Strategi Desa Laman Satong Menjaga Hutan Demi Masa Depan yang Berkelanjutan

Sumber mata air yang berada dalam kawasan Gua Maria yang dijaga oleh masyarakat desa. (doc. kanaldesa)
Sumber mata air yang berada dalam kawasan Gua Maria yang dijaga oleh masyarakat desa. (doc. kanaldesa)

Laman Satong, Krajan.id – Ketika sinar matahari pagi mulai menembus celah dedaunan, kehidupan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, perlahan dimulai. Seperti biasa, warga bersiap menjalani rutinitas mereka, sebagian besar berprofesi sebagai petani dan peladang. Namun, ada satu aktivitas penting yang tak pernah absen dalam keseharian mereka: menjaga kelestarian hutan desa yang menjadi sumber kehidupan utama.

Di antara para penjaga hutan, ada satu nama yang dikenal karena dedikasinya—Manjau Bonapentura Rino Sambioga, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Laman Satong. Setiap pagi, ia mengenakan perlengkapan sederhana: sebilah parang, botol minum, dan senter. Dengan langkah mantap, ia menyusuri jalan setapak di tengah hutan, memastikan bahwa ekosistem tetap terjaga dan tak ada perambahan liar.

Bacaan Lainnya

“Kami sudah menyepakati aturan bersama. Hutan adalah sumber kehidupan, jadi kami harus menjaganya dari ancaman perambahan dan ekspansi perkebunan kelapa sawit,” ujar Rino dikutip dari situs kanaldesa.

Bersama warga lainnya, ia melakukan patroli hutan secara bergantian. Mereka memastikan tak ada aktivitas ilegal yang dapat merusak lingkungan. Baginya, menjaga hutan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari identitas dan warisan yang harus diteruskan kepada generasi mendatang.

Pada awalnya, mayoritas warga Desa Laman Satong menggantungkan hidup dari pertanian tradisional. Mereka menanam kopi, durian, dan langsat dengan sistem tumpang sari yang telah diterapkan secara turun-temurun. Namun, perkembangan zaman membawa perubahan besar. Ekspansi perkebunan sawit mulai merambah ke sekitar desa, menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat.

Lahan pertanian yang dulu subur kini tergeser oleh kebun sawit skala besar. Beberapa warga yang sebelumnya petani beralih menjadi buruh perkebunan, sementara lainnya mulai tergoda untuk menggantikan kebun kopi dengan tanaman kelapa sawit. Namun, dampak negatif dari kehadiran sawit mulai terasa.

“Kami melihat sendiri bagaimana desa-desa lain yang membiarkan sawit masuk akhirnya mengalami krisis air. Kami tidak ingin hal yang sama terjadi di sini,” tegas Rino.

Selain menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, tanaman sawit juga mengonsumsi banyak air, sehingga mengancam ketersediaan sumber daya air bersih di desa. Hal ini mendorong masyarakat untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan.

Menyadari pentingnya menjaga sumber daya alam, warga bersama pemerintah desa bersepakat mengajukan skema Hutan Desa kepada pemerintah pusat. Melalui program Perhutanan Sosial, mereka memperoleh hak kelola atas kawasan hutan seluas 1.000 hektare. Langkah ini menjadi strategi utama untuk mempertahankan ekosistem desa dari dampak negatif perkebunan sawit.

“Dengan adanya Hutan Desa, kami bisa memastikan bahwa kawasan ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan,” jelas Rino.

Keberhasilan ini membuka peluang baru bagi desa dalam mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat. Salah satu contohnya adalah pengelolaan Gua Maria, destinasi wisata religi yang menarik banyak pengunjung, terutama pada hari-hari besar keagamaan. Wisata ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga membantu menjaga kelestarian hutan dan sumber air.

“Kami mendorong ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang tetap memperhatikan lingkungan. Wisatawan bisa melakukan trekking sambil menikmati keindahan alam dan melihat sumber mata air yang kami lindungi,” tambahnya.

Baca Juga: Bersama OJK, Mahasiswa BBK Unair Gaungkan Sosialisasi Bahaya Pinjaman Online Ilegal di Kelurahan Tandes

Selain mengandalkan ekowisata, Desa Laman Satong juga mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengelola sumber daya alam. Salah satu inisiatifnya adalah pemanfaatan sumber air bersih yang dikelola secara mandiri oleh desa.

Rino, Ketua LPHD Manjau sedang menemani para wisatawan mengunjungi wisata alam yang terhubung langsung ke Gua Maria. (doc. kanaldesa)
Rino, Ketua LPHD Manjau sedang menemani para wisatawan mengunjungi wisata alam yang terhubung langsung ke Gua Maria. (doc. kanaldesa)

Menurut Fransiskus Alexander, Kepala Urusan Perencanaan Pemerintahan Desa Laman Satong, pengelolaan air bersih menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan warga.

“Kami memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam ini dilakukan dengan bijak, sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya dalam jangka panjang,” jelasnya.

BUMDes juga berencana mengembangkan usaha lain yang berkelanjutan, seperti membangkitkan kembali pertanian kopi dan durian yang sempat tergeser oleh perkebunan sawit. Harapannya, dengan adanya diversifikasi ekonomi, warga desa tidak lagi bergantung pada sektor perkebunan sawit sebagai satu-satunya mata pencaharian.

“Ke depan, kami ingin menciptakan model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, agar masyarakat tetap bisa hidup sejahtera tanpa merusak alam,” tambah Fransiskus.

Keberhasilan Desa Laman Satong dalam menjaga hutan dan sumber daya alamnya tidak lepas dari kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah. Kesadaran kolektif untuk menjaga hutan sebagai sumber air telah menjadi dasar bagi berbagai kebijakan desa.

Kini, lebih dari 1.340 kepala keluarga di desa ini dapat menikmati manfaat dari ekosistem yang tetap terjaga. Mereka memiliki akses terhadap air bersih, pendapatan dari ekowisata, serta peluang ekonomi lain yang lebih berkelanjutan dibandingkan menjadi buruh di perkebunan sawit.

Baca Juga: Tingkatkan Identitas dan Kebanggaan Warga Desa Meucat, Mahasiswa KKN UNIMAL Kelompok 164 Bangun Gapura Selamat Datang

“Menjaga hutan bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang masa depan generasi kami. Dengan lingkungan yang lestari, anak cucu kami masih bisa menikmati sumber daya alam yang sama seperti yang kita miliki hari ini,” tutup Fransiskus.

Kisah Desa Laman Satong menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat lokal dapat mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan mereka. Dengan strategi yang tepat, mulai dari penerapan skema Hutan Desa hingga pengembangan ekowisata dan BUMDes, desa ini berhasil menciptakan model pembangunan yang berkelanjutan.

Apa yang dilakukan oleh warga Desa Laman Satong bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk masa depan anak-anak mereka. Inisiatif ini membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *