Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Vertikultur Karpet, Optimalkan Pekarangan Sempit di Dusun Babadan

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 87 berfoto bersama warga usai sosialisasi dan praktik pembuatan vertikultur karpet di RT 1 RW 3 Dusun Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (31/1/2026). Program ini mendorong pemanfaatan pekarangan sempit untuk menanam seledri dan selada guna mendukung ketahanan pangan keluarga. (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 87 berfoto bersama warga usai sosialisasi dan praktik pembuatan vertikultur karpet di RT 1 RW 3 Dusun Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (31/1/2026). Program ini mendorong pemanfaatan pekarangan sempit untuk menanam seledri dan selada guna mendukung ketahanan pangan keluarga. (doc. pribadi)

Kalang, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 87 menggelar sosialisasi dan praktik pembuatan vertikultur karpet di RT 1 RW 3 Dusun Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini diikuti 30 ibu rumah tangga dan mendapat respon positif dari pemerintah desa setempat.

Ketua KKN Kelompok 87 dari Program Studi Agroteknologi, Billy Achmad Naufal, menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh kondisi pekarangan warga yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Bacaan Lainnya

“Sebagian lahan pekarangan belum dimanfaatkan secara maksimal dan lebih banyak dibiarkan kosong atau digunakan untuk keperluan lain yang kurang produktif. Padahal, lahan tersebut berpotensi menjadi sumber pangan keluarga,” ujarnya.

Menurut dia, keterbatasan lahan di lingkungan RT 1 RW 3 membuat warga kesulitan menerapkan sistem tanam konvensional yang membutuhkan area lebih luas. Karena itu, tim KKN menawarkan solusi sederhana berupa vertikultur karpet.

“Vertikultur karpet kami pilih karena praktis, hemat tempat, murah, dan mudah diterapkan di lingkungan rumah dengan lahan terbatas, khususnya bagi ibu rumah tangga,” katanya.

Billy menambahkan, tujuan jangka pendek dari program ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan sempit secara produktif. Sementara dalam jangka panjang, diharapkan masyarakat mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan sehat secara mandiri.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan berlangsung lancar dengan partisipasi aktif 30 peserta. Pemerintah desa pun memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut.

“Respon pemerintah desa sangat positif. Mereka memberikan dukungan moral, izin pelaksanaan, serta membantu sosialisasi agar lebih banyak warga terlibat,” jelasnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Program dari Prodi Agroteknologi, Chrisella Glory Susanto, memaparkan bahwa vertikultur merupakan metode bercocok tanam dengan memanfaatkan ruang secara vertikal.

“Vertikultur adalah metode bercocok tanam yang memanfaatkan ruang secara vertikal, di mana tanaman ditanam pada media yang digantung, disusun bertingkat, atau ditempatkan di dinding. Karpet dipilih sebagai media karena mampu menyerap dan menahan air dengan baik, mudah diperoleh, serta murah,” terangnya.

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 87 mempraktikkan pembuatan vertikultur karpet bersama warga di RT 1 RW 3 Dusun Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (31/1/2026). (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 87 mempraktikkan pembuatan vertikultur karpet bersama warga di RT 1 RW 3 Dusun Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (31/1/2026). (doc. pribadi)

Untuk membuat satu unit vertikultur karpet, warga hanya membutuhkan biaya sekitar Rp40.000. Bahan yang digunakan pun sederhana, yakni karpet bekas, benih tanaman, serta media tanam berupa campuran tanah dan pupuk.

“Semua bahan mudah diperoleh warga karena sederhana dan tersedia di lingkungan sekitar,” tambahnya.

Adapun tanaman yang dipilih dalam praktik kali ini adalah seledri dan selada. Pemilihan tersebut bukan tanpa alasan.

“Seledri dan selada memiliki akar yang relatif pendek dan tidak membutuhkan media tanam terlalu dalam, sehingga cocok ditanam pada kantong-kantong vertikultur karpet yang ruangnya terbatas. Selain itu, keduanya memiliki nilai konsumsi tinggi dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Chrisella.

Ia menyebutkan, tingkat keberhasilan tanaman seledri dan selada dengan metode ini relatif tinggi. Kedua tanaman tersebut mudah beradaptasi dengan media terbatas serta memiliki perawatan sederhana.

Perawatan dilakukan melalui penyiraman rutin, pemupukan berkala, pencahayaan cukup, pemangkasan daun rusak, serta pengendalian hama secara teratur agar hasil panen optimal.

Menariknya, kegiatan praktik bersama 30 ibu rumah tangga berlangsung tanpa kendala berarti. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan.

Warga menunjukan hasil vertikultur karpet yang telah mereka buat. (doc. pribadi)
Warga menunjukan hasil vertikultur karpet yang telah mereka buat. (doc. pribadi)

Sriyatun, salah satu peserta mengaku terkesan dengan kemudahan metode yang diperkenalkan mahasiswa KKN.

“Gak nyangka ternyata bikin vertikultur karpet itu gampang banget. Bahannya mudah dicari, dan bisa diterapkan di pekarangan rumah yang sempit. Rasanya puas banget bisa langsung praktek dan lihat hasilnya nanti,” ujarnya.

Program vertikultur karpet ini dirancang agar dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Metode yang diperkenalkan dibuat sesederhana mungkin, sehingga warga dapat mempraktikkannya kembali di rumah dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Dengan konsep yang praktis dan aplikatif, diharapkan inovasi ini dapat terus dikembangkan secara swadaya oleh warga sesuai kebutuhan masing-masing.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian mahasiswa KKN UNS Kelompok 87 yang berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Agus Supriyanto, S.Si., M.Si. Selain Billy dan Chrisella, program ini turut melibatkan sejumlah mahasiswa lain dalam tim, yakni Fadila Ratri Anindya, Ghina Qolbi, Jasmine Mutiara Bintang, Muhammad Fadhil Alviansyah Bahtiar, Muhammad Maulana Ihsanudina, Shofwatinnada Rahmawati Putri, Tika Dwi Bakti, dan Vira Aulia Uthma.

Melalui inovasi sederhana ini, mahasiswa berharap masyarakat Dusun Babadan dapat mengoptimalkan lahan pekarangan yang terbatas menjadi sumber pangan sehat dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga dari lingkungan rumah sendiri.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *