Home Sweet Loan merupakan salah satu film drama Indonesia paling menonjol di tahun 2024. Disutradarai oleh Sabrina Rochelle, film ini mengadaptasi novel karya Almira Bastari dengan mengangkat isu-isu yang sangat relevan di tengah kehidupan urban masa kini.
Cerita berfokus pada sosok Kaluna, diperankan dengan apik oleh Yunita Siregar, seorang perempuan muda yang cerdas dan berwawasan luas, yang berjuang untuk mandiri secara finansial di tengah tekanan sosial dan konflik personal.
Kaluna memiliki impian besar: memiliki rumah sendiri sebagai simbol kemandirian dan hasil kerja kerasnya. Namun, perjuangan itu jauh dari mudah. Tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi, Kaluna juga harus berhadapan dengan masalah keluarga yang tidak mendukung dan hubungan asmara yang pincang.
Sosok pacarnya, Hansa, justru menjadi salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan hidup Kaluna. Alih-alih memberikan dukungan, Hansa menunjukkan sikap pasif bahkan enggan terlibat dalam usaha Kaluna mewujudkan rumah impiannya.

Ketimpangan peran antara Kaluna dan Hansa menjadi gambaran nyata dari maskulinitas hegemonik yang masih banyak dijumpai dalam hubungan modern. Hansa merasa terancam oleh ambisi Kaluna yang semakin kuat. Ia menunjukkan rasa tidak nyaman saat Kaluna mulai menunjukkan kemandiriannya.
Dalam pandangannya, seorang pria harus tetap berada di posisi dominan, termasuk dalam keputusan-keputusan besar seperti urusan tempat tinggal. Hansa bahkan memilih tinggal bersama ibunya dengan alasan membangun masa depan, padahal kenyataannya ia sedang menghindari kenyataan.
Film ini dengan halus namun tegas mengangkat dinamika hubungan yang tidak seimbang, sekaligus mengkritisi norma-norma patriarkal yang masih mengakar. Kaluna, meskipun tak mendapat dukungan dari pasangannya, tetap teguh memperjuangkan mimpinya.
Ia meluangkan waktu selepas kerja untuk mencari informasi soal KPR, membandingkan harga rumah, dan berdiskusi dengan teman-temannya. Kemandirian perempuan menjadi tema utama yang diangkat dengan kuat.

Menariknya, konflik tidak hanya muncul dalam hubungan Kaluna dan Hansa. Perselisihan pendapat juga terjadi antara Kaluna dan sahabatnya, Miya. Miya memilih tinggal di apartemen yang fleksibel dan modern, mencerminkan gaya hidup kelas menengah atas yang praktis.
Sementara Kaluna menginginkan rumah permanen, stabil, dan nyaman untuk jangka panjang. Dialog mereka memperlihatkan perbedaan kelas sosial dan pandangan terhadap makna “rumah” yang tidak sekadar fisik, tetapi juga nilai budaya dan simbol status.
Dari sisi teknis, film ini mengandalkan pendekatan visual yang sederhana namun tajam. Sudut pandang kamera seperti over the shoulder dan eye level digunakan untuk mempertegas ketidakseimbangan hubungan antar karakter.
Pencahayaan yang redup dalam adegan malam memperkuat nuansa ketegangan dan jarak emosional. Salah satu adegan paling kuat adalah saat Hansa menolak mendiskusikan rencana rumah bersama, memperlihatkan bagaimana komunikasi yang buruk dapat memunculkan jarak psikologis dalam hubungan.
Secara keseluruhan, sinematografi film ini menyatu dengan narasi yang sarat makna. Konflik domestik tidak ditampilkan secara klise, melainkan dijadikan pintu masuk untuk pembahasan isu sosial yang lebih luas, seperti peran gender, tekanan sosial terhadap laki-laki dan perempuan, serta perjuangan untuk mandiri di tengah sistem yang tidak selalu mendukung.
Melalui karakter Kaluna, penonton diajak untuk melihat bagaimana perempuan modern menghadapi kompleksitas hidup dengan kepala tegak. Ia tidak hanya bertahan di tengah badai, tapi juga terus melangkah maju.
Kaluna bukanlah korban, melainkan figur inspiratif yang memperjuangkan haknya atas masa depan yang layak. Sementara itu, karakter Hansa mencerminkan bagaimana konstruksi sosial terhadap maskulinitas bisa menjadi penghambat bagi pertumbuhan individu dan relasi sehat.
Film ini berhasil mengangkat pertanyaan penting: apakah rumah adalah tempat fisik, atau representasi dari perjuangan, identitas, dan pilihan hidup? Ketika dukungan dari orang terdekat tidak hadir, perjuangan itu menjadi semakin berat karena tidak hanya melawan realita, tapi juga ketidakpedulian dari lingkungan terdekat.
Dengan cerita yang hangat namun menggugah, Home Sweet Loan menyentuh banyak sisi kehidupan urban kontemporer: dari mimpi memiliki rumah, tekanan sosial, hingga persoalan cinta yang rumit. Dialog-dialognya mengalir alami, sinematografinya mendukung emosi, dan penampilan para pemainnya terasa autentik.
Sebagai penutup, Home Sweet Loan bukan sekadar film drama biasa. Ia adalah refleksi tajam terhadap kondisi sosial kita hari ini, tentang perempuan, pilihan hidup, dan perjuangan mewujudkan mimpi meski sendirian. Film ini layak diapresiasi sebagai salah satu karya sinematik Indonesia yang mengangkat realita dengan cara yang personal namun universal.





