Langkah Strategis Mengatasi Kondisi Darurat Literasi di Indonesia

Ilustrasi Langkah strategis mengatasi kondisi darurat literasi di Indonesia (source: freepik)
Ilustrasi Langkah strategis mengatasi kondisi darurat literasi di Indonesia (source: freepik)

Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan. Fungsinya adalah untuk mengembangkan kemampuan, membentuk karakter, dan menciptakan peradaban bangsa yang bermartabat. Tujuan utamanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, serta berilmu.

Pendidikan berkualitas akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Sayangnya, kualitas SDM di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fasilitas pendidikan yang kurang memadai, lingkungan yang kurang mendukung, dan harga buku yang tidak terjangkau. Semua ini menyebabkan rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

Bacaan Lainnya

Menurut Lant Pritchett dari Universitas Harvard (2016, dalam Woolcock, 2017), Indonesia membutuhkan waktu 128 tahun untuk menyamai negara maju dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, peran pemerintah dan pemuda sangat penting dalam mengatasi permasalahan ini.

Generasi muda harus proaktif, merangkul berbagai pihak untuk meningkatkan kemandirian masyarakat demi mewujudkan pendidikan berkualitas. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan pemuda, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Untuk menciptakan SDM yang berkualitas, tentu tidak mudah. Diperlukan upaya serius dan konsisten dari seluruh bangsa. Salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki adalah literasi.

Literasi, menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi dengan cerdas melalui aktivitas seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara.

Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi adalah kemampuan individu mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam daftar The World’s Most Literate Nations. Data UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, yaitu hanya 0,001%. Ini berarti hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang gemar membaca.

Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan berkomunikasi di masyarakat, atau yang dikenal sebagai public speaking. Literasi juga mencakup praktik dan hubungan sosial yang berkaitan dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Rendahnya literasi ini berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan ekonomi. Orang dengan tingkat literasi rendah cenderung sulit mendapatkan pekerjaan yang layak, yang pada akhirnya meningkatkan angka kemiskinan.

Baca Juga: Manfaat Memotong Kuku Perspektif Islam dan Ilmu Kedokteran

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus mengambil langkah strategis untuk mengubah kondisi ini. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk karakter positif pada setiap individu. Kesadaran diri sangat penting, karena tanpa kesadaran, upaya pemerintah dan pendidik akan sia-sia.

Karakter positif dapat dibentuk melalui motivasi dan dukungan, serta pemahaman akan pentingnya literasi. Masyarakat perlu menyadari dampak krisis literasi serta manfaat positif yang dapat diperoleh jika kita dapat mengatasinya. Dengan demikian, masyarakat akan terdorong untuk terlibat dalam upaya mengatasi darurat literasi ini.

Setelah kesadaran terbentuk, langkah berikutnya adalah mengimplementasikan strategi yang tepat. Rasa simpati terhadap kondisi ini akan berubah menjadi empati yang memotivasi tindakan nyata, seperti membiasakan diri untuk membaca, menulis, dan mensosialisasikan pentingnya literasi di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Maraknya Kasus Kekerasan Seksual Sebagai Reaksi Negatif Perkembangan Teknologi

Jika masyarakat memiliki sikap positif terhadap literasi, mereka akan berusaha lebih keras untuk terlibat dalam upaya meningkatkan literasi. Sikap ini akan menjaga konsistensi mereka dalam berkontribusi dan mendorong perubahan positif. Dengan demikian, upaya pemerintah, seperti pengembangan minat baca dan pembelajaran berbasis literasi, akan lebih efektif.

Untuk mewujudkan perubahan ini, dibutuhkan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat. Pendidikan yang berkualitas adalah kunci untuk membentuk karakter yang peduli terhadap literasi. Jika masyarakat memahami pentingnya pendidikan, maka generasi mendatang akan lebih siap menghadapi tantangan dan membangun bangsa yang lebih baik.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *