Cisimeut Raya, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) menggelar pelatihan pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun pepaya bagi petani di Desa Cisimeut Raya, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (31/1/2026). Program ini bertujuan memberikan alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh KKN UNS Kelompok 175 di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T.. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mahasiswa mengajak masyarakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal yang selama ini belum dimaksimalkan.
Ketua KKN Kelompok 175, Dadang Agus Prasetiyo dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, menjelaskan bahwa program ini lahir dari hasil observasi lapangan yang menunjukkan masih tingginya penggunaan pestisida kimia oleh petani setempat.
“Program ini berangkat dari realitas di lapangan, di mana sebagian besar petani masih mengandalkan pestisida kimia untuk mengendalikan hama. Penggunaan pestisida sintetis memang dinilai praktis dan cepat memberikan hasil, namun dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, lingkungan, serta kesuburan tanah,” ujarnya.
Menurut Dadang, residu bahan kimia yang tertinggal di tanah maupun air berpotensi mencemari lingkungan serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, mahasiswa KKN berupaya memperkenalkan solusi alternatif melalui pemanfaatan bahan alami yang tersedia di sekitar masyarakat.
Salah satu potensi yang cukup melimpah di Desa Cisimeut Raya adalah daun pepaya (Carica papaya L.). Tanaman ini mudah ditemukan di pekarangan rumah warga, namun pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada konsumsi rumah tangga.

Penanggung jawab program, Ranny Gracia T. Jitmau, menjelaskan bahwa daun pepaya sebenarnya memiliki kandungan senyawa alami yang efektif untuk membantu mengendalikan hama tanaman.
“Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung enzim papain, alkaloid karpain, flavonoid, saponin, dan tanin yang bersifat insektisida dan fungisida alami. Kandungan tersebut mampu mengganggu sistem pencernaan serta metabolisme serangga, sehingga efektif membantu mengendalikan hama tanaman tanpa meninggalkan residu berbahaya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penggunaan pestisida nabati tidak hanya lebih aman bagi lingkungan, tetapi juga dapat menekan biaya produksi pertanian karena bahan yang digunakan mudah ditemukan di sekitar rumah warga.
Pelatihan diawali dengan kegiatan observasi dan diskusi bersama petani mengenai jenis hama yang sering menyerang tanaman serta pola penggunaan pestisida yang selama ini dilakukan. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai permasalahan yang dihadapi petani dalam menjaga produktivitas tanaman.
Setelah itu, tim KKN melaksanakan sesi sosialisasi mengenai pestisida nabati yang meliputi pengertian, manfaat, serta perbandingan dampak antara pestisida kimia dan pestisida berbahan alami. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh peserta, terutama para petani yang menjadi sasaran utama kegiatan.
Sebagai pendukung materi, mahasiswa juga membagikan brosur panduan sederhana yang berisi langkah-langkah pembuatan pestisida nabati dari daun pepaya. Brosur tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat ketika ingin mempraktikkan kembali proses pembuatan secara mandiri di rumah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penayangan video tutorial pembuatan pestisida nabati sebagai panduan visual bagi para peserta. Dalam video tersebut dijelaskan secara rinci tahapan pembuatan larutan pestisida alami yang dapat diaplikasikan pada tanaman sayur maupun tanaman hortikultura.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida nabati ini tergolong sederhana, yakni 5 hingga 10 lembar daun pepaya, 2–3 siung bawang putih sebagai tambahan antibakteri alami (opsional), serta air secukupnya.

Proses pembuatannya dimulai dengan mencuci bersih daun pepaya, kemudian memotongnya menjadi bagian kecil. Daun tersebut lalu diblender bersama bawang putih dan air hingga halus. Campuran yang dihasilkan kemudian disaring untuk memperoleh ekstraknya sebelum dimasukkan ke dalam botol semprot.
Larutan pestisida nabati yang telah dibuat selanjutnya didiamkan selama 12 hingga 24 jam agar proses ekstraksi berjalan lebih optimal. Setelah itu, larutan dapat langsung digunakan untuk menyemprot tanaman yang terserang hama.
Sebagai bagian dari praktik langsung, hasil pestisida yang telah dibuat dalam pelatihan tersebut kemudian dibagikan kepada para peserta untuk diaplikasikan pada tanaman sayur dan hortikultura di lahan masing-masing.
Melalui program ini, mahasiswa berharap para petani di Desa Cisimeut Raya dapat mulai mempertimbangkan penggunaan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain membantu menjaga kesehatan tanah, metode ini juga berpotensi mengurangi biaya produksi pertanian.
Program pelatihan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger, yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan melalui praktik pertanian berkelanjutan. Penggunaan pestisida nabati diharapkan dapat mendukung sistem pertanian yang lebih sehat sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 12: Responsible Consumption and Production, yaitu mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara bijak dan berkelanjutan.
Kegiatan yang melibatkan mahasiswa lintas program studi ini menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat desa. Dalam pelaksanaannya, tim KKN UNS Kelompok 175 terdiri dari Raysya Alicia, Aqiela Nasywa Hayuni, Salsabila Sifa Azzahro, Kezia Nian Kharisma Hutagalung, Abdullah Farras Mahdi, Dadang Agus Prasetiyo, Sayyidah Syarifatul A’ala, Muhammad Harits Abyan Darwien, Sarah Albelita Purba, Avia Mahotami, Sri Oktaviana br Barus, Wildan Fatoni, Wakhid Bagas Rohmadi, Alyana Zahrani Aribah, Malikasari, Devon Jehuda Carmelion Sitorus, Zahra Nandara Agatha, Amara Azhzahra Pratiwi, Muhammad Faiz Abdurrahman, Anissa Aprilia Rizky, Rahma Laila Tasyrika, Ranny Gracia T. Jitmau, Vista Khoirunnisa Nur Hidayah, Eva Nur Safitri, serta Izzuddin Abdurrahman Alghiffari.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat Desa Cisimeut Raya semakin menyadari bahwa solusi pertanian yang efektif tidak selalu harus bergantung pada bahan kimia. Pemanfaatan potensi lokal yang sederhana, seperti daun pepaya, dapat menjadi langkah kecil namun berdampak besar dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan menjaga kelestarian lingkungan.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





