Di tengah geliat digitalisasi dan arus informasi yang deras, minat baca masyarakat Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2023, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia berada pada angka 66,77 poin—mengalami peningkatan dari 63,90 poin pada 2022. Meski tergolong kategori “sedang”, capaian ini belum cukup untuk mengangkat kultur baca bangsa ke level yang ideal.
Rata-rata masyarakat Indonesia membaca selama 1 jam 38 menit per hari atau sekitar 9,9 jam per minggu. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2017 yang hanya mencapai 36,48 poin, tentu saja ini merupakan perkembangan positif.
Namun demikian, tantangan literasi tetap besar. Lembaga internasional seperti UNESCO dan Central Connecticut State University (CCSU) mengungkapkan fakta bahwa hanya satu dari seribu penduduk Indonesia yang dapat digolongkan sebagai pembaca aktif. Artinya, hanya 0,001% masyarakat yang benar-benar menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Survei Snapcart tahun 2024 menunjukkan bahwa sebenarnya 88% anak muda Indonesia menyukai aktivitas membaca. Sayangnya, semangat itu sering terhambat oleh sejumlah kendala, seperti harga buku yang relatif tinggi, waktu baca yang terbatas, dan akses terhadap buku yang belum merata. Harga buku fisik sering dianggap mahal oleh kalangan menengah ke bawah.
Data Good Stats awal 2025 mencatat bahwa meskipun 85,2% responden lebih menyukai buku cetak, sebagian besar hanya mampu mengalokasikan kurang dari Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Hanya 24,6% responden yang mampu menghabiskan hingga Rp500.000, dan bahkan hanya 4,6% yang mengalokasikan lebih dari angka tersebut.
Penelitian LIPI pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa harga buku di Indonesia bisa mencapai 10–15% dari upah minimum regional (UMR), jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jerman dan Jepang, yang hanya berkisar pada 2–5% dari UMR.
Diskusi literasi di ruang digital juga mengindikasikan hal serupa. Dalam sebuah thread di Reddit pada Februari 2025, beberapa warganet menyatakan bahwa tingginya harga buku secara tidak langsung menurunkan minat baca.
“Tapi dengan harga buku mahal, ya mengurangi minat literasi,” tulis salah satu pengguna.
Ada pula yang mengaku harus menyisihkan uang jajan demi membeli buku, namun mengeluhkan kurangnya diskon dan akses ke perpustakaan yang memadai.
Dalam diskusi literasi yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada awal 2025, Dr. Maria Aulia dari Universitas Indonesia menyampaikan bahwa harga rata-rata sebuah buku fiksi atau non-fiksi di Indonesia berkisar antara Rp80.000 hingga Rp150.000. Jumlah ini tentu terasa berat jika dibandingkan dengan penghasilan minimum di beberapa daerah.
Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, rata-rata pengeluaran rumah tangga Indonesia untuk sektor pendidikan dan bacaan hanya 3,2% dari total pengeluaran bulanan. Dari persentase tersebut, porsi yang digunakan untuk membeli buku bacaan tentu sangat kecil karena harus bersaing dengan kebutuhan pendidikan lainnya seperti biaya sekolah dan alat tulis.
Meski demikian, penting untuk menegaskan bahwa mahalnya harga buku bukanlah penghalang mutlak untuk meningkatkan minat baca.
Penulis dan pegiat literasi, Okky Madasari, dalam sebuah wawancara menyampaikan bahwa “Buku tidak hanya memperkaya pengetahuan, tapi juga membentuk empati, imajinasi, dan daya kritis. Kita tidak bisa menunggu semua buku jadi murah, tapi kita bisa mencari cara agar akses terhadap buku semakin luas.”
Berbagai upaya konkret sebenarnya sudah mulai dilakukan. Pemerintah melalui Perpusnas telah meluncurkan aplikasi iPusnas, sebuah perpustakaan digital yang menyediakan ribuan judul buku secara gratis.
Namun, perlu ada sosialisasi lebih intensif, terutama di daerah pelosok. Selain itu, komunitas seperti Taman Baca Masyarakat (TBM) dan gerakan tukar buku juga menjadi alternatif bagi masyarakat untuk tetap mengakses bacaan tanpa harus membeli.
Langkah strategis lain yang bisa dipertimbangkan adalah pemberian insentif pajak bagi penerbit serta penghapusan pajak atas buku bacaan. Pengembangan e-book dengan harga terjangkau juga menjadi solusi potensial, mengingat penetrasi internet dan penggunaan perangkat digital kian meluas.
Namun lebih dari itu, budaya literasi juga sangat ditentukan oleh lingkungan sosial. Anak-anak yang tumbuh tanpa teladan membaca di rumah maupun sekolah akan sulit mencintai buku, meskipun akses diberikan secara cuma-cuma.
Seperti yang ditegaskan Dr. Maria Aulia, “Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tanpa contoh membaca akan sulit mencintai buku, meski buku gratis sekalipun.”
Oleh karena itu, membangun budaya baca harus melibatkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, komunitas, dan pemerintah. Buku memang bisa jadi mahal, tetapi manfaatnya dalam membentuk karakter, memperkaya wawasan, serta meningkatkan kualitas bangsa tidak ternilai harganya. Harga bukan satu-satunya penghalang, yang kita butuhkan adalah aksi nyata.





