Cisimeut Raya, Krajan.id – Upaya mencegah penyebaran penyakit ternak dilakukan mahasiswa KKN Kolaborasi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melalui program edukasi pembuatan biosekuriti dan disinfektan mandiri di Kampung Cimuntur, Desa Cisimeut Raya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu (24/1/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran peternak mengenai pentingnya penerapan biosekuriti ternak sebagai langkah preventif dalam mengendalikan penyakit menular pada hewan ternak. Program tersebut juga memberikan pelatihan praktis kepada masyarakat untuk membuat disinfektan alami dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kolaborasi UNS-UNTIRTA yang berada di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T. Tim KKN dipimpin oleh Dadang Agus Prasetiyo dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, dengan Anissa Aprilia Rizky sebagai penanggung jawab program.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan puluhan mahasiswa lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam tim KKN, di antaranya Raysya Alicia, Aqiela Nasywa Hayuni, Salsabila Sifa Azzahro, Kezia Nian Kharisma Hutagalung, Abdullah Farras Mahdi, Sayyidah Syarifatul A’ala, Muhammad Harits Abyan Darwien, Sarah Albelita Purba, Avia Mahotami, Sri Oktaviana br Barus, Wildan Fatoni, Wakhid Bagas Rohmadi, Alyana Zahrani Aribah, Malikasari, Devon Jehuda Carmelion Sitorus, Zahra Nandara Agatha, Amara Azhzahra Pratiwi, Muhammad Faiz Abdurrahman, Rahma Laila Tasyrika, Ranny Gracia T. Jitmau, Vista Khoirunnisa Nur Hidayah, Eva Nur Safitri, hingga Izzuddin Abdurrahman Alghiffari.
Ketua KKN, Dadang Agus Prasetiyo, menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya penerapan biosekuriti di kalangan peternak rakyat. Padahal, langkah pencegahan tersebut sangat penting untuk melindungi ternak dari ancaman penyakit menular.
“Melalui program ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada peternak mengenai pentingnya biosekuriti sebagai langkah pencegahan penyakit ternak, sekaligus memperkenalkan cara membuat disinfektan mandiri dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa,” ujar Dadang.
Ia menambahkan bahwa edukasi yang diberikan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga praktik langsung agar masyarakat dapat menerapkannya secara mandiri dalam aktivitas peternakan sehari-hari.
Biosekuriti sendiri merupakan serangkaian tindakan pencegahan yang bertujuan melindungi ternak dari ancaman penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun parasit. Penerapan biosekuriti mencakup pengaturan lalu lintas orang dan hewan di sekitar kandang, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penyebaran penyakit ternak seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD) yang sebelumnya sempat menjadi kekhawatiran peternak di berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN di lapangan, sebagian peternak di Desa Cisimeut Raya masih belum menerapkan prosedur biosekuriti secara optimal. Beberapa di antaranya menganggap prosedur tersebut rumit, sementara biaya pembelian disinfektan kimia dianggap cukup mahal.
Padahal, pencegahan penyakit jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika penyakit telah menyebar dan menyebabkan kerugian ekonomi, baik akibat penurunan produktivitas ternak maupun risiko kematian hewan.

Penanggung jawab program, Anissa Aprilia Rizky, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini dirancang dengan pendekatan sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
“Program ini kami rancang sebagai bentuk edukasi sekaligus solusi praktis bagi peternak agar mereka dapat membuat disinfektan sendiri dengan bahan yang murah dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar,” ungkap Anissa.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut, peternak dapat lebih mandiri dalam menjaga kebersihan kandang serta kesehatan ternak mereka.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pentingnya sanitasi kandang, pengelolaan kebersihan peralatan peternakan, serta pengawasan kesehatan hewan secara berkala. Materi disampaikan secara interaktif agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Selain itu, tim mahasiswa juga membagikan brosur edukatif yang berisi panduan praktis mengenai penerapan biosekuriti di tingkat peternakan rakyat.
Sebagai bagian dari kegiatan praktik, mahasiswa juga mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan disinfektan alami berbahan organik. Bahan yang digunakan antara lain sereh, cuka putih, dan jeruk nipis yang dinilai lebih ramah lingkungan serta lebih ekonomis dibandingkan produk kimia komersial.
Proses pembuatannya dimulai dengan merebus sekitar lima hingga sepuluh batang sereh yang telah dimemarkan ke dalam satu liter air mendidih. Setelah sari rebusan diperoleh dan didinginkan, larutan tersebut kemudian dicampur dengan sekitar 200 mililiter cuka putih serta perasan lima buah jeruk nipis.
Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol semprot dan dapat digunakan untuk menyemprot lantai kandang, dinding kandang, maupun peralatan ternak. Kombinasi kandungan asam asetat pada cuka, asam sitrat pada jeruk nipis, serta senyawa sitronela pada sereh diketahui memiliki fungsi sebagai antibakteri, antiseptik, sekaligus pengusir serangga.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peternak yang hadir. Mereka menilai inovasi yang diperkenalkan mahasiswa cukup sederhana namun aplikatif, sehingga dapat langsung diterapkan dalam kegiatan peternakan sehari-hari tanpa membutuhkan biaya besar.
Program edukasi ini juga memiliki kontribusi lebih luas terhadap upaya pencegahan penyakit, tidak hanya pada hewan ternak tetapi juga secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Penyakit ternak yang tidak terkendali dapat berdampak pada ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor peternakan.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 2 yaitu Tanpa Kelaparan (Zero Hunger). Kesehatan ternak berkaitan erat dengan produktivitas hasil peternakan sebagai sumber pangan sekaligus sumber pendapatan masyarakat desa.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mahasiswa KKN Kolaborasi UNS dan UNTIRTA berharap para peternak di Desa Cisimeut Raya dapat semakin mandiri dalam menjaga kesehatan ternaknya. Dengan demikian, produktivitas peternakan tetap terjaga dan ketahanan ekonomi masyarakat desa dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





