Yogyakarta, Krajan.id – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mendorong penguatan transportasi publik ramah lingkungan melalui uji coba operasional bus listrik Trans Jogja di sejumlah koridor strategis wilayah perkotaan. Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda transisi energi di sektor transportasi sekaligus mendukung penerapan low emission zone (LEZ), khususnya di kawasan Sumbu Filosofi yang kini ditetapkan sebagai ruang publik bersejarah dan kawasan prioritas pengendalian emisi.
Uji coba tersebut menandai langkah awal integrasi kendaraan listrik ke dalam sistem Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jogja. Pemerintah daerah menilai pengembangan moda transportasi rendah emisi menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kepadatan lalu lintas dan tuntutan mobilitas perkotaan yang semakin kompleks. Kehadiran bus listrik diharapkan dapat memperbaiki kualitas udara sekaligus meningkatkan citra Yogyakarta sebagai kota yang adaptif terhadap tantangan lingkungan.
Program uji coba bus listrik Trans Jogja mulai dilaksanakan sejak awal 2025. Pada tahap awal, Dinas Perhubungan DIY mengoperasikan dua unit bus listrik sebagai proyek percontohan. Armada tersebut melayani penumpang tanpa tarif sebagai bagian dari strategi pengenalan layanan sekaligus pengumpulan data teknis. Meski gratis, penumpang tetap diwajibkan melakukan tap kartu elektronik guna mendukung sistem pencatatan perjalanan dan evaluasi kinerja layanan.
Selama masa uji coba, Dinas Perhubungan DIY melakukan pemantauan terhadap berbagai aspek operasional. Evaluasi mencakup daya jelajah baterai, efisiensi konsumsi energi, stabilitas kendaraan dalam kondisi lalu lintas padat, serta pola pergerakan penumpang. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menilai kesiapan armada dan sistem sebelum memasuki tahap operasional reguler.
Seiring berjalannya evaluasi, pemerintah melakukan penyesuaian rute operasional untuk meningkatkan efektivitas pengujian. Mulai 1 September 2025, bus listrik Trans Jogja melayani rute Terminal Jombor–Malioboro melalui Jalan Magelang dan sejumlah simpul lalu lintas utama. Jam operasional ditetapkan pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Koridor ini dipilih karena memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi serta intensitas aktivitas ekonomi dan pariwisata yang signifikan.
Pemilihan rute menuju kawasan Malioboro juga dimaksudkan untuk meningkatkan visibilitas layanan bus listrik di ruang publik strategis. Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat merasakan langsung manfaat transportasi publik berbasis listrik di pusat aktivitas kota. Selama masa penyesuaian rute tersebut, kebijakan layanan gratis tetap diberlakukan sebagai bagian dari tahapan uji coba.
Koordinator Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY, Aji, menyampaikan bahwa uji coba bus listrik tidak semata-mata berfokus pada kesiapan kendaraan. Menurut dia, pemerintah juga menaruh perhatian pada kesiapan sumber daya manusia dan sistem pendukung secara menyeluruh.
“Bus listrik ini merupakan bagian dari transformasi layanan angkutan umum di Yogyakarta. Kami tidak hanya menguji kendaraannya, tetapi juga memastikan pengemudi, petugas lapangan, dan sistem operasional siap sebelum memasuki tahap layanan reguler,” kata Aji.
Sebagai bagian dari persiapan, Dinas Perhubungan DIY telah menyelenggarakan bimbingan teknis bagi pengemudi dan petugas terkait. Pelatihan tersebut mencakup pengoperasian sistem kelistrikan kendaraan, manajemen pengisian daya dan pemeliharaan baterai, serta prosedur keselamatan dalam situasi darurat. Pengemudi juga dibekali pemahaman mengenai karakteristik bus listrik yang memiliki akselerasi dan sistem pengereman berbeda dibandingkan bus berbahan bakar fosil.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keandalan layanan sekaligus keselamatan penumpang. Pemerintah daerah menilai bahwa keberhasilan transisi ke transportasi listrik tidak hanya ditentukan oleh teknologi kendaraan, tetapi juga oleh kesiapan operator dan konsistensi standar pelayanan di lapangan.
Dari sisi pengguna, kehadiran bus listrik Trans Jogja memperoleh respons positif. Sejumlah penumpang menilai bus listrik menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman, terutama karena tingkat kebisingan yang lebih rendah dan getaran kendaraan yang minim. Kondisi tersebut dinilai memberikan kenyamanan lebih, terutama pada rute dengan lalu lintas padat dan waktu tempuh menengah.
Selain kenyamanan, implementasi bus listrik juga dipandang memiliki dampak strategis terhadap penataan transportasi perkotaan dan kawasan wisata. Beberapa pengamat transportasi menilai kehadiran armada ramah lingkungan di koridor Malioboro sejalan dengan upaya pengurangan polusi udara di pusat kota. Dalam konteks ini, bus listrik tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga menjadi bagian dari simbol modernisasi transportasi publik yang tetap selaras dengan karakter Yogyakarta sebagai kota budaya.
Melalui akun media sosial resmi pemerintah daerah, Dinas Perhubungan DIY menyampaikan rencana bahwa bus listrik Trans Jogja akan mulai beroperasi secara reguler pada 1 Januari 2026. Pada tahap tersebut, layanan akan dikenakan tarif mengikuti struktur tarif Trans Jogja, yakni sekitar Rp2.700 per perjalanan. Pemerintah daerah menilai tarif tersebut tetap terjangkau bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan operasional armada.
Pemerintah DIY menegaskan bahwa pengembangan bus listrik merupakan bagian dari strategi jangka panjang pengurangan emisi gas rumah kaca di tingkat daerah. Program ini juga sejalan dengan agenda nasional transisi energi dan target zero emission di sektor transportasi.
Melalui tahapan uji coba yang terukur dan berbasis evaluasi, pemerintah berharap integrasi bus listrik ke dalam sistem transportasi publik dapat berjalan secara adaptif dan berkelanjutan.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





