Kasus yang menimpa produk suplemen kesehatan Blackmores di Australia menjadi pengingat penting bahwa keamanan suplemen tidak boleh diperlakukan sebagai isu sekunder. Produsen besar sekalipun tidak imun dari risiko ketika aspek keselamatan konsumen tidak dikomunikasikan dan diawasi secara ketat.
Sorotan terhadap Blackmores muncul setelah otoritas kesehatan Australia, Therapeutic Goods Administration (TGA), menerima banyak laporan gangguan saraf perifer yang diduga berkaitan dengan konsumsi vitamin B6 dalam dosis tinggi dan jangka panjang.
Vitamin B6 selama ini dipersepsikan sebagai zat gizi yang aman karena dijual bebas dan kerap diasosiasikan dengan peningkatan kesehatan saraf dan metabolisme tubuh. Persepsi ini bermasalah.
Ketika dikonsumsi melebihi ambang aman tanpa pengawasan tenaga medis, vitamin yang bersifat larut air sekalipun dapat memicu dampak serius. Laporan gangguan saraf yang diterima TGA menegaskan bahwa batas antara suplemen dan obat menjadi kabur ketika konsumsi tidak didasarkan pada kebutuhan klinis.
Pernyataan Blackmores bahwa produknya telah sesuai dengan regulasi yang berlaku di Australia memang penting dicatat. Namun, respons regulator yang justru memperketat aturan kandungan vitamin B6 menunjukkan bahwa kepatuhan administratif tidak selalu sejalan dengan perlindungan kesehatan publik.
Regulasi bersifat dinamis dan sering kali tertinggal dari temuan ilmiah terbaru serta pola konsumsi masyarakat. Karena itu, pengawasan berkelanjutan dan pembaruan kebijakan berbasis bukti menjadi keniscayaan.
Lebih dari sekadar soal regulasi, persoalan utama terletak pada komunikasi risiko. Industri suplemen kerap menonjolkan klaim manfaat tanpa memberi penjelasan memadai mengenai batas aman konsumsi dan potensi efek samping. Konsumen akhirnya mengambil keputusan berdasarkan asumsi keliru bahwa produk alami atau vitamin selalu aman dikonsumsi dalam jumlah besar. Di titik inilah tanggung jawab etis produsen diuji.
Perlu ditegaskan bahwa isu ini terbatas pada produk yang dipasarkan di Australia dan tidak mencerminkan seluruh lini produk Blackmores secara global. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan menyatakan bahwa produk Blackmores yang beredar telah memenuhi standar keamanan nasional, serta produk yang disorot di Australia tidak dipasarkan secara resmi di dalam negeri. Penegasan ini penting agar tidak memicu kepanikan publik yang tidak proporsional.
Meski demikian, pelajaran dari Australia tetap relevan bagi Indonesia. Pertumbuhan industri suplemen yang pesat harus diimbangi dengan literasi kesehatan masyarakat, transparansi informasi, serta ketegasan regulator.
Suplemen seharusnya menjadi pendukung kesehatan, bukan sumber risiko baru. Kasus Blackmores menunjukkan bahwa kehati-hatian, pengawasan, dan kejujuran informasi adalah fondasi utama kepercayaan publik terhadap industri kesehatan.





