Sinergi Gotong Royong: Mahasiswa KKN UNS-UNTIRTA Bersama Masyarakat Baduy Menjaga Keselamatan Jalur Akses Desa

Dokumentasi bersama setelah pembangunan pegangan tangga bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)
Dokumentasi bersama setelah pembangunan pegangan tangga bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)

Kanekes, Krajan.id – Kolaborasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) bersama masyarakat adat Baduy diwujudkan melalui pembangunan pegangan tangga bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Program ini bertujuan meningkatkan keselamatan warga yang melintasi jalan setapak curam dan licin, terutama saat musim hujan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UNS Kelompok 175 bersama Kelompok 1 KKM UNTIRTA dengan menggandeng masyarakat setempat dalam semangat gotong royong. Pembangunan pegangan tangga dilakukan di dua titik jalur desa yang memiliki tingkat kemiringan cukup tinggi dan kerap menjadi jalur aktivitas warga sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Ketua KKN UNS Kelompok 175, Dadang Agus Prasetiyo dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, menjelaskan bahwa program ini lahir dari hasil pengamatan langsung terhadap kondisi akses desa yang masih sangat alami dan minim fasilitas keselamatan.

“Program ini kami rancang setelah melakukan observasi lapangan dan melihat bahwa beberapa jalur desa memiliki kemiringan cukup curam serta licin ketika hujan. Oleh karena itu, pembangunan pegangan tangga bambu menjadi langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan keselamatan masyarakat yang melintas,” ujarnya.

Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T., serta melibatkan puluhan mahasiswa lintas disiplin dalam tim KKN UNS. Mereka antara lain Raysya Alicia, Aqiela Nasywa Hayuni, Salsabila Sifa Azzahro, Kezia Nian Kharisma Hutagalung, Abdullah Farras Mahdi, Sayyidah Syarifatul A’ala, Muhammad Harits Abyan Darwien, Sarah Albelita Purba, Avia Mahotami, Sri Oktaviana br Barus, Wildan Fatoni, Wakhid Bagas Rohmadi, Alyana Zahrani Aribah, Malikasari, Devon Jehuda Carmelion Sitorus, Zahra Nandara Agatha, Amara Azhzahra Pratiwi, Muhammad Faiz Abdurrahman, Anissa Aprilia Rizky, Rahma Laila Tasyrika, Ranny Gracia T. Jitmau, Vista Khoirunnisa Nur Hidayah, Eva Nur Safitri, serta Izzuddin Abdurrahman Alghiffari.

Sebelum pelaksanaan pembangunan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan tokoh adat setempat, Jaro Oom. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan yang dilaksanakan tetap selaras dengan aturan adat serta menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi prinsip hidup masyarakat Baduy.

Mahasiswa KKN bersama warga masyarakat Baduy bergotong royong memasang pegangan tangga dari bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN bersama warga masyarakat Baduy bergotong royong memasang pegangan tangga dari bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)

Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa material yang digunakan harus berasal dari bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Bambu kemudian dipilih sebagai material utama karena dianggap paling sesuai dengan karakter lingkungan serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai adat setempat.

Penanggung jawab program, Abdullah Farras Mahdi, menjelaskan bahwa penggunaan bambu juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kemudahan akses material bagi masyarakat.

“Material bambu dipilih karena mudah diperoleh di lingkungan sekitar, kuat, fleksibel, serta tetap selaras dengan prinsip kearifan lokal masyarakat Baduy yang menjaga keseimbangan alam,” kata Abdullah.

Setelah proses koordinasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan bambu dari kebun warga secara terbatas dan sesuai kebutuhan. Mahasiswa bersama masyarakat kemudian bergotong royong mengangkut bambu menuju lokasi pemasangan pegangan tangga.

Tahapan pembangunan dilakukan secara manual, dimulai dari pemotongan bambu, penghalusan permukaan, hingga proses perakitan di lokasi jalur yang akan dipasangi pegangan. Tiang penopang ditanam dengan kokoh mengikuti kontur jalan setapak agar struktur pegangan tangga mampu menopang beban pengguna jalan.

Seluruh proses pengerjaan dilakukan dengan tetap mengikuti nilai dan tradisi masyarakat Baduy yang mengutamakan keselarasan dengan alam. Tidak ada penggunaan alat berat maupun material modern dalam pembangunan tersebut.

Partisipasi aktif masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program ini. Warga tidak hanya membantu dalam proses pengerjaan fisik, tetapi juga memberikan arahan teknis berdasarkan pengalaman mereka dalam membangun struktur sederhana berbahan alami.

Mahasiswa KKN bersama warga masyarakat Baduy bergotong royong memasang pegangan tangga dari bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN bersama warga masyarakat Baduy bergotong royong memasang pegangan tangga dari bambu di jalur akses Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. (doc. pribadi)

Bagi para mahasiswa, keterlibatan langsung dalam kegiatan ini memberikan pengalaman berharga mengenai teknik konstruksi tradisional sekaligus memperkaya pemahaman mereka terhadap kearifan lokal masyarakat adat.

Keberadaan pegangan tangga bambu ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melintasi jalur desa setiap hari. Terlebih bagi warga lanjut usia maupun anak-anak yang sering menggunakan jalan setapak tersebut untuk beraktivitas.

Selain meningkatkan aspek keselamatan, program ini juga menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa gagasan pembangunan fasilitas sederhana, tetapi juga membangun hubungan sosial yang lebih erat dengan masyarakat adat.

Program ini juga sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan keamanan aktivitas masyarakat, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dengan penyediaan akses infrastruktur sederhana yang aman, serta SDG 15: Ekosistem Daratan karena penggunaan material bambu yang ramah lingkungan dan tidak merusak keseimbangan alam.

Melalui kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat Baduy, pembangunan fasilitas sederhana ini menjadi simbol sinergi gotong royong yang tetap menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian alam.

Langkah kecil dari batang-batang bambu tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Kanekes sekaligus menjaga warisan budaya dan lingkungan masyarakat Baduy agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *