Eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang menekankan pentingnya kebebasan individu serta pencarian makna hidup di dunia yang sering kali terasa absurd, seperti yang tampak dalam kenyataan bahwa manusia diharapkan menciptakan makna sendiri meskipun dunia tampak acuh tak acuh terhadap perjuangan mereka.
Pemikiran eksistensialis, yang dipelopori oleh tokoh seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, menyoroti fakta bahwa hidup tidak memiliki makna yang baku. Oleh karena itu, setiap individu bertanggung jawab untuk menciptakan maknanya sendiri.
Dalam pandangan ini, kebebasan tidak hanya menjadi anugerah tetapi juga beban, karena datang bersama tanggung jawab moral yang besar. Eksistensialisme mengajak manusia untuk menghadapi absurditas hidup tanpa melarikan diri, melainkan menerimanya dengan kesadaran penuh dan terus berjuang mencari makna dalam kehidupan sehari-hari.
Eksistensialisme berakar dari pemikiran filsuf-filsuf seperti Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Kierkegaard, yang sering dianggap sebagai “bapak eksistensialisme,” menekankan pentingnya hubungan personal manusia dengan Tuhan. Nietzsche, di sisi lain, mengusung gagasan bahwa manusia harus melampaui nilai-nilai tradisional dan menciptakan makna hidupnya sendiri.
Pada abad ke-20, pemikiran eksistensialisme berkembang pesat melalui karya Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Sartre menekankan kebebasan sebagai esensi manusia, sedangkan Camus memusatkan perhatian pada absurditas kehidupan.
Eksistensialisme tidak hanya memengaruhi dunia filsafat tetapi juga seni, sastra, dan budaya populer. Aliran ini tetap relevan dalam diskusi modern tentang identitas, kebebasan, dan makna hidup di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks.
Kebebasan dan tanggung jawab adalah inti dari filsafat eksistensialisme. Manusia dianggap sebagai makhluk yang sepenuhnya bebas untuk menentukan hidupnya. Kebebasan ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga melibatkan kebebasan eksistensial, yaitu kemampuan untuk memilih dan menentukan arah hidup secara sadar, terlepas dari tekanan eksternal seperti norma sosial, tradisi, atau hukum.
Jean-Paul Sartre menyebut kebebasan ini sebagai “kutukan” karena manusia tidak bisa menghindarinya. Menurut Sartre, “Manusia terkutuk untuk bebas,” yang berarti bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan, bahkan ketika ia memutuskan untuk tidak bertindak.
Setiap keputusan yang diambil membawa konsekuensi, dan manusia harus bertanggung jawab penuh atas tindakannya. Tidak ada ruang untuk menyalahkan orang lain atau keadaan eksternal atas pilihan yang telah dibuat.
Søren Kierkegaard menambahkan bahwa kebebasan ini sering kali disertai kecemasan eksistensial, yaitu perasaan gelisah yang muncul dari kesadaran akan tanggung jawab penuh atas hidup kita. Namun, kecemasan ini juga memberikan peluang bagi manusia untuk hidup secara autentik, yakni menjalani hidup sesuai dengan nilai dan prinsip yang benar-benar diyakini. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep kebebasan ini terlihat dalam berbagai keputusan, seperti pilihan karier, hubungan, atau nilai-nilai hidup.
Eksistensialisme mengajarkan bahwa hidup tidak memiliki makna universal yang melekat. Sebaliknya, manusia harus menciptakan maknanya sendiri melalui tindakan, pengalaman, dan nilai-nilai yang dipilihnya.
Kesadaran akan keterbatasan, seperti fakta bahwa hidup akan berakhir, mendorong manusia untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan menghargai setiap momen yang dimiliki.
Keaslian atau autentisitas menjadi salah satu prinsip utama dalam eksistensialisme. Hidup autentik berarti hidup sesuai dengan keinginan dan nilai yang benar-benar berasal dari dalam diri sendiri, bukan karena tekanan atau ekspektasi dari orang lain. Prinsip ini mengajarkan keberanian untuk menghadapi absurditas hidup, yakni kontradiksi antara kebutuhan manusia akan makna dan kenyataan bahwa dunia tidak menyediakannya.
Baca Juga: Filsafat sebagai Kunci Memahami Dunia: Mengapa Pengantar Filsafat Penting untuk Setiap Generasi
Keterasingan juga merupakan bagian dari keberadaan manusia. Perasaan terpisah dari orang lain, masyarakat, atau bahkan diri sendiri sering muncul, tetapi eksistensialisme melihat keterasingan ini sebagai peluang untuk lebih menghargai hubungan yang bermakna.
Hidup, meskipun penuh ketidakpastian, menuntut keberanian untuk terus melangkah, menciptakan makna, dan menghadapi tantangan tanpa kehilangan jati diri.
Eksistensialisme memiliki dua pendekatan utama terhadap relasi manusia dengan Tuhan: religius dan ateistik. Dalam pendekatan religius, seperti yang diuraikan oleh Kierkegaard, Tuhan menjadi sumber makna sejati. Ia menekankan pentingnya “lompatan iman,” yaitu keberanian untuk percaya kepada Tuhan meskipun penuh dengan ketidakpastian.
Sebaliknya, pendekatan ateistik yang dianut oleh Sartre dan Camus menolak keberadaan Tuhan sebagai sumber makna hidup. Tanpa Tuhan, manusia harus menciptakan nilai dan maknanya sendiri. Sartre menegaskan bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas hidupnya tanpa bimbingan dari entitas ilahi.
Camus, sementara itu, memandang absurditas hidup sebagai tantangan yang harus diterima. Ia menyerukan pemberontakan melawan absurditas ini dengan menciptakan nilai-nilai sendiri daripada menyerah pada nihilisme.
Baca Juga: Filsafat Sebagai Kompas Kehidupan Manusia
Meski berbeda pandangan, baik Kierkegaard maupun Sartre dan Camus sama-sama mengakui absurditas dan kecemasan sebagai elemen fundamental dari keberadaan manusia. Dalam pendekatan religius, absurditas diatasi melalui iman kepada Tuhan, sedangkan dalam pendekatan ateistik, absurditas diterima sebagai tantangan yang mendorong manusia untuk menciptakan maknanya sendiri.
Eksistensialisme mengajarkan bahwa kebebasan adalah kekuatan yang memungkinkan manusia menentukan hidupnya sendiri. Namun, kebebasan ini datang bersama tanggung jawab besar atas setiap pilihan yang dibuat. Manusia dituntut untuk menghadapi kebebasan ini dengan keberanian, tanpa menyalahkan pihak lain atas konsekuensi yang muncul.
Dalam menghadapi absurditas hidup, eksistensialisme menawarkan dua jalan: iman kepada Tuhan atau keberanian untuk menciptakan makna sendiri. Kedua pendekatan ini sama-sama mengajak manusia untuk hidup secara sadar, autentik, dan penuh keberanian. Pada akhirnya, eksistensialisme bukan hanya sebuah teori, melainkan panduan untuk menjalani hidup yang lebih bermakna dan penuh kesadaran.





