Umbulsari, Krajan.id – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana alam dilakukan melalui kegiatan sosialisasi bertajuk Pemetaan Tematik sebagai Sarana Sosialisasi Mitigasi Bencana yang digelar pada (15/2/2026) di Padukuhan Umbulsari, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menyasar masyarakat setempat dengan fokus utama pemuda-pemudi Karang Taruna sebagai agen penggerak literasi kebencanaan di lingkungan desa.
Program tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 09 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis pengurangan risiko bencana. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan dosen Dr. rer.nat. Nurhadi, S.Ant., M.Hum., yang mengarahkan pelaksanaan edukasi kebencanaan agar sesuai dengan kondisi geografis dan sosial wilayah setempat.
Ketua KKN, Rifai Fahreza Maliq dari Program Studi Teknik Mesin, menjelaskan bahwa wilayah Piyungan memiliki karakteristik bentang alam yang berpotensi mengalami bencana longsor maupun gempa bumi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukasi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga visual dan mudah dipahami masyarakat.
“Melalui peta tematik kebencanaan, masyarakat dapat melihat secara langsung area rawan dan area relatif aman. Visualisasi ini menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kesadaran sekaligus kesiapsiagaan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Edukasi yang diberikan diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dalam memahami risiko lingkungan dan melakukan langkah mitigasi secara mandiri.
Penanggung jawab program, Diana Nikmatul Ulfah dari Program Studi Pendidikan Geografi, menuturkan bahwa pemetaan tematik dipilih karena mampu menjembatani informasi ilmiah dengan kebutuhan praktis masyarakat.
“Pendekatan spasial membantu masyarakat memahami kondisi wilayahnya sendiri, mulai dari jenis tanah, kemiringan lereng, hingga penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap potensi longsor,” jelasnya.
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memaparkan berbagai materi, antara lain identifikasi potensi bencana di Padukuhan Umbulsari, penjelasan peta kerawanan longsor berdasarkan parameter ilmiah seperti curah hujan dan struktur tanah, serta pengenalan potensi bahaya gempa bumi akibat keberadaan Sesar Opak yang melintasi wilayah Piyungan dan sekitarnya.
Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai langkah-langkah mitigasi bencana yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, simulasi sederhana, serta interpretasi langsung terhadap peta yang telah disusun mahasiswa.
Keterlibatan aktif pemuda Karang Taruna menjadi salah satu kunci keberhasilan kegiatan ini. Mereka diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan edukasi kebencanaan kepada masyarakat yang lebih luas.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satu peserta, Novrita Nur Latifah, menilai sosialisasi tersebut sangat relevan dengan kondisi geografis Padukuhan Umbulsari yang berada di dataran tinggi.
“Menurut aku, sosialisasi mitigasi bencana itu penting banget, apalagi di Desa Umbulsari yang ada di dataran tinggi. Soalnya daerah dataran tinggi kan rawan longsor dan cuaca nggak menentu, jadi warganya emang perlu banget dikasih pemahaman soal bencana. Kalau ada sosialisasi kayak gini, warga jadi lebih ngerti harus ngapain dan nggak gampang panik kalau terjadi apa-apa. Jadi menurut aku, program ini wajib banget diadain di Desa Umbulsari biar semua orang lebih siap dan waspada,” ujarnya.
Senada dengan itu, peserta lainnya, Aditya, menyebut kegiatan sosialisasi memberikan wawasan baru yang lebih terperinci mengenai kondisi wilayah Umbulsari. Ia menilai penjelasan tentang potensi gempa bumi dan tanah longsor, serta langkah antisipasi yang harus dilakukan, disampaikan secara menarik dan mudah dipahami sehingga kegiatan terasa menyenangkan sekaligus edukatif.

Dalam pelaksanaannya, Rifai bersama anggota tim diantaranya Azzahra Fairuz Nibras Sayyidina, Salsabila Nasywa Ashila, Rahayu Aninditta Jati Maheswari, Silvia Nofianti, Najwa Annastya Pramesti, Yuli Pancawati, Adinda Putri Maharani, dan Faril Robi Ibnu Darussalam. Mereka menyusun peta tematik berbasis data lingkungan dan observasi lapangan. Peta tersebut kemudian diserahkan kepada masyarakat sebagai media edukasi berkelanjutan.
Melalui pemanfaatan edukasi berbasis peta, masyarakat tidak hanya menerima informasi satu arah, tetapi juga diajak memahami keterkaitan antara aktivitas manusia, kondisi alam, dan potensi risiko yang dapat muncul. Pendekatan ini sejalan dengan konsep community-based disaster risk reduction atau pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Mahasiswa berharap peta tematik yang dihasilkan dapat terus digunakan sebagai referensi dalam perencanaan lingkungan, kegiatan sosial, maupun edukasi generasi muda. Dengan demikian, kesadaran kebencanaan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi tumbuh menjadi budaya bersama.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat, membantu warga mengenali zona rawan dan aman, serta membangun kesiapsiagaan kolektif dalam menghadapi ancaman bencana alam. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi langkah nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap bencana.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga menghadirkan solusi edukatif yang aplikatif bagi masyarakat. Pemetaan tematik menjadi bukti bahwa pendekatan ilmiah dapat diterjemahkan secara sederhana untuk memperkuat ketahanan desa dalam menghadapi dinamika alam yang tidak dapat dihindari.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





