Mojokerto, Krajan.id – Upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Melalui inovasi pengemasan dan diversifikasi olahan, produk madu UMKM Madu Mekarsari kini memiliki varian baru berupa honey sachet yang lebih praktis dan ramah pasar wisata.
Program tersebut digagas Sub Kelompok 3 KKN R-16 dan dilaksanakan selama rangkaian KKN pada 7–18 Januari 2026. Adapun pengembangan inovasi produk dilakukan secara khusus pada 9 dan 13 Januari 2026. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan usaha mikro melalui uji coba prototipe produk turunan madu yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh pelaku usaha setelah KKN berakhir.
UMKM Madu Mekarsari merupakan usaha skala rumah tangga yang dikelola Nur, warga Dusun Tangkep, Desa Jatijejer. Selama ini, usaha tersebut memasarkan madu murni hasil panen lokal tanpa pengolahan lanjutan.
Varian madu yang dijual meliputi madu bunga randu, madu bunga kangkung, madu bunga kayu putih, serta bee pollen. Produk tersebut dipasarkan dalam kemasan botol berukuran 450 mililiter, 100 mililiter, dan 50 mililiter, dengan rentang harga antara Rp25.000 hingga Rp110.000 per botol, tergantung jenis dan ukuran.
Meski dikenal di kalangan konsumen lokal, produk Madu Mekarsari masih terbatas pada penjualan madu cair konvensional. Melihat potensi tersebut, tim KKN merancang program pemberdayaan berbasis diversifikasi produk olahan madu. Program ini tidak diarahkan sebagai peluncuran komersial berskala besar, melainkan sebagai tahap uji coba dan referensi pengembangan usaha bagi mitra UMKM.
“Titik berat kegiatan ini adalah memberikan contoh inovasi yang realistis, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kapasitas usaha rumah tangga,” demikian disampaikan tim KKN dalam rilis kegiatan tertanggal (13/1/2026).
Tiga produk turunan yang dikembangkan dalam program ini adalah selai stroberi berbasis madu, minuman teh bunga telang madu lemon, dan honey sachet. Ketiganya dipilih karena selaras dengan tren konsumsi masyarakat yang mengarah pada produk sehat, alami, dan praktis, sekaligus dapat diproduksi menggunakan peralatan sederhana yang sudah dimiliki mitra.

Dari ketiga inovasi tersebut, honey sachet menjadi produk yang paling menonjol. Madu murni dikemas dalam stik plastik food grade berukuran 15 mililiter dengan sistem double seal. Model kemasan ini dinilai lebih higienis, praktis dibawa, dan sesuai untuk kebutuhan konsumsi sekali pakai. Dalam tahap awal, tim KKN bersama mitra memproduksi 50 sachet sebagai batch uji coba.
Proses produksi dilakukan dengan tahapan sederhana namun memperhatikan aspek kebersihan. Mulai dari sterilisasi alat, pengisian madu matang, hingga proses penyegelan rapat untuk mencegah kebocoran. Tim juga membantu merancang label kemasan yang memuat identitas merek Madu Mekarsari dan informasi produk, sehingga tampilan kemasan terlihat lebih profesional.
Keberadaan UMKM Madu Mekarsari di kawasan wisata Pacet–Trawas menjadi salah satu pertimbangan utama pengembangan honey sachet. Wisatawan cenderung menyukai produk berukuran kecil yang praktis dan mudah dibawa sebagai oleh-oleh. Dibandingkan madu botolan berukuran besar, kemasan sachet memungkinkan konsumen mencoba produk dengan harga lebih terjangkau.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Sub Kelompok 3 KKN R-16 yang terdiri dari mahasiswa lintas program studi. Salah satu anggota tim, Shafira Arinayah Putri dari Program Studi Ilmu Komunikasi, berperan dalam dokumentasi kegiatan, penulisan laporan, serta penyusunan buku panduan inovasi produk olahan berbasis madu.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN R-16, Reza Sarwo Widagdo, S.Tr.T., M.T., turut memberikan pendampingan dan mendorong agar inovasi tersebut dapat menjadi peluang usaha berkelanjutan bagi mitra. Sementara itu, Nur selaku pemilik Madu Mekarsari mengaku memperoleh wawasan baru terkait pengemasan, proses produksi, serta peluang diversifikasi usaha.
Melalui inovasi seperti honey sachet, selai stroberi madu, dan teh telang madu lemon, UMKM madu di Desa Jatijejer diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjualan madu mentah. Produk bernilai tambah ini dinilai berpotensi memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing usaha lokal di kawasan wisata Mojokerto.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





