Sambirobyong, Krajan.id – Upaya mengangkat potensi pangan lokal terus digencarkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 88 melalui program bertajuk BELA DESA (Belajar Pengolahan Potensi Lokal Desa). Kegiatan yang berfokus pada sentralisasi dan pelatihan pengolahan ubi jalar ini dilaksanakan pada Rabu, (28/1/2026), di Desa Sambirobyong, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.
Program tersebut menyasar ibu-ibu PKK Desa Sambirobyong sebagai peserta utama. Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN mendorong peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolah ubi jalar menjadi produk bernilai tambah, seperti Cheese Bread dan lumpia ubi, serta membekali peserta dengan teknik pengemasan vakum agar produk lebih tahan lama dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Ketua KKN Kelompok 88, Naufal Prayoga Adistya dari Program Studi Teknik Mesin, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah konkret untuk mendukung pencapaian SDGs Desa, khususnya tujuan Tanpa Kemiskinan (SDGs 1), Tanpa Kelaparan (SDGs 2), dan Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDGs 8).
“Melalui pelatihan ini, kami ingin ibu-ibu PKK tidak hanya mampu mengolah ubi jalar untuk konsumsi pribadi, tetapi juga menjadikannya sebagai peluang usaha rumahan yang berkelanjutan. Harapannya, ini bisa menambah pendapatan keluarga sekaligus memperkuat identitas Desa Sambirobyong sebagai sentra olahan ubi jalar,” ujar Naufal.
Program BELA DESA berada di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Prof. Dr. Agus Supriyanto S.Si., M.Si. Dalam pelaksanaannya, Naufal bersama delapan mahasiswa lainnya diantaranya Cicilia Prima Jati Respati, Sofi Qhusnul Qotimah, Istiningtyas Haryadi Putri, Umi Khofifah Azzahro, Bintang Axel Agusta, Laeli Shifa Nurfauziah, Masinda Nahar Kanaya, dan Dionisius Owen berkolaborasi menyusun konsep pelatihan yang aplikatif dan mudah dipraktikkan.
Penanggung jawab program, Masinda Nahar Kanaya dari Program Studi Sastra Indonesia, menuturkan bahwa pemilihan ubi jalar bukan tanpa alasan. Desa Sambirobyong memiliki potensi hasil panen ubi jalar yang cukup melimpah, namun selama ini pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan dalam bentuk mentah dengan nilai jual relatif rendah.
“Selama observasi, kami melihat bahwa ubi jalar di desa ini memiliki kualitas baik, tetapi belum diolah secara maksimal. Padahal, jika dikreasikan menjadi produk kekinian dengan kemasan menarik, nilai ekonominya bisa meningkat signifikan,” jelasnya.
Dalam sesi pelatihan, peserta diajarkan teknik dasar pengolahan ubi jalar menjadi adonan Cheese Bread yang lembut dan lumpia dengan isian variatif. Tak hanya itu, mahasiswa juga memberikan materi tentang strategi pengemasan menggunakan mesin vakum agar produk lebih awet dan higienis, sehingga memungkinkan pemasaran hingga luar daerah, bahkan ke seluruh Indonesia.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Ibu Purwanti, salah satu peserta, menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan tersebut.
“Program ini bagus sekali untuk mengembangkan nilai jual ubi jalar di Desa Sambirobyong. Ibu-ibu juga memiliki antusiasme yang tinggi terhadap keberjalanan acara ini,” ujarnya.
Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan berbasis potensi lokal. Dengan memanfaatkan ubi jalar sebagai komoditas unggulan desa, Sambirobyong tidak hanya memperkuat sektor ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan pangan lokal.
Mahasiswa KKN menargetkan terbentuknya usaha kecil berbasis rumah tangga yang dikelola ibu-ibu PKK. Dengan adanya inovasi produk dan strategi pemasaran yang tepat, ubi jalar diharapkan dapat menjadi produk khas Desa Sambirobyong yang memiliki identitas dan daya tarik tersendiri.
Selain peningkatan keterampilan, manfaat lain yang diharapkan adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru di tingkat desa. Jika produksi olahan ubi jalar berkembang, bukan tidak mungkin akan muncul unit usaha bersama atau koperasi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Naufal menambahkan bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen dan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah desa.
“Kami berharap setelah program ini selesai, ibu-ibu PKK tetap konsisten memproduksi dan mengembangkan inovasi olahan ubi jalar. Dengan begitu, dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Melalui program pelatihan pengolahan ubi jalar ini, mahasiswa KKN UNS Kelompok 88 menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan desa. BELA DESA bukan sekadar pelatihan sehari, melainkan langkah awal menuju kemandirian ekonomi Desa Sambirobyong.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, ubi jalar kini tak lagi dipandang sebagai komoditas biasa, melainkan peluang emas untuk membangun ekonomi desa yang lebih kuat dan berdaya saing.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





