Banyusidi, Krajan.id – Mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menginisiasi penguatan UMKM lokal melalui inovasi produk sambal siap santap di Dusun Dakawu, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (29/1/2026) pukul 14.30 WIB.
Program ini dirancang sebagai respon atas melimpahnya hasil panen cabai di Dusun Dakawu yang kerap mengalami penurunan harga saat musim panen raya. Melalui inovasi pengolahan dan pengemasan, mahasiswa berupaya meningkatkan nilai tambah produk pertanian warga agar memiliki daya saing lebih tinggi.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMBY, Ridho Alfattah, mengatakan potensi pertanian di Dusun Dakawu cukup besar, namun belum dioptimalkan melalui diversifikasi produk.
“Kami melihat potensi hasil tani di Dusun Dakawu sangat melimpah, tetapi nilai jualnya sering jatuh saat panen raya. Melalui inovasi sambal siap santap ini, kami ingin memberikan nilai tambah. Fokus kami bukan hanya pada cara memasak, tetapi juga standarisasi pengolahan agar produk memiliki masa simpan lebih lama dan tampilan profesional sehingga layak masuk pasar modern,” ujar Ridho.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai teknik pengolahan pangan higienis dan standar keamanan produk. Mahasiswa menekankan pentingnya proses produksi yang bersih, penggunaan bahan alami tanpa pengawet buatan, serta teknik pengemasan yang tepat untuk menjaga kualitas rasa.
Produk yang dikembangkan diberi nama “Sambal Dakawu”, sebagai identitas lokal yang diharapkan mampu memperkuat citra dusun. Konsep produksi dilakukan dalam skala kecil (small batch) untuk menjaga konsistensi rasa sekaligus mempertahankan karakter khas sambal rumahan.
Selain aspek produksi, mahasiswa juga memberikan pendampingan terkait strategi branding dan pemasaran digital. Warga diajarkan cara membuat akun media sosial usaha, teknik dasar fotografi produk, hingga pemanfaatan platform marketplace seperti Shopee dan Instagram.
Ibu Tasmi, salah satu perwakilan warga Dusun Dakawu, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, selama ini hasil panen cabai hanya dijual dalam bentuk mentah atau diolah untuk konsumsi keluarga.
“Kehadiran mahasiswa UMBY memberikan kami ilmu baru, mulai dari cara pengemasan yang menarik hingga pemasaran lewat internet. Sekarang kami punya produk unggulan yang bisa dibanggakan dari dusun kami,” ujarnya.

Diskusi berlangsung interaktif. Mayoritas peserta yang merupakan pelaku UMKM rumahan menanyakan solusi terkait daya tahan produk serta cara memperluas jangkauan pasar. Mahasiswa menjelaskan teknik sterilisasi kemasan dan metode penyegelan (sealing) untuk memperpanjang masa simpan tanpa tambahan bahan kimia.
Salah satu warga, Bu Lina, mengaku baru mengetahui teknik pengemasan modern tersebut.
“Dulu kami hanya membuat sambal untuk dimakan hari itu juga. Sekarang saya tahu ada teknik seal kemasan dan sterilisasi supaya sambal tidak cepat basi tanpa bahan kimia. Ini sangat bermanfaat untuk usaha rumahan,” katanya.
Hal senada disampaikan Ibu Salma yang tertarik pada aspek pemasaran digital. Ia mengaku sebelumnya belum memahami cara menjual produk secara daring.
“Awalnya saya bingung bagaimana menjual produk ke luar desa. Setelah diajarkan membuat akun media sosial dan memotret produk dengan baik, saya jadi optimistis. Ternyata sambal dari dusun pun bisa dikenal luas kalau dikemas dan dipasarkan dengan benar,” ujarnya.
Program ini juga mendorong terbentuknya rantai pasok lokal yang lebih terintegrasi. Mahasiswa memfasilitasi kerja sama antara petani cabai sebagai pemasok bahan baku dan pelaku UMKM sebagai pengolah produk. Skema ini diharapkan mampu membantu menjaga stabilitas harga cabai di tingkat petani.
Ibu Irul, tokoh masyarakat setempat, menilai inovasi ini menjadi solusi atas persoalan harga cabai yang fluktuatif.
“Saat harga cabai murah, kami sering merugi. Dengan diolah menjadi sambal kemasan, hasil panen tidak terbuang dan justru memberi nilai lebih,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut melibatkan tiga unsur utama desa: petani sebagai penyedia bahan baku, pelaku UMKM sebagai produsen, dan mahasiswa sebagai fasilitator inovasi serta pemasaran. Model ini diharapkan dapat membentuk ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan.
Mahasiswa UMBY berharap program ini tidak berhenti pada tahap pelatihan, melainkan berlanjut pada produksi dan pemasaran secara konsisten. Dengan bekal pengetahuan tentang produksi higienis, pengemasan modern, dan pemasaran digital, warga Dusun Dakawu diharapkan mampu mengembangkan Sambal Dakawu sebagai produk unggulan Desa Banyusidi.
Inisiatif ini menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi pedesaan, khususnya melalui inovasi produk berbasis potensi lokal.
Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya





