Kandangsapi, Krajan.id – Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, dikenal sebagai salah satu desa yang masih mempertahankan adat istiadat serta budaya Jawa. Bahasa dan aksara Jawa menjadi bagian penting dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, di tengah perkembangan zaman, masih banyak anak yang belum memahami Aksara Jawa, termasuk bentuk dan cara penulisannya yang dikenal sebagai Hanacaraka.
Melihat fenomena ini, Kelompok 82 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan program edukatif bertajuk Dolanan Hanacaraka: Pelestarian Aksara Jawa melalui Edukasi dan Kreasi. Program ini diinisiasi oleh Uchik Aprillia, mahasiswa Program Studi Sastra Daerah/Jawa, dan didukung oleh anggota kelompok lainnya.
Sasaran utama program ini adalah siswa kelas 4 dari tiga sekolah dasar di Desa Kandangsapi, yakni SDN Kandangsapi 1, SDN Kandangsapi 2, dan SDN Kandangsapi 3. Pemilihan siswa kelas 4 didasarkan pada kurikulum yang mulai memperkenalkan materi Aksara Jawa pada jenjang ini.
Kegiatan berlangsung pada tiga waktu berbeda: Senin (20/01/2025) di SDN Kandangsapi 1, Sabtu (25/01/2025) di SDN Kandangsapi 2, dan Jumat (31/01/2025) di SDN Kandangsapi 3.

Pelaksanaan Program Kerja Dolanan Hanacaraka: Pelestarian Aksara Jawa melalui Edukasi dan Kreasi pada hari Sabtu (25/01/2025) di SDN Kandangsapi 2. (doc. KKN UNS 82)
Uchik bersama rekan-rekan yang terlibat dalam program kerja ini yaitu Raka Purnama, Fidelis Aldo, Zsa Zsa Nurfajriah, Rigge Merinta, Melinda Diani, Evan Adriawan, Fadli Rabbani, Ita Febriani, dan Vina Saragih—memaparkan pentingnya melestarikan Aksara Jawa.
Mereka menggunakan media pembelajaran seperti poster Hanacaraka yang dicetak dalam ukuran A4 serta menampilkan video animasi yang mengisahkan legenda Aji Saka sebagai pengantar sejarah Aksara Jawa.
Tak hanya itu, peserta didik juga diajak bermain ular tangga edukatif dengan materi seputar Aksara Jawa dan budaya Jawa, termasuk tembang. Metode ini membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menarik bagi siswa.

Pelaksanaan Program Kerja Dolanan Hanacaraka: Pelestarian Aksara Jawa melalui Edukasi dan Kreasi pada hari Jumat (31/01/2025) di SDN Kandangsapi 3 menggunakan metode belajar ceria dengan permainan ular tangga. (doc. KKN UNS 82)
Uchik Aprillia mengungkapkan bahwa program ini bertujuan untuk mendorong keberlanjutan dan kebermanfaatan pembelajaran Aksara Jawa bagi generasi mendatang.
“Sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keempat tentang Pendidikan Berkualitas, kami percaya bahwa pendidikan yang baik harus selaras dengan budaya setempat. Aksara Jawa merupakan bagian dari identitas yang perlu terus diwariskan agar tidak terjadi ketimpangan dalam membentuk karakter generasi muda,” ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UMBY Berikan Edukasi Bahaya Bank Plecit kepada Ibu-Ibu di Dusun Pancuran
Dukungan penuh juga datang dari Dr. Haris Nugroho, dosen pembimbing KKN UNS 82. Ia menilai bahwa program ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa sekolah dasar, tetapi juga bagi mahasiswa KKN yang berasal dari luar Jawa.
“Kami melihat bagaimana program ini secara tidak langsung juga memperkenalkan budaya Jawa kepada mahasiswa non-Jawa. Ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami keberagaman budaya Indonesia,” katanya.
Program Dolanan Hanacaraka mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Zsa Zsa Nurfajriah, salah satu mahasiswa KKN yang berasal dari luar Pulau Jawa, mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Jawa yang unik.
Saya sangat kagum dengan Aksara Jawa. Program ini membuat saya semakin memahami betapa kaya dan menariknya budaya lokal. Melalui kegiatan ini, saya bisa belajar bersama anak-anak dan merasakan langsung bagaimana budaya itu diwariskan,” ujarnya.
Baca Juga: Gandeng Satgas PPKS UNS, Tim KKN UNS Gelar Sosialisasi Kekerasan Seksual
Kepala SDN Kandangsapi 3, Siti Nurhayati, juga memberikan tanggapan positif terhadap metode pembelajaran yang digunakan.
“Pendekatan yang dilakukan sangat menarik dan sesuai dengan gaya belajar anak-anak. Mereka tampak antusias, semangat, dan tertarik mengikuti pembelajaran. Apalagi dengan adanya kombinasi metode ceramah dan pemanfaatan teknologi seperti pemutaran video, siswa semakin tertantang untuk belajar Aksara Jawa,” katanya.
Program ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam melestarikan Aksara Jawa. Dengan metode edukasi yang menyenangkan, diharapkan anak-anak semakin tertarik untuk mempelajari warisan budaya ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





