Lebak, Krajan.id – Upaya menjaga kelestarian alam di kawasan wisata Baduy dilakukan melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 175 dan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA). Bersama masyarakat adat Baduy, para mahasiswa menginisiasi program peningkatan kesadaran lingkungan bagi wisatawan melalui sistem pemilahan sampah berbasis kearifan lokal.
Program bertajuk Sinergi Tradisi dan Konservasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab di wilayah tanah ulayat Baduy, Kabupaten Lebak, Banten. Inisiatif tersebut muncul sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan adat Baduy, yang secara tidak langsung berdampak pada peningkatan volume sampah di jalur wisata.
Ketua KKN UNS Kelompok 175, Dadang Agus Prasetiyo dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membangun kesadaran kolektif antara wisatawan, masyarakat, dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan adat.
Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T. serta melibatkan mahasiswa lintas program studi yang tergabung dalam KKN UNS Kelompok 175, di antaranya Raysya Alicia, Aqiela Nasywa Hayuni, Salsabila Sifa Azzahro, Kezia Nian Kharisma Hutagalung, Abdullah Farras Mahdi, Sayyidah Syarifatul A’ala, Muhammad Harits Abyan Darwien, Sarah Albelita Purba, Avia Mahotami, Sri Oktaviana br Barus, Wildan Fatoni, Wakhid Bagas Rohmadi, Alyana Zahrani Aribah, Malikasari, Devon Jehuda Carmelion Sitorus, Zahra Nandara Agatha, Amara Azhzahra Pratiwi, Muhammad Faiz Abdurrahman, Anissa Aprilia Rizky, Rahma Laila Tasyrika, Ranny Gracia T. Jitmau, Vista Khoirunnisa Nur Hidayah, Eva Nur Safitri, serta Izzuddin Abdurrahman Alghiffari.
Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap sejak (24/1/2026). Tahap pertama diawali dengan observasi lapangan untuk mengidentifikasi titik-titik penumpukan sampah di sepanjang jalur wisata menuju kawasan Baduy. Selain melakukan pemetaan lokasi, mahasiswa juga berdiskusi langsung dengan tokoh masyarakat adat guna memastikan bahwa solusi yang dihadirkan tetap selaras dengan nilai budaya dan aturan adat setempat.
Hasil diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa sarana pengelolaan sampah harus menggunakan material yang tidak merusak estetika alam serta tetap menghormati kearifan lokal masyarakat Baduy. Oleh karena itu, bambu dipilih sebagai bahan utama dalam pembuatan wadah pemilahan sampah karena bersifat ramah lingkungan dan mudah terurai.

Memasuki tahap kedua pada (25/1/2026), para mahasiswa mulai memproduksi wadah pemilahan sampah dengan teknik anyaman bambu tradisional. Dalam proses ini, mahasiswa belajar langsung dari masyarakat Baduy mengenai teknik membelah, merangkai, dan menganyam bambu hingga menjadi wadah sampah yang kokoh serta fungsional.
Penanggung jawab program, Sarah Albelita Purba, menjelaskan bahwa penggunaan bambu bukan sekadar pilihan material, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap filosofi hidup masyarakat Baduy yang menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam.
“Program ini berangkat dari meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Baduy yang secara tidak langsung berdampak pada peningkatan volume sampah. Oleh karena itu diperlukan solusi yang tidak hanya praktis tetapi juga selaras dengan kearifan lokal dan prinsip pelestarian alam,” ujar Sarah.
Ia menambahkan bahwa bambu dipilih karena merupakan material alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar serta mencerminkan nilai kesederhanaan dan keberlanjutan yang selama ini dijaga oleh masyarakat Baduy.

Tahap ketiga dilaksanakan pada (27/1/2026) dengan pemasangan wadah pemilahan sampah di sejumlah titik strategis sepanjang jalur wisata. Wadah tersebut dilengkapi dengan penanda edukatif yang mengarahkan wisatawan untuk memilah sampah organik dan anorganik.
Langkah ini diharapkan mampu meminimalisir pembuangan sampah sembarangan yang dapat mengancam ekosistem hutan serta daerah aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Baduy.
Selain menyediakan fasilitas fisik, program ini juga bertujuan menumbuhkan kesadaran wisatawan untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan selama berkunjung ke kawasan adat. Edukasi dilakukan melalui pendekatan persuasif yang mengajak pengunjung memahami nilai-nilai konservasi yang dijunjung oleh masyarakat Baduy.
Kolaborasi antara mahasiswa UNS, mahasiswa UNTIRTA, dan masyarakat adat Baduy menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan melalui sinergi berbagai pihak. Pendekatan yang menggabungkan teknologi sederhana, edukasi, serta kearifan lokal menjadi strategi yang dinilai efektif dalam menjaga kelestarian kawasan wisata alam.
Program ini juga sejalan dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 (Responsible Consumption and Production) yang mendorong pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 15 (Life on Land) yang menekankan pentingnya perlindungan ekosistem daratan.
Dengan adanya sarana pemilahan sampah berbasis bambu ini, mahasiswa berharap wisatawan dapat lebih sadar terhadap dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan. Selain itu, keberadaan fasilitas tersebut juga diharapkan mampu mendukung upaya masyarakat Baduy dalam menjaga kebersihan wilayah adat mereka.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai pengelolaan lingkungan, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan keharmonisan dengan alam.
Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat adat menjadi bukti bahwa upaya menjaga kelestarian alam membutuhkan kerja sama lintas generasi dan lintas institusi. Dari sebuah anyaman bambu sederhana, lahir pesan besar tentang pentingnya menjaga bumi agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





