Serang, Krajan.id – Sorot lampu memenuhi Gedung D Universitas Bina Bangsa, Kamis sore, (8/1/2026). Di tengah tepuk tangan yang bergemuruh, tiga nama dipanggil ke atas panggung. Senyum mereka merekah, langkahnya mantap, meski jejak gugup tak sepenuhnya sirna. Dari puluhan peserta yang mengikuti proses panjang dan kompetitif, tiga mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi itu akhirnya terpilih sebagai Duta Kampus Universitas Bina Bangsa 2026.
Mereka adalah Citra Dwi Anggraini sebagai Duta Literasi Putri, Anas Tasia Mawla sebagai Duta Entrepreneur Putri, dan Brizita Aulia Alwanda sebagai Duta Budaya Putri. Gelar tersebut bukan sekadar simbol prestise, melainkan amanah untuk menjadi wajah, suara, sekaligus representasi nilai-nilai universitas di hadapan publik.
Ajang pemilihan Duta Kampus menjadi ruang pembuktian, bukan hanya tentang penampilan di atas panggung, tetapi juga tentang gagasan, karakter, dan komitmen. Sejak tahap awal, para peserta diuji melalui seleksi administrasi, audisi, pembekalan, hingga akhirnya melangkah ke babak grand final. Setiap tahapan menuntut kesiapan mental, kemampuan komunikasi, serta kejelasan visi.
Bagi Citra Dwi Anggraini, mahasiswi semester pertama lulusan SMA Negeri 1 Kramatwatu, proses tersebut terasa menantang sekaligus menguji keyakinan diri.
“Seleksinya sangat ketat, mulai dari pemberkasan hingga grand final. Tapi saya percaya pada potensi diri saya. Prinsip saya, tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha,” ujarnya, mengenang perjalanan yang dilaluinya.
Anas Tasia Mawla merasakan hal serupa. Latar belakang Ilmu Komunikasi memang membiasakannya berbicara di depan publik, namun kompetisi ini menghadirkan tekanan yang berbeda.
“Mengikuti duta kampus benar-benar menantang. Saya harus melawan rasa takut dan menampilkan versi terbaik dari diri saya,” katanya. Di balik penampilan percaya diri, ada proses panjang mengelola kegugupan dan ekspektasi.
Sementara itu, Brizita Aulia Alwanda menilai ajang ini sebagai ruang belajar yang penuh makna. Baginya, tantangan terbesar bukan hanya soal kompetisi, melainkan mengendalikan diri saat berhadapan dengan banyak pasang mata.
“Saya belajar untuk tetap tenang dan percaya pada kemampuan diri sendiri,” tuturnya.
Kini, setelah selempang duta disematkan, tanggung jawab baru pun dimulai. Ketiganya dituntut menjaga sikap, etika, dan integritas sebagai representasi kampus. Mereka hadir dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik, sekaligus menjadi penghubung antara universitas dan masyarakat luas.
“Menjadi duta kampus berarti kami harus konsisten, baik dalam penampilan maupun perilaku. Kami juga dituntut aktif dan menjadi teladan bagi mahasiswa lain,” ujar Citra.
Tantangan itu menuntut manajemen waktu yang cermat. Akademik tetap menjadi prioritas, di tengah padatnya agenda kedutaan dan kegiatan organisasi.
Terpilih sebagai Duta Kampus membawa dampak nyata bagi ketiganya. Rasa percaya diri tumbuh, jaringan pertemanan meluas, dan pengalaman baru terus berdatangan. “Banyak kesempatan yang sebelumnya tidak terbayangkan kini terbuka. Ini memotivasi saya untuk terus berkembang,” kata Anas.
Brizita berharap, kehadiran duta kampus dapat menghadirkan citra universitas yang hangat dan membumi.
“Kami ingin menyampaikan nilai-nilai positif kampus melalui kontribusi nyata dan komunikasi yang efektif,” ucapnya.
Dengan suara yang sama, ketiganya menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain agar berani mencoba. “Jangan takut gagal. Percaya pada potensi diri dan nikmati prosesnya,” kata Brizita.
Anas menambahkan, rasa takut adalah hal wajar, tetapi jangan sampai menghentikan langkah. Citra menutup dengan keyakinan sederhana, setiap orang memiliki kelebihan, dan keberanian untuk mencoba adalah awal dari setiap pencapaian.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





