Tegalrejo, Krajan.id – Peningkatan curah hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga memunculkan persoalan kesehatan masyarakat pedesaan. Kondisi lingkungan yang lembap memicu meningkatnya populasi nyamuk pembawa penyakit. Menanggapi situasi tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 137 Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan program pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi kesehatan dan penguatan ekonomi lokal.
Program bertajuk Chembalm Enterprise dilaksanakan pada Rabu (21/1/2026) di RT 03, Dukuh Grenjengan, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini dirancang sebagai solusi terpadu untuk meningkatkan kesadaran kesehatan sekaligus membuka peluang usaha rumahan bagi warga.
Pelaksanaan program berada di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Dr. Rina Herlina Haryanti, S.Sos., M.Si., sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa. Ketua KKN 137, Elvina Damayanti Putri Latifiadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan SDGs poin ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin ke-8 mengenai pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak.
“Sejak awal, program Chembalm Enterprise dirancang untuk memberikan ide usaha yang mudah diproduksi, biaya terjangkau, dan tetap memiliki manfaat kesehatan, terutama pada musim hujan,” ujar Elvina.
Fokus utama program ini adalah pelatihan pembuatan balsem anti-nyamuk berbahan alami yang memanfaatkan minyak sereh (citronella) dan eucalyptus. Pemilihan bahan tersebut didasarkan pada kajian ilmiah mengenai kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai penolak nyamuk sekaligus memberikan efek relaksasi.
Minyak sereh diketahui mengandung sitronelal dan geraniol yang tidak disukai nyamuk, namun aman bagi manusia. Sementara eucalyptus memberikan sensasi hangat dan aroma yang menenangkan. Kombinasi keduanya menghasilkan produk yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari gigitan nyamuk, tetapi juga sebagai balsem aromaterapi.
Pendekatan penggunaan bahan alami menjadi nilai tambah dibandingkan produk pengusir nyamuk berbahan kimia sintetis. Selain lebih ramah lingkungan, produk ini dinilai lebih aman digunakan di dalam ruangan karena tidak menghasilkan asap maupun residu berbahaya. Hal ini penting bagi keluarga, khususnya anak-anak yang rentan terhadap paparan bahan kimia.

Dalam pelaksanaannya, seluruh anggota KKN 137 terlibat langsung mendampingi warga. Peserta pelatihan yang mayoritas terdiri dari ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro diajarkan proses formulasi sederhana dengan memperhatikan standar kebersihan dan keamanan produksi.
Mahasiswa tidak hanya memberikan pelatihan teknis pencampuran bahan, tetapi juga memperkenalkan konsep dasar pengemasan produk. Warga diajak memahami bahwa tampilan kemasan yang rapi dan informatif menjadi faktor penting agar produk memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasar lokal.
Selain itu, peserta mendapatkan materi mengenai perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, hingga strategi pemasaran sederhana. Edukasi kewirausahaan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar konsumen menjadi produsen mandiri.
Penanggung jawab program, Kayla Azkuri Nabila, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penerapan ilmu kimia secara praktis di tengah masyarakat.
“Melalui pemanfaatan ilmu kimia terapan, kami ingin masyarakat tidak hanya menerima manfaat, tetapi mampu memproduksi sendiri dan mengembangkan potensi lokal menjadi peluang usaha,” katanya.
Antusiasme warga Dukuh Grenjengan terlihat sejak awal kegiatan. Peserta aktif mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari pengenalan bahan hingga praktik pembuatan balsem. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan terkait ketersediaan bahan baku, teknik produksi, serta kemungkinan pemasaran produk.
Salah satu peserta mengaku tertarik karena proses pembuatannya relatif mudah dan dapat dilakukan di rumah.
“Balsemnya nyaman di kulit, hangatnya pas, dan ternyata cara membuatnya tidak sulit,” ujarnya.
Melalui keterampilan baru ini, masyarakat Desa Tegalrejo memiliki peluang mengembangkan produk unggulan desa berbasis bahan alami. Jika dikelola secara berkelanjutan, produk tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
Program Chembalm Enterprise juga membuka peluang terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif desa, di mana warga tidak hanya memproduksi untuk kebutuhan sendiri, tetapi dapat mengembangkan usaha bersama melalui kelompok kecil atau UMKM.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif. Mahasiswa tidak hanya menjalankan fungsi pengabdian, tetapi juga mentransfer pengetahuan yang dapat dimanfaatkan secara jangka panjang.
Dengan adanya program ini, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan musim sekaligus memiliki bekal keterampilan produktif. Upaya sederhana tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian desa, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.
Ke depan, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada inisiatif warga untuk terus memproduksi dan mengembangkan inovasi serupa. Jika konsisten dijalankan, Chembalm Enterprise berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan yang dapat direplikasi di desa lain.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





