuat pesannya mudah dipahami oleh semua kalangan.

Dakwah Berbasis Neurosains dan Kesehatan Mental

Dalam salah satu webinar bertema “Tips Menjaga Kesehatan Mental dalam Islam agar Tidak Terkena Gangguan Jiwa”, dr. Aisyah menyampaikan bahwa Islam sejatinya memiliki landasan kuat dalam menjaga ketenangan jiwa.

Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri berdzikir dan membaca istighfar. Aktivitas ini, menurutnya, bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga memiliki manfaat ilmiah, yakni menurunkan kadar hormon stres dan menciptakan rasa damai. Artinya, dzikir dan istighfar juga bisa menjadi bentuk terapi spiritual alami yang menguatkan kondisi mental seseorang.

Selain itu, dr. Aisyah juga menekankan pentingnya memahami diri sendiri. Mengenali watak, karakter, serta pola pikir masing-masing individu adalah langkah awal dalam menjaga kesehatan mental. Menurutnya, Islam tidak pernah melarang seseorang untuk merasa marah atau sedih. Namun, agama ini memberikan tuntunan agar setiap emosi tersebut disalurkan secara bijak dan tidak merusak diri sendiri maupun orang lain.

Mengangkat Tema Neuroparenting

Salah satu topik yang kerap diangkat oleh dr. Aisyah adalah neuroparenting yakni pendekatan pola asuh berbasis ilmu saraf. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar meledakkan emosi pada anak, misalnya dengan membentak.

Dalam sebuah podcast bersama artis Nikita Willy, dr. Aisyah menegaskan bahwa marah pada anak bukanlah hal tabu. Namun, yang paling penting adalah bagaimana sikap orang tua setelahnya. Ia menjelaskan bahwa meminta maaf kepada anak bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk integritas dan teladan emosional.

Dengan meminta maaf, anak belajar bahwa orang dewasa pun bisa berbuat salah dan bertanggung jawab atas kesalahan itu. Hal ini akan membentuk karakter anak yang berani mengakui kesalahan, serta tumbuh dengan rasa percaya diri.

Sebaliknya, bentakan tanpa penjelasan dapat meninggalkan bekas luka emosional yang berdampak jangka panjang, menjadikan anak cenderung tertutup atau merasa tidak aman dalam mengungkapkan perasaannya.

Menurut dr. Aisyah, sebuah permintaan maaf sederhana seperti “Maaf ya, tadi Mama marah karena lelah, tapi itu bukan salahmu,” memiliki kekuatan luar biasa. Kalimat tersebut mampu memberikan rasa aman pada anak dan mengajarkan bahwa konflik bisa diselesaikan dengan cara yang sehat.

Dalam perspektif neuroparenting, interaksi semacam ini akan membentuk apa yang disebut “otak cinta” yaitu pola pikir yang positif terhadap diri sendiri dan dunia di sekitarnya.

Islam, Cinta, dan Kelembutan sebagai Kekuatan

Dalam pandangan dr. Aisyah, kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dari sikap seseorang terhadap dirinya dan lingkungan. Islam mengajarkan bahwa kelembutan adalah kekuatan, dan cinta yang baik akan menghasilkan dampak yang luas.

Maka, memperbanyak ibadah, berintrospeksi, memperbaiki komunikasi, dan memiliki keberanian untuk meminta maaf, merupakan bagian dari ibadah yang sejati.

Baginya, cinta sejati bukan sekadar afeksi, melainkan juga mencakup pengakuan akan kesalahan, keinginan untuk memperbaiki, dan kesediaan untuk memberi pelukan hangat yang mampu menghapus air mata.

Dakwah dr. Aisyah adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan dan agama dapat berjalan berdampingan, dan ketika keduanya bersatu, maka lahirlah bentuk dakwah yang membumi dan menyentuh sisi terdalam manusia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *