Pernahkah kamu memperhatikan daun tanaman hias di rumah yang mengatup saat malam hari? Atau mungkin daun pohon asam yang melipat seiring senja datang? Ternyata, tumbuhan juga memiliki waktu “tidur” mereka sendiri. Istilah ilmiahnya adalah niktinasti, sebuah gerakan unik yang menunjukkan betapa canggihnya tumbuhan dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Sama seperti manusia yang memerlukan tidur untuk memulihkan energi, tumbuhan juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun tentu saja, mereka tidak tidur seperti kita. “Tidur” pada tumbuhan terjadi melalui proses gerakan tertentu yang sangat teratur dan terjadi setiap hari, terutama saat malam tiba.
Kata niktinasti berasal dari bahasa Yunani, yaitu “nyktos” yang berarti malam, dan “nastia” yang berarti respon non-arah. Artinya, gerakan ini tidak bergantung pada arah datangnya rangsangan seperti cahaya atau gravitasi. Ini berbeda dengan fototropisme (gerakan tumbuhan menuju cahaya) atau gravitropisme (gerakan akar ke bawah mengikuti gravitasi).
Niktinasti adalah gerakan yang reversibel dan berulang setiap hari, biasanya terjadi pada daun atau kelopak bunga. Saat malam tiba, banyak tumbuhan akan melipat atau menutup daunnya, lalu kembali membuka saat pagi datang. Ini bukanlah sekadar keunikan semata, melainkan respons biologis yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup tumbuhan.
Gerakan niktinasti bukan disebabkan oleh pertumbuhan, melainkan oleh perubahan tekanan turgor dalam sel tumbuhan. Kunci dari proses ini terletak pada sebuah struktur bernama pulvinus, yaitu semacam “sendi” yang terdapat di pangkal daun atau anak daun. Di dalam pulvinus terdapat sel motor, yang bertugas mengatur jumlah air di dalam sel.
Ketika malam tiba, perubahan intensitas cahaya akan mengirim sinyal kepada sel motor untuk mengatur aliran air. Sebagian sel akan melepaskan air, sementara bagian lainnya menyerapnya. Proses ini menyebabkan satu sisi pulvinus mengempis dan sisi lainnya membengkak, sehingga daun pun melipat ke arah tertentu. Saat pagi datang, air kembali didistribusikan seperti semula, dan daun membuka kembali. Sederhana, tetapi sangat efektif!
Menariknya, gerakan ini tidak hanya dipengaruhi oleh cahaya. Tumbuhan ternyata juga memiliki ritme sirkadian, semacam jam biologis internal yang memungkinkan mereka “menebak” kapan siang dan malam datang. Bahkan jika tumbuhan ditempatkan di tempat gelap secara terus-menerus, mereka tetap bisa menunjukkan gerakan niktinasti dalam beberapa waktu.
Ritme sirkadian ini bekerja seperti jam tidur kita. Tumbuhan akan tetap melipat dan membuka daun sesuai jadwal alaminya, sebagai bentuk adaptasi terhadap siklus siang dan malam yang terjadi di alam.i
Beberapa tumbuhan menunjukkan gerakan niktinasti yang sangat jelas. Salah satunya adalah pohon asam jawa (Tamarindus indica), yang daunnya melipat saat malam tiba. Selain itu, keluarga kacang-kacangan seperti kacang polong dan kacang tanah juga menunjukkan respons serupa.
Beberapa bunga, seperti kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), juga mengatupkan kelopaknya di malam hari. Meskipun pada kasus ini, gerakannya sering disebut fotonasti karena merespons cahaya secara lebih spesifik. Tumbuhan Kalatea (Calathea) yang kerap dijadikan tanaman hias juga terkenal dengan daunnya yang “berdoa” pada malam hari, melipat ke atas dengan indahnya.
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa pentingnya gerakan “tidur” ini bagi tumbuhan? Ternyata, niktinasti memberikan banyak manfaat. Saat daun melipat di malam hari, tumbuhan bisa:
- Mengurangi kehilangan air akibat penguapan yang berlebihan.
- Melindungi diri dari serangan hama malam hari.
- Menghemat energi karena proses fotosintesis tidak terjadi saat gelap.
- Menjaga keseimbangan metabolisme internal dengan lebih baik.
Dari sisi pertanian, memahami gerakan ini dapat membantu petani dalam mengatur waktu pemangkasan, penyiraman, dan pemberian pupuk. Dengan begitu, hasil panen bisa lebih optimal karena disesuaikan dengan ritme alami tumbuhan.
Melalui gerakan niktinasti, kita bisa melihat betapa aktif dan cerdasnya tumbuhan dalam beradaptasi. Mereka bukan makhluk pasif yang hanya diam dan tumbuh begitu saja. Mereka bereaksi, menyesuaikan, dan merespons lingkungan sekitar dengan cara yang efisien dan terorganisir.
Lebih dari itu, niktinasti juga mengajarkan kita satu hal penting: bahwa istirahat itu penting, tidak hanya bagi manusia tetapi juga makhluk hidup lainnya. Alam punya caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan, dan tugas kita sebagai manusia adalah menghargai serta belajar darinya.
Niktinasti bukan hanya fenomena menarik bagi ilmuwan atau pengamat tumbuhan. Ini adalah bukti bahwa tumbuhan memiliki sistem hidup yang kompleks dan teratur. Dengan memahami proses ini, kita bisa lebih menghargai kehidupan tanaman yang selama ini mungkin kita anggap “diam”.
Jadi, lain kali kamu melihat daun tanaman hiasmu melipat saat malam, ingatlah: mereka sedang “tidur”, dan itu adalah bagian dari cara mereka bertahan hidup.
Referensi:
Saparwadi, L., Purnawati, B., & Erlian, B. P. (2017). Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Operasi Penjumlahan Pada Bilangan Pecahan Dan Reversibilitas. Jurnal Pendidikan Matematika, 3(2), 60–66.





