Sampang, Krajan.id – Pagi merekah di Kedungdung ketika kabut tipis menggantung di atas permukaan Waduk Klampis. Riak air yang tenang memantulkan langit pucat, sementara suara burung dan gemerisik angin menyapa petani yang bersiap menapaki hari. Di sinilah waduk yang dibangun untuk menahan laju kekeringan itu berdiam, menjadi nadi air sekaligus ruang pertemuan warga.
Waduk Klampis memegang peran strategis bagi masyarakat sekitar. Fungsinya sebagai penampung air irigasi membuat lahan pertanian tidak lagi sepenuhnya menyerahkan nasib pada musim. Sawah tadah hujan yang dahulu rawan merekah kering kini mendapat aliran air teratur. Warga mengenang masa sebelum waduk hadir, ketika gagal panen seolah menjadi tamu tahunan. Kini, kecemasan itu perlahan surut.
“Sejak ada waduk ini, aliran air ke sawah lebih terjaga. Walau kemarau, kami masih bisa bertahan,” ujar Hasan, petani setempat, Jumat (2/1/2026). Ucapannya sederhana namun memuat rasa lega yang panjang, sebuah jeda dari ketidakpastian.
Air waduk juga merembes ke kehidupan rumah tangga. Ia dipakai untuk mencuci serta keperluan nonkonsumsi, menjadi bagian dari rutinitas harian yang kerap dianggap sepele, tetapi terasa berarti saat musim kering datang.
Di tepian, deretan perahu kecil terikat. Pemancing duduk sabar, menunggu getaran halus di ujung joran. Aktivitas ini menghadirkan keheningan akrab sekaligus peluang tambahan penghasilan bagi sebagian warga yang menjual ikan tangkapan mereka.
Menjelang senja, suasana berubah. Langit menghangat, dan permukaan air menjelma cermin jingga. Keluarga, anak muda, hingga orang tua datang berombongan.
Mereka menikmati angin yang bersih, berbincang, atau sekadar membiarkan pikiran mengalir mengikuti arus. “Kalau sore ramai, apalagi hari libur. Pemandangannya indah, anginnya sejuk,” kata Firdaus, warga yang kerap membawa keluarganya ke sini.
Pada musim kemarau, warna tanah di sekeliling waduk berubah lebih pucat, tetapi hamparan air tetap menghadirkan rasa teduh. Aroma rerumputan kering bercampur dengan tanah basah dari tepian yang terinjak, menimbulkan bau khas yang sulit dilupakan.
Anak-anak berjalan di pematang sambil tertawa, sesekali berhenti melempar kerikil ke permukaan air yang memantul pecah. Para ibu duduk saling berbagi kisah di bawah pohon peneduh, sementara pedagang kecil menawarkan minuman sederhana kepada pengunjung.
Ritme harian itu membentuk mozaik kehidupan yang akrab: tidak gegap gempita, namun hangat dan bersahaja, membuat orang yang datang merasa ingin kembali. Di kejauhan, barisan bukit rendah menjadi latar, seakan memeluk waduk dan menjaga kesunyian yang tumbuh di sekitarnya setiap hari tanpa banyak suara.
Namun keindahan itu membutuhkan perawatan. Beberapa sudut masih berserak sampah plastik, dan fasilitas sederhana seperti tempat duduk serta area parkir memadai belum sepenuhnya tersedia.
Pemerhati lingkungan, Ahmad Fauzi, mengingatkan pentingnya pengelolaan berkelanjutan. Ia menekankan, waduk tidak hanya tampungan air, melainkan aset ekologis yang memerlukan aturan jelas agar ekosistem tetap terjaga. Kesadaran warga, menurutnya, adalah kunci penjaga masa depan waduk.
Pemerintah desa membuka kemungkinan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Harapan mereka sederhana: penataan yang baik dapat menjaga fungsi utama waduk sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal. Perangkat desa menyebut, jika dikelola dengan bijak, waduk mampu menghadirkan manfaat ganda berupa ketahanan air dan ruang rekreasi yang layak.
Kini Waduk Klampis hadir sebagai bukti bahwa infrastruktur air bukan sekadar bangunan beton. Ia adalah lanskap hidup yang memayungi sawah, menenangkan pikiran, dan menautkan warga dalam satu ruang bersama. Dengan pengelolaan yang tertib serta kepedulian kolektif, waduk ini berpeluang terus mengalirkan manfaat bagi masyarakat Sampang, hari ini dan esok.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.





