Usia 40-an, Stamina Jadi Tantangan: Peran Etawaku Platinum dalam Mendukung Aktivitas Harian

Foto: Dokumen Etawaku Platinum (PT Etos Kreatif Indonesia)
Foto: Dokumen Etawaku Platinum (PT Etos Kreatif Indonesia)

Krajan.id – Ketika seseorang memasuki usia paruh baya atau 40 tahunan, ia mulai menyadari perubahan pada kondisi fisiknya. Aktivitas harian yang sebelumnya terasa normal bagi tubuh—seperti bekerja, membina keluarga, hingga bersosialisasi—kini lebih cepat memicu kelelahan. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan stamina, melambatnya pemulihan energi, serta kebutuhan nutrisi harian yang tidak lagi sama dibandingkan masa muda.

Uraian tersebut selaras dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam artikel Ageing and Health (2025). WHO menjelaskan bahwa proses penuaan terjadi akibat akumulasi kerusakan seluler dan molekuler dari waktu ke waktu, yang berdampak pada penurunan kapasitas fisik dan mental. Kondisi ini membuat kemampuan tubuh dalam memproduksi dan memanfaatkan energi menjadi kurang efisien, sehingga kelompok usia paruh baya hingga lansia lebih rentan mengalami kelelahan saat beraktivitas.

Bacaan Lainnya

Stamina di Usia 40-an yang Kian Menantang

Sejumlah penelitian menunjukkan proses penuaan berkaitan dengan penurunan kapasitas fisik dan meningkatnya rasa lelah, bahkan saat menjalani aktivitas harian yang sebelumnya terasa normal bagi tubuh. Studi pada peserta usia paruh baya dalam Copenhagen Aging and Midlife Biobank menemukan kombinasi antara kelelahan yang dirasakan(fatigue) dan rendahnya daya tahan otot berkorelasi dengan meningkatnya penanda inflamasi dalam tubuh. Temuan ini mengindikasikan adanya perubahan fisiologis yang menyertai proses penuaan sehingga kelompok usia paruh baya lebih rentan mengalami kelelahan dalam aktivitas sehari-hari.

Brand Manager Etawaku Platinum, Devi Eliya, menyatakan bahwa penurunan energi merupakan tantangan yang umum dialami kelompok usia paruh baya hingga lansia.

“Seiring bertambahnya usia: metabolisme tubuh, kemampuan pemulihan, hingga organ pernapasan cenderung mengalami penurunan. Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah lelah dan membutuhkan dukungan nutrisi yang sesuai agar mampu beraktivitas normal,” ujar Devi.

Kebutuhan Nutrisi untuk Menopang Aktivitas Harian

Dalam kajian nutrisi, kecukupan asupan gizi memegang peran penting dalam menjaga stamina seiring bertambahnya usia. Asupan protein dan mineral yang memadai berkontribusi terhadap pemeliharaan massa serta daya tahan otot pada kelompok usia paruh baya hingga lansia yang berperan dalam menjaga kemampuan fisik untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Temuan Landi et al. (2016) dalam Nutrients menegaskan peran protein dalam mempertahankan fungsi otot dan kapasitas fisik pada usia lanjut, sehingga individu tetap mampu menjalani aktivitas rutin dengan lebih optimal.

Selain kuantitas nutrisi, faktor kecernaan turut menjadi perhatian karena proses penuaan memengaruhi fungsi saluran cerna dan efektivitas penyerapan zat gizi. Penelitian Phosat et al. (2022) dalam Malaysian Journal of Nutrition menunjukkan susu kambing memiliki struktur protein dan globula lemak yang lebih kecil dibandingkan susu sapi sehingga lebih mudah dicerna dan mendukung pemanfaatan nutrisi secara lebih efisien.

Etawaku Platinum sebagai Dukungan Nutrisi Sehari-hari

Berdasarkan konteks tersebut, Etawaku Platinum mengadopsi pendekatan nutrisi berbasis susu kambing etawa untuk mendukung kebutuhan energi harian kelompok usia paruh baya hingga lansia. Menurut Devi, pendekatan tersebut berbeda dari sumber energi instan yang umum beredar di pasaran.

“Berbasis susu kambing etawa, nutrisinya lebih mudah diserap tubuh sehingga energi tidak dilepaskan secara instan. Ini berbeda dengan minuman energi yang mengandalkan gula tinggi dan stimulan untuk efek cepat namun singkat,” jelas Devi.

Ia menambahkan, dibandingkan susu sapi, susu kambing etawa cenderung lebih ringan dicerna dan nyaman dikonsumsi secara rutin.

“Hasilnya bukan sekadar terasa bertenaga, tetapi tubuh tetap terjaga fungsinya—termasuk daya tahan dan kesehatan pernapasan—untuk mendukung aktivitas harian jangka panjang,” kata Devi.

Berdasarkan pengamatan perusahaan, pengalaman konsumen usia paruh baya hingga lansia juga menunjukkan manfaat serupa.

“Banyak pengguna merasa lebih bertenaga setelah beraktivitas, bergerak lebih nyaman, dan pulih lebih cepat dari kelelahan ringan,” ungkapnya.

Untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian, Etawaku Platinum dianjurkan dikonsumsi secara rutin. Devi menyarankan konsumsi pada pagi hari setelah makan untuk menunjang aktivitas sejak awal hari ataupun pada malam hari menjelang tidur sebagai bagian dari upaya pemulihan tubuh.

“Konsumsi secara rutin, baik di waktu pagi maupun malam, ditujukan untuk membantu menjaga kondisi tubuh tetap bugar dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Meski demikian, Devi menegaskan Etawaku Platinum tidak diposisikan sebagai produk medis.

“Etawaku Platinum bukan obat dan tidak diklaim dapat menyembuhkan atau menggantikan pengobatan profesional untuk penyakit tertentu. Produk ini berfungsi sebagai nutrisi pendukung untuk membantu memelihara energi dan kesehatan dalam keseharian,” tegasnya.

Bagi masyarakat usia paruh baya hingga lansia, menjaga energi tidak lagi semata soal mencari tenaga instan, melainkan membangun kebiasaan nutrisi yang berkelanjutan. Dengan dukungan asupan yang sesuai, proses menua tidak selalu identik dengan penurunan produktivitas, tetapi dapat menjadi fase hidup yang tetap aktif, seimbang, dan berkualitas.

Sumber:

  • Bautmans, I., Knoop, V., Beyer, I., Bruunsgaard, H., Molbo, D., Mortensen, E. L., & Lund, R. (2024). The Relationship Between Self-Perceived Fatigue, Muscle Endurance, and Circulating Markers of Inflammation in Participants of the Copenhagen Aging and Midlife Biobank (CAMB). European Review of Aging and Physical Activity, 21(36). DOI: https://doi.org/10.1186/s11556-024-00336-9. Diakses pada 24 Januari 2026.
  • Landi, F., Calvani, R., Tosato, M., Martone, A. M., Ortolani, E., Savera, G., D’Angelo, E., Sisto, A., & Marzetti, E. (2016). Protein intake and muscle health in old age: From biological plausibility to clinical evidence. Nutrients, 8(5), 295. DOI: https://doi.org/10.3390/nu8050295. Diakses pada 24 Januari 2026.
  • Phosat, C., Phosat, C., Hudthagosol, C., Phienluphon, P. P., & Kwanbunjan, K. (2022). The effect of goat’s milk consumption on the clinical health of middle-aged adults with lactose intolerance. Malaysian Journal of Nutrition, 28(2), 263–274. DOI: https://doi.org/10.31246/mjn-2021-0087. Diakses pada 24 Januari 2026.
  • World Health Organization (WHO). (2025). Ageing and Health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ageing-and-health. Diakses pada 23 Januari 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *